"Bukan kalau cinta harusnya mau untuk berkorban?"
Rhea yang baru jadi anak broken home bertemu Wira si Ketua OSIS tersohor di SMA. Akibat kepopuleran Rhea di dunia maya, namanya pun jadi trending topics dengan cepat di sekolah barunya. Tentu saja sa...
Gue buru-buru ambil selembar lima puluh ribu itu dari tangan cewek berseragam putih biru di depan gue sebelum dia menawar harga untuk joki tugas lagi. Lima puluh ribu untuk satu puisi dadakan, sih, gak kemahalan sebenarnya. Tapi, reputasi gue yang jadi ancamannya. Semenjak video gue baca cerpen itu trending dan banyak yang minta lanjutannya, tiba-tiba channel YouTube gue dapet subscribers cukup banyak. Sekarang udah 20,000 orang yang berlangganan. Kata Kala, sepupu gue yang pinjemin gue laptopnya buat bikin semua video itu, gue bisa dapet uang lebih banyak kalo makin sering upload video.
Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.
Sebenarnya udah ada sih beberapa brand yang ngajak endorsement, tapi gue butuh uang yang jelas buat satu miliyar pertama gue. Jadi usaha joki tugas Bahasa Indonesia ini masih terus gue geluti walau makin susah untuk tetap jadi anonim. Kadang ada aja klien yang gak punya ATM dan harus bayar secara cash kayak tadi. Mau gak mau mereka jadi tahu gue Rhea Eleanor Wicaksono yang itu, yang suka cuap-cuap di YouTube "Get Real with Rhea".
Gue nggak tahu kenapa orang suka banget sama cerita gue yang rata-rata hopeless semua. Karakternya kalau nggak jadi simpenan yah pura-pura cuman temenan padahal sayang. Mungkin karena fall in love with people we can't have itu udah jadi budaya orang Indonesia ya. Jadi cerita super halu dengan happy ending yang gak masuk akal itu mereka tunggu-tunggu.
I don't think I believe in happy ending. Nggak usah sentuh cerita orang tua gue yang baru bercerai, kita bahas aja Sekala Eleandra Wicaksono. Kakak sepupu gue, anak tunggal dan keluarga yang beneran kaya, dan sekarang lagi kuliah di Pelita Jaya University. Dia akhirnya jatuh cinta sama cewek setelah hidup dia cuman main PS atau game online di rumah. Kala punya seperangkat PC keren yang jadi hadiah ulang tahunnya sewaktu SMA. Makanya MacBook Pro super berat ini dipinjamkan untuk adik sepupunya yang hidup di saat orang tuanya kehabisan masa jaya. Thank you, Kala.
Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.
Kala yang baik hati ternyata gak punya nasib percintaan yang sebaik itu juga. Ceweknya beda agama dan nyokapnya Kala cukup strict akan hal itu. Cinta yang semula bikin Kala senyum-senyum kayak orang bego mengubahnya jadi cowok dingin yang gak punya gairah hidup. Kala jadi males mandi (walau sebelumnya juga gak serajin itu) dan jarang main lagi sama gue serta Helen, adik gue.
"Jadi cinta lo sia-sia dong?" Gue nanya lempeng aja, nggak tahu kalau setelahnya gue bakal ditimpuk bantal terus diceramahin panjang lebar.
Namun, di akhir omelannya, Kala bersabda, "walaupun akhirnya gak sama-sama, tapi gue tetep bahagia ketemu sama dia."
Gue melongo. Kok bisa muka kusut gak ada semangat hidup gitu dibilang bahagia?
Sampai detik ini gue berharap Mami gak perlu ketemu Papi yang pengecut supaya hidup kami gak berakhir seperti ini. Papi yang bikin gue merasa sangat bersalah kalau ambil jatah nasi lebih banyak karena tahu keluarga kami keuangannya lagi pas-pasan dengan hutang yang luar biasa banyaknya. Papi yang janji hidup kami akan kembali baik-baik aja kalo gue ikut bantu mereka.
There's no happy ending in life except when you have money. Karena kalo keluarga gue punya uang, kami akan masih sama-sama dan gue gak perlu nulis sesuatu yang sebenarnya gue gak suka demi dapet uang kayak gini. Tapi, lama-lama gue gak ambil pusing. Mungkin dari semua berkah, yang gue miliki adalah bisa bohongin diri sendiri dengan pura-pura suka nulis dan bikin seneng orang lain.
Bel masuk ke jam pelajaran terakhir sudah berbunyi. Gue masih jalan dari arah gerbang sekolah menuju kelas gue di lantai dua. Dari kejauhan gue udah bisa lihat sahabat gue, Senja, lagi dengerin lagu pakai headphone birunya. Sebadan-badan ada aksesoris warna biru, semacam statement kalo dia memang Pendekar Biru yang kalo kena warna lain bakal gatel-gatel.
"Rhea, ya?"
Suara itu menghentikan langkah gue dan membuat kepala gue refleks menoleh. Siapa nih manggilnya ragu-ragu kayak gitu?
Ternyata di belakang gue ada sesosok lelaki jangkung dengan pakaian seragam rapi sedang berjalan ke arah gue. Dari radius beberapa meter saja gue sudah bisa mencium aromanya. Wangi bangeeet kayak toko parfum!
"Iya, Kak?"
Kami bertatapan bingung sebelum lelaki itu mengeluarkan secarik kertas. Saat meraih kertas itu, mata gue sudah terlanjur menemukan kata-kata familiar di sana.
@YourHelper 24/7 bantu tugas lo. Bahasa Indonesia buat SD - Kuliah. Bahasa Inggris by request. DM for info.
Idih, apaan nih?! Kok akun joki tugas gue sampai di-print segala?
"Rhea Eleanor Wicaksono, kan? Kelas X? Yang punya YouTube itu?"
Gue bergeming, nggak mau menanggapi karena masih bingung kenapa tiba-tiba ditunjuki akun Twitter gue. Apakah calon klien? Tapi niat banget, jir.
"Lo dicariin Ketos dari tadi."
Hah? Gue masih diam. Mata gue perlahan mencoba menemukan name tag cowok itu. Matheo Widjaja. Aduh siapa nih?
"Kenapa ya, Kak?"
"Lo ngejoki kan?" bisik cowok itu hati-hati. "Bisa jokiin buat nulis surat cinta gak?"
"Hah?" Kali ini kagetnya gak gue simpen di hati. Baru tau ada orang yang nulis surat cinta minta jasa joki segala. Bukannya surat cinta itu harus tulus dari hati, ya? Mana bisa happy ending kalau dimulai dari cerita yang nggak lo tulis dari hati sendiri?
"Iya, dia mau lo yang nulisin. Mana HP lo?" Cowok itu celingak-celinguk lihat tangan gue sementara mata gue menyipit penuh curiga. Dia tersenyum kecil. "Dia berani bayar lebih banyak dari rate card lo."
Oh! BOLEH nih kalo cuan!
Nggak perlu tunggu lama, gue langsung keluarin ponsel gue dan bersiap-siap mencatat nomor ponsel si ketos tersebut. Matheo terkikik sambil menyebutkan nomor ponselnya. Persetan dengan happy ending, itu bukan urusan gue. Yang penting bayarannya lebih tinggi!
"Lo kontak dia aja, ya."
"Siapa namanya?"
"Christopher Wiratama," jawab cowok itu sambil melihat gue mengetikkan nama tersebut di kontak. "Btw, surat cintanya buat elo, ya."
Sontak bibir gue mengerucut sementara Matheo sudah meninggalkan gue yang masih diam di tempat. Apa sih maksudnya? Ini prank buat anak baru, ya?!
***
Selamat datang di isi kepala Rhea Eleanor Wicaksono. Cerita ini diambil dari sisi Rhea sebelum masuk ke timeline Between The Lines. Semoga suka, ya! 🩷