"Angela!" Suara nyaring itu menggema dari ruang tamu, disana seorang gadis kecil berusia delapan tahun yang sedang menyusun balok warna-warni di lantai langsung menoleh. Senyumnya merekah. Ia buru-buru berdiri, mengira ibunya memanggil karena ingin mengajaknya berbicara.
"Iya, Ma?" Belum sempat mendekat, sebuah napas kasar terdengar sehingga membuat gadis kecil berdiri dengan diam. "Silvia nangis gara-gara mainannya hilang. Kamu yang ambil, ya?"
Angela menggeleng cepat. "Nggak, Ma... Angela dari tadi di sini."
"Jangan bohong!" Suara itu meninggi, dan itu sukses membuat angela kecil terlonjak.
"Aku gak bohong, Ma..."
Plak!
Tamparan kecil mendarat di lengan mungilnya. "Gara-gara kamu, adikmu nangis! Kamu tuh nggak pernah bisa jadi kakak yang baik!" Angela menggigit bibirnya kuat-kuat, matanya mulai memanas, padahal ia benar-benar tidak mengambil apapun, apalagi itu milik Silvia.
Beberapa menit kemudian, sang ayah menemukan boneka Silvia terselip di balik sofa, tapi meski begitu tak ada satupun yang meminta maaf pada Angela, tak ada yang berkata bahwa mereka salah, seolah rasa sakit yang ia rasakan tidak pernah penting.
Malam harinya, Angela duduk sendirian di sudut kamar sambil memeluk lutut, sementara diruang makan, terdengar suara tawa kedua orang tuanya bersama Silvia, tak ada yang menyadari gadis kecil itu menangis tanpa suara.
Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda, saat Silvia membawa pulang piala lomba mewarnai, seluruh rumah dipenuhi ucapan selamat.
"Anak Mama hebat sekali!"
"Kamu memang kebanggaan keluarga."
Angela ikut bertepuk tangan sambil tersenyum, padahal sehari sebelumnya, ia juga mendapat nilai seratus untuk pelajaran Matematika, kertas ujiannya masih tersimpan rapi di dalam tas.
Belum pernah dilihat siapa pun, malamnya, Angela mengeluarkan kertas itu, ia memandang angka merah besar di pojok atas.
100.
Perlahan senyumnya memudar. "Mungkin memang nggak cukup." Sejak saat itu, Angela mulai percaya bahwa menjadi baik saja tidak akan membuat siapa pun melihatnya, ia mulai membuat keributan, sengaja terlambat pulang, sengaja mengotori seragam, sengaja membuat guru memanggil orang tuanya.
Setidaknya saat dimarahi, Mama dan Papa akan menatapnya, meski hanya beberapa menit, namun tahun demi tahun berlalu, tak ada yang menyadari bahwa setiap bentakan meninggalkan luka baru.
Angela tumbuh menjadi remaja yang sulit bernapas setiap kali mendengar nada suara tinggi, jantungnya berdebar tanpa alasan.
Tangannya dingin, telapak tangannya berkeringat, ia sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk yang sama-berlari mengejar kedua orang tuanya yang terus berjalan menjauh sambil menggandeng Silvia.
Semakin dewasa, gejala itu semakin sering muncul, namun Angela hanya menunduk, menarik napas panjang, lalu berkata pada dirinya sendiri, bahwa dirinya tak boleh merepotkan siapa pun.
Tak seorang pun tahu bahwa kecemasan itu perlahan berubah menjadi anxiety disorder yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun bahkan sampai ia dewasa. Karena bagi Angela, mengungkapkan rasa sakit terasa jauh lebih menakutkan daripada menanggungnya sendirian.
********
HALLOO AUTHOR BACK, YUK VOTE DAN KOMENTAR YA;) BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT, JANGAN LUPA FOLLOW IG @l_hyun04_ BIAR KETINGGALAN INFO UPDATENYA
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ELDEST SILENCE
RomanceDILARANG PLAGIAT ⚠️ KETAUAN PLAGIAT LANGSUNG DI LAPORKAN MESKI DI PF LAIN WARNING 18+ Banyak kata umpatan dan kata-kata kasar. . Sejak kecil, 𝘼𝙣𝙜𝙚𝙡𝙖 𝙑𝙚𝙧𝙤𝙣𝙞𝙘𝙖 𝘼𝙪𝙧𝙤𝙧𝙖 hanya ingin satu hal sederhana diperhatikan. Namun di rumahnya...
