Prolog

96 17 10
                                        

Jakarta pukul tujuh malam selalu punya cara untuk mengecilkan manusia. Di dalam bus Transjakarta koridor 1 yang padat, tubuh-tubuh lelah berhimpitan, berebut sejengkal ruang bernapas setelah seharian dihantam tuntutan ibu kota.

Namun bagi gadis bernama Tania Aruna, riuh rendah kota ini mendadak senyap setiap kali jemari hangat itu menyelinap ke sela-sela jarinya.

​Tania menunduk, menatap tautan tangan mereka yang sengaja disembunyikan di balik tas selempang miliknya.

Di sebelahnya, Serasha Maira sedang bersandar lelah pada bahu Tania. Aroma parfum vanila lembut milik gadis itu menguar, mengalahkan bau keringat dan pendingin ruangan bus yang pengap.

​"Capek banget ya, Ra?" Bisik Tania lembut, sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Sera agar tidak terdengar penumpang lain.

​Sera mendongak, matanya yang bulat mengerjap pelan sebelum sebuah senyuman manis terbit di bibirnya.

"Lumayan. Tadi dosen sastranya ngasih tugas analisis puisi seambreg. Kepalaku rasanya mau pecah, Tan" ​Tania terkekeh pelan.

Ia mengusap punggung tangan Sera dengan ibu jarinya, Gadis di sebelahnya ini adalah Serasha Maira atau yang biasa ia panggil Sera.

Seorang mahasiswa Sastra Indonesia asal Yogyakarta yang nekat merantau ke Jakarta demi mengejar mimpinya.

Kontras dengan Sera yang dunianya dipenuhi diksi dan teori perkuliahan, Tania hanyalah seorang gadis asli Jakarta yang memilih menunda kuliah demi menyambung hidup.

Sehari-hari, waktunya habis di sebuah restoran di daerah Senopati, bekerja belasan jam sebagai waitress demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

​Dua dunia yang berbeda, namun entah bagaimana, Jakarta mempertemukan mereka di rute Transum yang sama setahun yang lalu.

​"Habis ini kita naik JakLingko yang nomor berapa?" Tanya Sera, suaranya agak serak karena kantuk.

​"Nomor 42. Nanti kita turun dekat tukang martabak langganan kamu, ya? Aku beliin yang cokelat keju" Jawab Tania yang seketika membuat ​mata Sera langsung berbinar.

"Beneran? Yeay! Makasih, sayang" Kalimat terakhir diucapkan Sera dengan volume yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin namun sukses membuat dada Tania menghangat.

Di kota sekaku Jakarta, panggilan "sayang" di tempat umum bagi hubungan seperti mereka adalah hal yang berbahaya.

Mereka tahu diri, mereka paham bahwa bagi dunia di luar sana, apa yang mereka rasakan adalah sebuah kesalahan.

Sebuah penyimpangan yang harus dihakimi, namun di dalam ruang sempit di antara bangku-bangku bus, kereta, atau angkot JakLingko.

Mereka merasa aman selama tangan mereka tetap bertaut, selama mereka masih berdiri berdampingan.

​Bus perlahan melambat, berhenti di Halte Tosari. Pintu hidrolik terbuka dengan bunyi mendesis yang khas.

Tania menuntun Sera keluar dan membelah kerumunan orang dengan hati-hati, udara malam Jakarta langsung menyergap wajah mereka saat melangkah di jembatan penyeberangan ikonik yang menghadap kerlip lampu gedung-gedung Sudirman.

​Sera tiba-tiba menghentikan langkahnya, bersandar pada pagar pembatas besi lalu menatap hamparan lampu kota yang berkilauan seperti berlian berserakan.

"Tania" Panggil Sera, matanya menerawang jauh.

​"Kenapa, Sera?" Tania ikut bersandar di sampingnya, menatap profil samping wajah Sera yang selalu ia kagumi.

​"Jakarta indah banget ya kalau dilihat dari sini? Kadang aku lupa kalau kota ini aslinya keras banget" Ujar Sera dengan nada yang mendadak melankolis.

"Aku beruntung ada kamu. Kalau gak ada kamu yang nemenin aku naik-turun KRL, nyasar di koridor TJ, mungkin aku udah pulang ke Jogja dari bulan-bulan pertama" ​Tania tersenyum, lalu menyelipkan sejumput rambut Sera ke belakang telinga gadis itu.

"Aku juga beruntung ada kamu, Sera. Kerja capek di resto langsung hilang tiap lihat kamu nungguin aku di halte" ​Sera menoleh, menatap Tania dengan tatapan penuh cinta yang begitu dalam.

Malam itu, di atas jembatan penyeberangan Jakarta dan di antara deru mesin kendaraan di bawah mereka, dunia terasa begitu berpihak pada mereka.

Senyum manis Sera malam itu seolah menjanjikan bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja, selamanya.

TBC

Sesuai suara terbanyak di cerita sebelumnya

Author mutusin buat debutin cerita satzu lagi

Hore (dengan nada tidak bersemangat)

Buat cerita kali ini author gak bakal banyak komen, jadi kalian aja nyak yang komen

Buah manggis buah nangka
Halo kalian para readers manis, boleh kali vote dan komennya

Anjay, udah bisa pantun gweh

Ror

Garis Tabu | SatzuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang