Sinar matahari pagi yang perlahan menembus celah gorden beludru hitam pekat di kamar itu tidak serta-merta membawa kehangatan yang biasa. Di dalam ruangan luas bergaya modern minimalis tersebut, nuansa gelap begitu mendominasi. Namun, jika seseorang jeli memperhatikan sudut-sudut tersembunyi, mereka akan menemukan kontras yang unik. Di atas tempat tidur berseprai hitam, terdapat sebuah boneka rajut kecil berwarna soft pink yang diletakkan tersembunyi di balik bantal. Di atas meja rias yang dipenuhi kosmetik kelas atas, terselip sebuah buku sketsa dengan sampul merah muda lembut yang sengaja ditutupi oleh laptop kerja berwarna gelap.
Rosiea Lilacsa Freydasia berdiri di depan cermin besar setinggi tubuhnya. Gadis berusia 18 tahun dengan tinggi 170 sentimeter dan proporsi tubuh ideal itu sedang menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya luar biasa cantik, perpaduan antara keanggunan yang manis dan tatapan mata yang tajam. Pagi ini, ia mengenakan seragam putih abu-abu beludru khas sekolah elite mereka dengan sangat rapi. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah.
Bagi dunia luar, ia adalah Freysia, anak perempuan dari keluarga konglomerat donatur terbesar kedua di yayasan sekolah, seorang beauty influencer papan atas yang selalu ramah dan dikagumi. Namun, di balik dinding rumah megah yang terisolasi ini, di dalam jaringan bawah tanah yang penuh dengan kerahasiaan dan bahaya, ia menyandang nama Rosie-penerus dari faksi "Mawar Hitam".
Rosiea mengembuskan napas pelan, menyapukan lip tint berwarna natural pada bibirnya sebelum menyambar tas sekolahnya. Sebelum melangkah keluar kamar, tatapannya sempat tertuju pada jaket kulit hitam dan kunci motor besar yang tergantung di balik pintu lemarinya. Ada kerinduan sesaat di matanya. Di malam hari, ketika tekanan sebagai penerus keluarga mawar hitam terlalu berat untuk dipikul, ia akan menjelma menjadi pengendara motor liar yang membelah jalanan malam tanpa rasa takut. Namun sekarang, saatnya memakai topeng sebagai murid teladan.
"Selamat pagi, Nona Muda," sapa kepala pelayan dengan membungkuk hormat saat Rosiea menuruni tangga melingkar di ruang tengah.
"Selamat pagi," jawab Rosiea dengan senyuman manis yang selalu ia latih agar terlihat natural.
Sarapan pagi berlalu dengan keheningan yang mencekam, khas keluarganya. Ayahnya hanya memberikan tatapan dingin penuh tuntutan tanpa sepatah kata pun, sebuah bahasa isyarat bahwa Rosiea tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun, baik dalam urusan akademis, reputasi sosial, maupun tugas-tugas rahasia yang menanti di balik layar. Setelah menyelesaikan sarapannya dengan anggun, Rosiea berpamitan dan melangkah menuju mobil sedan mewah yang sudah siap mengantarnya ke sekolah.
Perjalanan menuju SMA Horizon memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Begitu mobil mewah tersebut memasuki gerbang sekolah, suasana langsung berubah riuh. Kehadiran Rosiea-atau yang di sekolah lebih dikenal sebagai Freysia-selalu menjadi pusat perhatian. Ia adalah primadona anak seni kebanggaan sekolah, gadis yang tidak hanya cantik tetapi juga memiliki kepribadian yang sangat hangat.
Begitu turun dari mobil, Freysia langsung disambut oleh sebuah senyuman ramah dari seorang siswa penerima beasiswa prestasi yang kebetulan sedang membawa tumpukan buku tugas.
"Pagi, Freysia," sapa siswa itu dengan agak gugup.
"Pagi! Sini, biar aku bantu bawa sebagian bukunya ke kelas. Kelihatannya berat banget," ujar Freysia dengan tulus, langsung mengambil alih separuh tumpukan buku dari tangan siswa tersebut tanpa rasa canggung sedikit pun. Sikapnya yang sangat ramah kepada anak-anak beasiswa inilah yang membuatnya begitu dicintai di sekolah, sangat berbanding terbalik dengan status sosial keluarganya yang berada di puncak hierarki.
Setelah mengantar buku, Freysia melangkah menuju area koridor utama tempat gengnya, Lil' Divas, biasanya berkumpul. Di sana, tiga gadis dengan vsual menawan yang tidak kalah memukau sudah menunggunya.
YOU ARE READING
Just Between Us 1009
RomanceDi balik kemegahan SMA Horizon, Freysia sang primadona seni yang ramah dan Kaysen sang pangeran sekolah yang sedingin es tampak menjalani kehidupan remaja yang sempurna tanpa cela. Namun, begitu matahari tenggelam, topeng-topeng indah itu tanggal, m...
