We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

7 0 0
                                        



Luminaris, Kekaisaran Cahaya. Terbagi menjadi 8 bagian yang diperintah oleh Raja dan Ratu-kecuali Tanah Terkutuk, D'Town. 7 bagian lainnya adalah; Luminatopia, Negeri Cahaya. Terletak di bagian Utara Kekaisaran. Kemudian di Timur Laut, Kerajaan Ganesha berdiri megah. Negeri Permata, Opera, dan Kejayaan yang berbatasan dengan Benteng Negeri Vampir.


Tepat di Timur, kastil D'Town berdiri walau mati. Seakan membeku oleh waktu. Di Tenggara, Kerajaan Seni, Sains, Kecerdasan, dan Kebijaksanaan-Gilliard. Lalu di Selatan, Negeri Para Penyihir, Lunar. Negeri Malam yang menemui pagi setiap tanggal 29 Februari saja.


Di Barat Daya, Vanberg. Kerajaan yang terkenal akan militer, maritim, dan seni berpedangnya yang luar biasa. Sedangkan di Barat, Negeri Cinta, Kekuatan, dan Keindahan mekar bagaikan negeri itu sendiri-Belliard. Dan di sisi arah angin yang terakhir-Barat Laut, Kerajaan Stoia, Kerajaan Emas, Kuliner, dan Perekonomian.


†††


Ada sebuah aturan tradisi yang entah sejak kapan tertulis untuk para anggota keluarga bangsawan-dan para anggota keluarga Raja dan Kaisar juga, tentunya.


Dilarang keras bagi keluarga bangsawan untuk memiliki anak perempuan sebagai anak pertama. Kalau terlahir sebagai anak kedua atau seterusnya, tidak masalah. Untuk pasar pernikahan, laku dan berguna. Sedangkan bagi keluarga Raja dan Kaisar, anak perempuan adalah ancaman. Tabu. Tidak punya masa depan. Tidak berguna. Penghalang. Dan alasan-alasan lainnya yang mungkin membuat anak perempuan yang berasal dari rakyat jelata bersyukur bisa hidup tanpa pandangan serupa. Oleh karenanya, selama ratusan tahun, tak pernah ada seorang 'putri' kerajaan yang hidup. Kalaupun ada, para putri itu akan dibunuh langsung oleh ajudan kepercayaan raja, atau kakak laki-lakinya, atau bahkan oleh ayahnya sendiri. Sebuah kekejaman yang dianggap biasa selama berabad-abad.


Di tanah kekaisaran ini, tak ada seorang pun yang bermimpi menjadi seorang tuan putri yang tinggal dalam sangkar emas bernama istana atau semacamnya.


†††


Kemudian, di Tanah Kebijaksanaan-Gilliard, atau lebih tepatnya di Istana Ratu, Sang Raja-Wilhelm Vaughn Devlin Gilliard, nampak mondar-mandir dengan ekspresi cemas. Wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Yang Mulia Raja, saya membawa kabar baik." Wilhelm menoleh, memberi izin bicara tanpa berkata sepatah pun. "Anak anda telah terlahir tanpa cacat dan tubuhnya sehat." tutur seorang asisten bidan yang membantu proses persalinan Sang Ratu.


Wilhelm mengepalkan tangannya kuat-kuat, menghela napas panjang. Entah karena lega atau cemas. Ia menatap asisten bidan itu dengan tatapan setengah-setengah yang sulit diartikan.


"Syukurlah kalau ia terlahir demikian." ucap Wilhelm pelan. "Apakah bayi itu sedang bersama istriku sekarang?" tanyanya dengan sedikit antusias di ujung nadanya.


Asisten bidan itu mengangguk pelan dengan hormat, lalu mengangkat kepalanya perlahan, kepalanya menatap Wilhelm, tapi matanya menatap ke arah lain.


"Ada apa?" Wilhelm menatapnya heran.


Asisten itu terlihat cemas dan menyembunyikan sesuatu yang sepertinya penting. Hanya saja, ia takut dan ragu untuk mengatakannya.


"Kalau itu memang harus kau sampaikan, maka sampaikanlah. Jangan ragu. Atau kau akan menyesalinya nanti." ucap Wilhelm setengah datar.


"Err..." asisten itu memainkan tangannya sendiri, cemas. "...Yang Mulia Raja Yang Terhormat, bayi itu..." sebuah jeda yang cukup panjang. "...Perempuan." tuturnya dengan suara yang amat kecil-namun cukup untuk sampai ke gendang telinga Sang Raja.


"...Apa?" Sang Raja membelalak tidak percaya. "Perempuan?" batinnya berkecamuk.


Wilhelm mengeraskan rahangnya. Dengan napas berat, ia berkata, "Aku akan melihatnya sendiri."


"Biar saya antar, Yang Mulia."


†††


Krieett...blam.


"Wilhelm...Kau datang." sambut Sang Ratu-Cisse yang berbaring lemah di atas ranjangnya. Berusaha terlihat tabah dan tersenyum hangat di hadapan suaminya.


Bayi perempuan yang baru ia lahirkan itu ada di rengkuhannya, sudah dibersihkan.


Wilhelm melangkah mendekat. Berusaha meminimalisir suara dentum langkahnya yang gagah. Ia mengusap kepala Sang Istri, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelahnya, tatapannya beralih kepada bayi itu.


Perlahan, dengan berhati-hati, ia menyentuh jemari kecil bayi yang tertidur damai itu, mengecupnya lembut. Ia tatap bayi itu. Tatapan sendu yang entah mengapa seperti menyimpan kata-kata yang siap meledak keluar.


"Keputusan ada padamu, Rajaku." Cisse menatap suaminya dengan senyuman yang hampir pecah menjadi tangis, namun tertahan.


Wilhelm terdiam, masih menatap bayinya.


"Bolehkah aku menggendongnya?" tanyanya pada Cisse. Cisse tersenyum pasrah, memberikan bayinya pada Wilhelm dengan hati-hati.

"Nampaknya kau sudah memutuskannya, ya..." Sang Ratu menatap bayinya yang berpindah dari tangan ke tangan itu dengan sedikit cemas dan sedih.


Wilhelm menatap bayi itu lama. Mungil. Sekilas, bulu mata lentiknya seperti Cisse. Lentik, lebat, dan panjang. Cantik sekali. Ia menghirup rambut tipis bayi itu. Lembut. Ah, aromanya seperti rumpun dahlia di perbatasan wilayah Gilliard dan Floéra, Negeri para Peri, Elf, dan Kurcaci. Menenangkan.


†††


Tanpa ada yang menyadari, Pangeran Gilliard satu-satunya saat ini telah memasuki kamar yang sama. Menarik kemeja ayahnya. "Yang Mulia, apakah anda hendak melakukan hal serupa dengan tradisi yang ada?" tanyanya takut-takut. Kecemasan di mata bocah 5 tahun itu terpancar jelas. Siapa pun pasti bisa melihatnya.


"Wilhelm..." panggil Sang Ratu. "Apakah kau masih ingat mimpiku? Tentang mengangkat derajat para perempuan di tanah ini?" tanyanya. "Dan kalau kau sudi mengingatnya, Élise-putri pertama Gilliard, juga bisa hidup karena keputusan Raja Terdahulu, 'kan?" tanyanya lagi. "Namun, semua keputusan kembali padamu, Yang Mulia Raja." ujar Cisse.


"Aku dan Charles, tidak memaksamu. Pilihlah."


...


"Cisse, kau pernah bilang, "anak adalah titipan Dewa", bukan?" Cisse mengangguk. Wilhelm tersenyum hangat, tatapannya beralih pada Si Sulung, membelai kepalanya.


"Mulai dari tanggal 29 Februari ini, detik ini, saat ini, nama bayi ini adalah Lucyvania Abelia Méir Gilliard, Sang Bunga Gilliard yang kedua." ujar Wilhelm lantang, namun tak terlalu keras untuk bisa membangunkan Putri itu.


"Perlakukanlah ia sebagaimana seharusnya kalian memperlakukan Sang Ratu dan Keluarga Kerajaan. Dan sampai ia mencapai usia debutnya, tiada seorang pun yang boleh membocorkan keberadaannya pada pihak di luar lingkungan kerajaan. Sekalipun itu adalah keluarga sendiri. Dan apabila ada, baik sengaja ataupun tidak-maka ia akan dihukum dengan dipotong lidahnya!" seru Wilhelm menegaskan.


Dan pada hari itu, seluruh penghuni Istana Kerajaan berbahagia. Bunga yang amat indah telah lahir dan hidup. Untuknya, masing-masing dalam diri mereka bersumpah; bahwa akan melindungi, melayani, dan mendampingi Tuan Putri Lucy segenap jiwa dan raga.


†††











The Only Princess Was GoldenStories to obsess over. Discover now