We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

179 28 0
                                        

Malam di ibu kota tidak pernah benar-benar bersih. Hujan yang mengguyur sejak petang menyisakan genangan air di aspal, memantulkan pendar merah dan biru dari lampu neon kelab malam yang remang-remang. Di dalam salah satu gang sempit yang luput dari jangkauan kamera pengawas, aroma besi yang familir menguar ke udara bau darah yang masih hangat.

Jamie melangkah santai, mengabaikan tubuh tak bernyawa yang baru saja ia tinggalkan di sudut gelap. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam bergerak tenang, menyeka setetes darah yang tepercik di rahang tegasnya. Sebagai pembunuh bayaran, malam ini hanyalah rutinitas biasa.

Sampai suara sirene polisi memecah keheningan dari kejauhan.

Jamie tidak lari. Alih-alih bergegas pergi bersama Marlo dan Luca yang sudah menunggu di mobil, ia justru melangkah mundur, melebur bersama bayangan dinding bata, dan menunggu. Ia ingin melihat siapa yang datang.

Tiga mobil patroli berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Pintu terbuka, dan beberapa aparat bersenjata lengkap keluar dengan sigap. Dipimpin oleh seorang pria bertubuh tegap dengan seragam taktis yang melekat sempurna di tubuhnya.

Jenoa.

Melalui lensa bidik kecil yang sengaja ia kantongi, Jamie mengunci pandangannya pada wajah pria itu. Rahang yang mengeras penuh tekad, mata bulat yang tajam memindai sekitar, dan bibir yang dengan tegas memberikan komando pada Henry dan Renji. Jenoa terlihat begitu bersinar di bawah temaram lampu jalanan. Sangat kontras dengan Jamie yang hidup di kegelapan.

Seketika, memori bertahun-tahun lalu berputar di kepala Jamie. Memori tentang lorong sekolah yang sepi, tentang sepucuk surat yang berakhir di tempat sampah, dan kata-kata dingin dari bibir yang sama "Aku tidak tertarik pada orang sepertimu, Jamie. Menjauh dariku."

Jamie menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang sarat akan kegilaan. Dada Jenoa yang naik-turun karena napas yang memburu terlihat begitu memikat di matanya.

"Dulu kau menolakku karena aku menjijikkan, Sayang?" bisik Jamie pada kesunyian, suaranya berat dan serak. "Sekarang, mari kita lihat seberapa kuat moralitasmu saat kau tahu bajingan yang kau buru ini adalah orang yang sama."

Jamie tahu ada Haikal yang berdiri di belakang Jenoa, seorang pengkhianat manis yang akan menjadi tiket emasnya untuk meruntuhkan pertahanan sang polisi. Jaring jebakan sudah ditebar, kepingan demi kepingan rencana sudah disusun rapi bersama Marlo dan Luca.

Jenoa mungkin mengira dirinya adalah seorang polisi yang siap menyeret kriminal ke balik jeruji besi. Namun Jenoa tidak pernah tahu, bahwa sejak detik ini, dialah yang melangkah masuk ke dalam sangkar emas yang telah Jamie siapkan.

Jamie menyimpan kembali lensanya, berbalik memunggungi TKP, dan berjalan menjauh dengan tawa rendah yang tertahan.

"Kejarlah aku sesukamu, Jenoa. Karena pada akhirnya, kau yang akan bertekuk lutut di bawah kendaliku. Selamanya."

Membakar Lencana Stories to obsess over. Discover now