Pagi itu matahari terbit begitu hangat dan sempurna, seolah-olah dunia tidak tahu bahwa baru saja ada yang menghilang semalam. Di layar ponselku menunjukkan pukul 06.00, tapi tak ada satu pun notifikasi yang menunggu. Biasanya, jam segini sudah ada pesan singkat darinya-entah sekedar mengingatkanku untuk minum air putih atau celotehan absurd tentang mimpinya semalam. Kini, ruang obrolan itu membisu, menyisakan deretan pesan terakhir yang menandai akhir dari segalanya.
Cahaya emas manembus celah gorden, menimpa separuh kasur yang kini terasa terlalu luas dan dingin. Aku menatap langit-langit kamar dengan dada yang berongga. Tidak ada air mata,tidak ada teriakan. Hanya keheningan menakutkan yang menyerap seluruh udara di ruangan ini, memberitahuku bahwa mulai hari ini aku harus belajar bernapas sendirian.
Aku memaksa tubuhku untuk duduk di tepi ranjang. Kakiku menyentuh lantai keramik yang dingin, mengirimkan sensasi ganjil yang gagal membangunkan jiwaku. Disudut meja, dua cangkir kopi yang kemarin kami gunakan masih berdiri berdampingan. Satu sudah bersih, sementara yang satu lagi-miliknya-masih menyisakan noda samar di bibir cangkir.
Lucu sekali bagaimana barang - barang mati di ruangan ini tetap bertahan di tempatnya, sementara orang yang meletakannya di sana sudah berjalan jauh tanpa berniat untuk kembali. Aku meraih jaket yang tergeletak di kursi, membenamkan wajahku di sana sebentar, mencari aroma vanila yang biasanya menenangkan. Tapi yang tersisa hanyalah bau udara basah dan kekosongan.
Hari ini baru saja dimulai, dan aku sudah tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.
Drt....drt....
ponselku bergetar di atas meja di samping ku, aku ragu yang meneleponnya adalah seseorang yang hari ini meninggalkan ku. Aku mendiamkan telfon tersebut hingga ponselku bergetar terus, tak punya jalan lain aku melihat layar ponselku.
'oh tidak' gumamku
'ah aku mati hari ini'
tak di sangka yang menelfon sedari tadi adalah ibundanya, sudah 5 kali ibu nya menelfonnya.
Aku langsung menjawab telfon itu takut sang ibu lebih marah.
"..."'axel
"..."'kenapa ibu?
"..."' kenapa telfon ibu tidak di jawab?
"..."' maaf bu tadi axel ada di kamar mandi
(jawab bohongnya)
"..."' syukurlah ibu khawatir sama kmu nak
"..."' maafkan aku ibu
"..."' yasuda ibu maafin kmu, ibu sudah minta aren buat nganter makanan ke kosan kmu
"..."' oh iya bu makasi
"..."' yasuda ibu tutup telponnya ya jangan lupa di makan
"..."' iya ibu
Tut..Tut...
'huh untung gak marah, coba aja marah bisa kena
omel habis habisan'
5 menit telah berlalu Axel menunggu makanan yang di bawa oleh kakaknya Aren di meja makan.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar di telinga kanannya.
"dek, ini abang"
Axel langsung berdiri dari kursinya, ia berjalan menuju pintu. Axel membukakan pintu dan melihat wajah sang kakak Aren wijayana suprama, sang kakak langsung menyodorkan kresek putih yang ia pegang sedari tadi.
"nih dari ibu jangan lupa di makan"
Axel mengangguk mengerti dan mengambil kresek yang ada di genggaman tangan kakaknya.
"makasi bang, btw ga kuliah?"
Aren menghela nafas
"engga, abang libur"
Axel mengangguk paham.
"abang mau masuk dulu?"
"ngga, abang ada keperluan"
"yauda bang makasi ya"
Aren mengangguk ia langsung membalikan badannya dan pergi menuju motornya yang terparkir di depan rumah sang adik.
Axel melihat kakanya menuju motor, ia langsung menutup pintu dengan pelan dan langsung menaruh makanan yang kakak nya kasih.
to be continued....
YOU ARE READING
If We Meet Again
General Fiction"Beberapa orang bilang, waktu bisa menyembuhkan segalanya. Tapi mereka lupa memberitahu bahwa ada luka yang sengaja kita pelihara agar kita tidak lupa pernah sangat bahagia." Axel Axelova
