Dia tidak tahu namanya sendiri.
Dia hanya tahu: jenis-jenis suara, bau, dan tekstur. Suara jentikan jari yang selalu diikuti ketukan wadah berisi makanan. Suara pintu tertutup yang menyembunyikan manusia dari terkamannya. Dan ada satu suara, yang memanggil dengan nada naik di ujungnya, yang berarti kamu boleh mendekat sekarang.
Dia bermata satu. Ini bukan sesuatu yang mesti dia tahu. Ini hanya cara dunia terlihat: dari satu sudut, dengan bayangan yang selalu jatuh ke sisi yang sama.
Di rumah ini, ada dua manusia.
Yang pertama: laki-laki yang tidurnya berbunyi, yang tangannya selalu terbuka waktu duduk di lantai. Bukan meminta, hanya menawarkan. Keti tidak selalu mau. Tapi tangan itu selalu ada.
Yang kedua: perempuan itu.
Perempuan itu lebih sulit dibaca. Kadang suaranya ringan dan Keti boleh duduk di pangkuannya selama yang Keti mau. Kadang suaranya berubah. Lebih tajam, seperti udara sebelum hujan pertama. Keti belajar diam di tepi kasur dan tidak mendekat dulu. Bukan karena takut. Hanya karena Keti cukup tua untuk tahu perbedaan antara mengganggu dan dirindukan.
Yang Keti belum mengerti: mengapa manusia menyimpan terlalu banyak di sekitarnya. Kertas-kertas kecil dengan tulisan yang sama berulang kali, sampai tinta menembus ke belakang. Keti pernah duduk di atas kertas-kertas itu. Tidak ada yang spesial dari baunya. Hanya tinta. Tapi perempuan itu tidak menyimpannya di laci atau di bawah bantal, melainkan di kotak sampah, bersama kulit pisang dan sisa rempah.
Ini yang membuat Keti selalu kembali.
Keti bisa merasakan ada sesuatu di dalam diri perempuan itu yang belum selesai. Sesuatu yang masih bergerak di bawah permukaan. Sesuatu yang mendebarkan. Sesuatu yang mempermainkannya.
Keti tidak tahu apa itu.
Dia hanya tahu bahwa selama sesuatu itu belum selesai, dia akan tetap di sini. Melingkar. Diam. Menunggu.
Ini misi penyelamatan yang bisa dilakukan seekor kucing bermata satu: tetap ada, bahkan jika tidak ada satu pun spesies di bumi yang memintanya untuk ada.
YOU ARE READING
Ceritakan Semuanya pada Kucing
RomanceSejak kecil, Luna diajarkan satu kalimat yang terasa seperti perlindungan: Gak semua harus diceritakan. Tapi kalimat itu juga adalah rantai ancaman. Bertahun-tahun kemudian, Luna hidup bersama suami yang mencintainya tanpa syarat, bekerja di kantor...
