We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1: Noda Sebiji Zarah di Seragam Putih

0 0 0
                                        

​Air keran terus mengalir, menderas membentur dasar bak plastik berwarna biru pudar. Di depannya, seorang anak perempuan bertubuh kurus berusia sebelas tahun tengah berjongkok. Jemarinya yang mungil tampak keriput dan memucat, sementara buku-buku jarinya memerah karena terlalu lama terendam air deterjen yang perih. Rina menggigit bibir bawahnya, menahan pegal di punggung sambil terus menyikat kerah seragam putih yang membandel.
​"Sudah bersih belum kerahnya?!" Suara melengking itu menyambar dari arah dapur, mengalahkan suara percikan air.
​Tubuh Rina tersentak. Ia buru-buru membilas seragam itu dan mengangkatnya. Di ambang pintu kamar mandi, Ibunya berdiri dengan raut wajah yang selalu tegang. Mata wanita itu, yang di sekolah selalu menatap murid-murid dengan wibawa seorang guru agama Islam yang dihormati, kini menajam menyorot anak sulungnya sendiri.
​Ibu merampas seragam itu, mengamatinya di bawah cahaya lampu yang temaram. "Ini apa, Rina?! Masih ada noda kuning di lipatannya! Kamu ini menyikatnya pakai tenaga atau tidak? Baju seragam ini harganya mahal! Ibu dan Ayah kerja banting tulang mengajar di sekolah, masa anak perempuannya disuruh mencuci baju saja tidak becus?!"
​"Maaf, Bu. Tadi Rina sudah sikat keras-keras, tapi nodanya susah hilang," cicit Rina pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
​"Jangan membantah!" potong Ibunya tajam. "Kamu itu anak perempuan pertama. Harus serba bisa, serba bersih. Kalau sikat baju saja masih meninggalkan noda, besok kalau sudah besar kamu mau jadi apa? Pembantu?! Lagipula, apa kata guru-guru lain di sekolah kalau melihat seragam anak Bu Guru dekil begini? Malu Ibu, Rina. Malu!"
​Seragam basah itu dilemparkan kembali ke pangkuan Rina, membasahi daster rumahan lusuh yang ia kenakan. "Ulangi sampai bersih, kesat, sampai putih kapas! Setelah ini, jangan lupa lantai ruang tamu dipel. Tadi Ibu lihat masih ada debu di bawah meja."
​"Iya, Bu," lirih Rina.
​Langkah kaki Ibunya menjauh. Dari ruang keluarga, terdengar sayup-sayup suara televisi yang menyiarkan film kartun sore. Suara itu diselingi tawa riang adiknya, si bungsu yang baru berusia tujuh tahun. Adiknya sedang asyik makan biskuit di atas karpet yang baru saja Rina bersihkan susah payah sepulang sekolah tadi. Remahannya berjatuhan, namun tak ada satu pun omelan yang keluar dari mulut Ibu. Adiknya adalah ratu kecil yang keberadaannya selalu dimaklumi dengan dalih, "Namanya juga anak bungsu, belum mengerti apa-apa."
​Rina kembali mencelupkan tangannya ke air yang dingin. Air matanya menetes pelan, jatuh bercampur dengan buih sabun. Di rumah ini, ia merasa bukan seperti anak, melainkan prajurit di kamp militer. Bangun pukul empat subuh, menyapu halaman, memastikan tak ada piring kotor, hingga menyetrika pakaian tanpa boleh ada satu lipatan pun yang melenceng. Kesalahan kecil berarti bentakan panjang yang mengiris harga dirinya.
​Penderitaan Rina tidak berhenti di tembok rumah. Esok paginya, Rina harus menghadapi neraka lain: sekolah dasar tempatnya menuntut ilmu, yang kebetulan adalah tempat Ibu dan Ayahnya mengajar.
​Bagi anak-anak lain, sekolah adalah tempat belajar dan bermain. Namun bagi Rina, sekolah adalah panggung sandiwara di mana ia tak boleh melakukan kesalahan sekecil zarah pun. Status 'anak guru agama' adalah borgol kasat mata yang mengikat lehernya. Relasi orang tuanya sangat luas. Tukang kebun sekolah, ibu kantin, hingga guru-guru lain seolah menjadi perpanjangan mata orang tuanya. Jika Rina ketahuan jajan sembarangan atau bermain lari-larian hingga berkeringat, laporannya akan sampai ke meja makan malam itu juga.
​"Rina, nilai Ulangan Matematikamu kok cuma 85?" tegur Wali Kelasnya siang itu, membagikan kertas ulangan dengan tatapan penuh selidik. "Masa anak Pak Guru dan Bu Guru nilainya kalah sama teman sebangku yang orang tuanya cuma pedagang di pasar? Besok-besok belajar yang lebih rajin lagi. Nilai kamu harus selalu 100, mengerti?"
​Rina hanya bisa mengangguk kaku. Nilai 85 bagi anak kelas lima SD adalah nilai yang bagus, tapi tidak bagi keluarga ini. Ia tahu, angka itu akan menjadi bencana. Ayahnya, sosok yang jarang bicara namun memiliki aturan tak kalah kaku dari Ibu, pasti akan memanggilnya. Akan ada ceramah panjang tentang bagaimana Rina telah mencoreng nama baik keluarga.
​Sepulang sekolah, di saat teman-temannya berlarian menuju lapangan desa untuk bermain kasti atau bersepeda, Rina mempercepat langkah kakinya menuju rumah. Seragam harus segera digantung, lantai harus disapu, dan cucian piring sudah menunggunya.
​Sore itu, sambil memegang gagang sapu, Rina menatap keluar jendela melihat teman-temannya tertawa lepas. Ada rasa sesak yang begitu pekat menggerogoti dadanya.
​"Kenapa aku harus jadi anak pertama?" batinnya pedih. "Kenapa aku harus lahir sebagai anak guru?"
​Ekspektasi itu mencekiknya perlahan. Rina diajarkan untuk selalu patuh tanpa pernah diberi ruang untuk menolak. Ia dituntut menjadi sempurna untuk kebanggaan orang tuanya, tanpa ada satu pun yang pernah berhenti sejenak, mengelus kepalanya, dan bertanya, "Nak, apakah kamu baik-baik saja?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 26 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Luka Bertopeng BaktiStories to obsess over. Discover now