Rahasia di Balik Kebun Tebu

20 0 0
                                        

🌾🌾

Di Desa Sukamaju, nama Sumiyati gadis desa berusia 19 tahun adalah definisi dari menantu idaman semua orang tua.

Wajahnya yang ayu khas Jawa, mata teduh dengan bulu mata lentik, rambut hitam panjang yang selalu dikepang rapi, senyumnya santun dan menenangkan.

Sifatnya yang Sopan, bertutur kata lembut, rajin membantu orang tuanya di sawah, sangat menghargai pendidikan, dan cerdas.

Akan tetapi di balik pakaian tertutup dan sikap santunnya, ia memiliki sisi liar, berani, dan gairah tersembunyi yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun di desa.

Bagi Sumiyati, pendidikan adalah jalan utama untuk mengangkat derajat keluarganya yang hanya buruh tani miskin. Di siang hari, ia adalah mahasiswi beasiswa di universitas daerah yang selalu duduk di barisan depan, mencatat setiap materi kuliah dengan tekun. Sore harinya, dengan kebaya lurik dan kain jarik yang membungkus sopan tubuh rampingnya, ia akan membantu ayahnya menyiangi rumput di sawah. Siapa pun yang berpapasan dengannya akan disambut dengan bungkukan hormat dan sapaan lembut, "Sugeng sore, Bude," atau "Monggo, Pak."

Namun, Sumiyati adalah sebuah anomali. Di balik kepang rambutnya yang rapi, ada jiwa yang haus akan kebebasan ekstrem. Ketika malam merayap dan seluruh desa tertidur lelap, Sumiyati kerap melepas kain jariknya, membiarkan rambut panjangnya terurai diterpa angin malam, dan menyelinap keluar lewat jendela kamar kayu miliknya.

Keliaran ini adalah candu terbesarnya-sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat di bawah bantal tidurnya.

Sampai akhirnya, keliaran itu menemukan pasangannya pada sosok Amri. Pemuda tampan berusia 24 tahun, dengan potongan rambut rapi, kulit bersih, selalu mengendarai motor sport merah yang mencolok di jalanan desa.
Tetapi dia mempunyai sifat sombong, manipulatif, pandai bersandiwara, dan merasa bisa memiliki apa saja karena status sosialnya. Itu dikarenakan dia adalah anak tunggal Pak Camat yang sangat disegani di wilayah tersebut.

Asmara mereka bermula dari perpustakaan daerah, tempat di mana Sumiyati sering menghabiskan waktu untuk belajar. Amri yang terbiasa melihat gadis-gadis kota yang agresif, mendadak terpikat oleh ketenangan dan kesopanan Sumiyati yang tampak murni.

Namun, Amri tidak tahu bahwa umpan yang ia tebar justru disambut oleh sisi lain Sumiyati yang haus akan tantangan.

Hubungan mereka berjalan secara rahasia selama tiga bulan. Di depan publik atau saat Amri berkunjung formal ke rumah bambu orang tua Sumiyati, Amri bersikap layaknya pemuda terhormat yang sangat menghormati Sumiyati.

Ayah Sumiyati yang bertubuh ringkih sering tersenyum bangga, berharap anak camat itu bisa membawa putrinya keluar dari kemiskinan.

Namun, di belakang semua orang, dinamika hubungan mereka sangat berbeda. Sumiyati tidak pernah menolak ketika Amri mengajaknya bertemu di sebuah gubuk tua di tengah perkebunan tebu yang lebat saat larut malam.

Di dalam gubuk yang hanya diterangi seberkas cahaya bulan dari celah atap, Sumiyati yang santun berubah total. Sisi liarnya bangkit, menuntut, dan penuh gairah yang membuat Amri yang semula mengira dirinya adalah sang penakluk, justru bertekuk lutut di bawah pesona sensual gadis desa tersebut.

Kelenturan tubuhnya yang biasa digunakan untuk mencangkul di sawah, kini menjadi tarian gairah yang memabukkan di atas dipan bambu yang berderit.

"Kau berbeda, Sum. Sangat berbeda," bisik Amri malam itu, napasnya memburu setelah mereka tenggelam dalam keintiman yang panas.

Tangannya mengusap pipi ayu Sumiyati yang berkeringat.

"Aku berjanji, setelah aku menyelesaikan kuliahku tahun depan, aku akan meminta ayahku untuk melamarmu. Kita akan pindah ke kota."

Sumiyati menatap mata Amri, mencari kebenaran di sana. Sisi cerdasnya tahu ada risiko besar, namun sisi liarnya menolak untuk peduli. Ia membiarkan Amri mencicipi seluruh keindahan tubuhnya, mengira bahwa untaian janji manis itu adalah jaminan atas masa depannya.

Satu bulan setelah malam terpanas di perkebunan tebu, desas-desus mulai berembus di kantor kecamatan. Ayah Amri, sang Camat yang angkuh, telah menjodohkan Amri dengan anak seorang kepala dinas di kota kabupaten demi memuluskan karir politik keluarga mereka.

Sumiyati yang mendengar kabar itu mencoba menghubungi Amri, namun nomor pemuda itu mendadak tidak aktif. Rumah dinas camat yang biasanya terbuka kini dijaga ketat oleh petugas Satpol PP, menolak siapa pun warga desa biasa yang ingin bertamu tanpa urusan dinas.

Sore itu, hujan turun rintik-rintik saat Sumiyati nekat menghadang motor sport merah Amri di jalanan sepi perbatasan desa. Amri mengerem mendadak, wajah tampannya tampak kesal, tidak ada lagi tatapan penuh damba seperti saat mereka berada di gubuk tebu.

"Amri, tolong jelaskan padaku. Apa arti berita perjodohan itu?" tanya Sumiyati, suaranya tetap berusaha sopan meski dadanya bergemuruh hebat.

Amri tidak turun dari motornya. Ia hanya menaikkan kaca helmnya setengah, menatap Sumiyati dengan pandangan dingin dan merendahkan.

"Sudahlah, Sum. Jangan naif," ucap Amri dengan nada meremehkan.

"Kau itu pintar, harusnya kau bisa berpikir logis. Aku ini anak camat, masa depanku ada di kota. Mana mungkin ayahku mengizinkan aku menikah dengan anak buruh tani miskin sepertimu?"

Sumiyati membeku, dadanya terasa seperti dihantam batu besar. "Tapi janji-janjimu... malam-malam yang kita lewati..."

Amri terkekeh sinis, sebuah tawa yang mematikan seluruh rasa hormat Sumiyati pada pria itu.

"Malam-malam itu hanya hiburan, Sum. Kau sendiri yang mau menyerahkan tubuhmu, bukan? Lagipula, kau tidak se-polos penampakanmu di desa. Gadis desa yang baik-baik tidak akan seliar dirimu di atas dipan. Anggap saja itu pengalaman yang menyenangkan bagi kita berdua. Sekarang menjauhlah dari jalanku, calon istriku akan datang dari kota malam ini."

Amri menarik gas motornya dalam-dalam, melesat pergi meninggalkan Sumiyati yang berdiri mematung di tengah gerimis hujan.

Air mata Sumiyati menetes, bukan karena sedih, melainkan karena amarah murni yang membakar jiwanya. Sisi santunnya baru saja dihancurkan oleh pengkhianatan, namun sisi liarnya yang cerdas kini mulai bangkit, menuntut sebuah pembalasan dendam yang tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga sang camat.

Tes ombak...
ini cerita udah lama ada di draft...

Kepang Rapi di Atas TiangStories to obsess over. Discover now