Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi manis dari dalam toko kecil itu. "Sweet Bakery", tulisan papan namanya sederhana, namun selalu dipenuhi pembeli karena rasanya yang lezat dan pemiliknya yang senyum sehangat matahari.
Mayra Anindya sedang sibuk menata roti-rotian baru di etalase kaca. Tangannya yang putih dan mungil bergerak lincah, wajahnya polos tanpa riasan, hanya memakai apron kotak-kotak yang sedikit berdebu tepung.
"Seneng banget, laris lagi hari ini," gumamnya pelan, tersenyum sendiri mengingat orang tuanya yang pasti tersenyum melihat toko ini dari atas.
Tiba-tiba...
BRAAK!
Pintu toko didorong terlalu keras hingga membentur dinding. Mayra kaget sampai tangannya terlepas, sebuah nampan berisi donat dan roti sobek jatuh berantakan di lantai keramik.
"Aww..." rengek kecil keluar dari bibir mungilnya.
Mayra mendongak, dan jantungnya seakan berhenti berdetak satu detik.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Tinggi, tegap, mengenakan setelan jas mahal berwarna hitam yang terlihat sangat mahal. Wajahnya tampan tapi sungguh menyeramkan. Alisnya tebal terangkat marah, tatapan matanya tajam, gelap, dan dingin. Aura kekuasaan dan kekerasan begitu kental mengelilingi tubuhnya.
Itu Varen Putra Daniswara
"Berani-beraninya kamu menghalangi jalanku?" Suara Varen berat, serak, dan penuh intimidasi. Dia baru saja keluar dari rapat penting dan sedang dalam mood yang sangat buruk.
Mayra gemetar, tapi dengan sisa keberaniannya dia menunduk dalam. "M-maaf Tuan..."
Varen sudah siap memaki atau melempar uang seenaknya seperti biasanya. Tapi, saat matanya benar-benar menatap gadis di depannya... napasnya tercekat.
Gadis ini... tidak cantik yang glowing atau modis seperti wanita-wanita yang biasa mendekatinya. Tapi dia cantik dengan cara yang berbeda. Wajahnya polos, matanya bersih, dan yang paling parah... dia berbau sangat enak. Campuran wangi mentega, gula, dan aroma tubuh alami yang manis.
Indra penciuman Varen terangsang. Lalu, perlahan, rasa lapar yang bukan lapar makan mulai menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuh. Matanya menggelap, pupilnya membesar menatap bibir gadis itu yang bergetar takut.
Sial. Kenapa gue tiba-tiba pengen ngelukain dan mau memilikinya sekaligus? batin Varen. Dia merasa seperti serigala yang melihat domba kecil yang tersesat.
"Roti... roti Tuan hancur semua," kata Mayra pelan, masih menunduk takut melihat tatapan itu. "Saya ganti ya, Tuan? Saya minta maaf sebesar-besarnya..."
Varen tidak menjawab. Dia malah melangkah maju satu langkah. Bayangan tubuh besarnya menutupi tubuh mungil Mayra.
Dia menundukkan wajahnya, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu sampai Mayra bisa merasakan hangatnya napas pria itu yang ternyata terasa berat dan tidak teratur.
"Roti hancur?" bisik Varen, suaranya rendah dan terdengar sangat horny "Gak masalah, Sayang..."
Mayra mengerjap bingung. Sayang? Siapa yang disapa?
Lalu Varen menegakkan tubuh, menangkup dagu Mayra dengan tangan besarnya agar gadis itu menatap matanya. Tatapan itu begitu intens, penuh nafsu, dan kepemilikan.
"Roti bisa dibeli lagi. Tapi kalau aku yang lapar sama kamu... gimana?"
Mayra terdiam, matanya berkedip-kedip polos tidak mengerti maksud pria aneh ini. "La-lapar sama saya? Tapi saya bukan roti, Tuan..."
Varen terkekeh pelan. Tawa yang terdengar menyeramkan tapi juga memikat.
"Kamu gak tahu ya... kamu jauh lebih manis dari semua roti di toko ini. Dan mulai detik ini..."
Varen menarik tubuh Mayra mendekat, memeluk pinggang ramping itu dengan posesif, membuat wajah gadis polos itu menempel di dadanya yang bidang.
"...kamu dan toko roti ini, jadi milik aku. Varen Putra Daniswara. Ingat nama itu, karena nanti malam kamu cuma boleh teriak nama itu."
gimana?? mau lanjut gak nihh?
jangan lupa vote ya💞
YOU ARE READING
Ceo Hyper X Gadis Polos
RomanceVaren, seorang CEO muda yang dikenal memiliki emosi yang meledak-ledak, galak, dan dingin bagaikan es. Bagi dunia, dia adalah pria yang menakutkan dan sulit didekati. Siapapun yang berani salah sedikit saja padanya, pasti akan merasakan amarahnya ya...
