Prolog

1 1 0
                                        

Sebelum ada gaun merah. Sebelum ada 27 lilin.

Ada sebuah rumah.

Istana throne berdiri di atas tebing Sorong, sendirian, menatap laut yang hitam. Tidak ada yang tinggal di sana selama seratus tahun. Katanya terkutuk. Katanya mengingat.

Lalu Maltherion Morvane Throne kembali.

Pewaris terakhir. Pria yang pulang bukan untuk harta, tapi untuk menutup satu janji yang belum selesai.
Di ruang utamanya, dia memasang 27 dudukan lilin di sepanjang tangga marmer. Satu untuk setiap malam.

"Untuknya," ucapnya pada penjaga rumah yang gemetar.

Penjaga itu bertanya, "Untuk siapa, Tuan?"

Maltherion hanya menunjuk ke lukisan kosong di puncak tangga. Kanvasnya putih. Menunggu warna.

Tiga bulan kemudian, badai membawa Grace Zolyanne Stearic ke pintu istana.
Gaunnya compang-camping. Bibirnya biru karena dingin. Tapi matanya... merah. Marah. Hidup.

"Nama saya Grace," katanya. "Saya tersesat."

Maltherion tidak menjawab. Dia hanya menyalakan lilin pertama.

Dan sejak malam itu, ritual dimulai.
Grace berlari. Maltherion menghitung.
Satu lilin padam setiap dia mencapai puncak dan menghilang ke lorong.

26 malam. 26 lilin mati.

Yang tersisa hanya satu.
Lilin ke-27. Untuk kanvas yang belum terisi.
Karena Maltherion sudah tahu sejak awal:
Grace bukan tersesat.
Grace dipanggil pulang.

End prolog

[Catatan penulis]
Oke jujur pas nulis ini merinding sendiri 🕯️
Istana Throne itu bukan cuma bangunan. Dia karakter juga. Saksi bisu obsesi Maltherion dari hari pertama Grace nginjekin kaki.

Aku sengaja bikin Grace dateng dengan gaun compang-camping, bukan gaun merah. Karena merahnya... itu nanti. Merah itu milik Maltherion.

Tim #TeoriKonspirasi mana suaranya? Menurut kalian Grace beneran tersesat, atau emang udah dijebak dari awal? Komen! dan vote!

Count 27 Candles for HERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang