Lampu panggung menyapu lautan manusia yang memenuhi stadion. Sorak-sorai bergemuruh dari segala arah, bercampur dengan dentuman drum yang masih bergetar di udara meskipun lagu terakhir telah berakhir beberapa menit yang lalu.
Di tengah cahaya yang menyilaukan, empat anggota band berdiri berjajar menerima sambutan penonton. Nama mereka sudah tidak asing lagi. Salah satu band rock terbesar di Thailand. Dan di antara keempat anggota tersebut, ada satu orang yang selalu menjadi pusat perhatian yaitu Force, sang vokalis sekaligus gitaris utama.
Wajah yang paling sering muncul di sampul majalah. Nama yang paling banyak diteriakkan oleh para penggemar. Sosok yang, menurut pendapatnya sendiri, memang pantas menjadi pusat dunia.
Senyum tipis terukir di bibirnya saat mendengar ribuan orang meneriakkan namanya. Ada kepuasan yang tidak berusaha ia sembunyikan. Tatapannya menyapu tribun yang penuh sesak sebelum dagunya terangkat sedikit. Seolah mengakui bahwa semua sorakan itu memang ditujukan untuknya. Mungkin memang benar. Atau setidaknya Force selalu menganggap demikian.
Di sampingnya, sang gitaris sedang melambai kepada penonton. Bassis membungkuk sopan sebagai ucapan terima kasih, sementara drummer melempar stik drum ke arah kerumunan yang langsung berebut menangkapnya.
Tapi Force tidak melakukan semua itu. Begitu lagu penutup selesai, ia hanya melepas ear monitor dari telinganya, melepas gitarnya dan berjalan meninggalkan panggung tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan tiga anggota lainnya yang sudah terbiasa dengan tingkahnya. Mereka bahkan tidak terlihat terkejut. Karena memang tidak ada yang perlu dikejutkan lagi. Tapi salah satu diantara mereka diam-diam memendam rasa muaknya.
____________
Lorong belakang panggung dipenuhi staf yang berlalu-lalang. Beberapa orang membawa peralatan, sebagian lagi sibuk mengurus jadwal setelah konser.
Di tengah kesibukan tersebut, Force berjalan dengan langkah panjang tanpa memperhatikan siapa pun. Seorang staf perempuan yang membawa botol minuman segera menghampirinya.
"Ini minuman yang Anda minta tadi."
Force menerima botol itu sekilas. Hanya sekilas. Lalu alisnya berkerut.
"Ini rasa lemon."
Staf itu langsung terlihat gugup.
"I-Iya. Bukannya biasanya Anda suka..."
"Itu minggu lalu."
Staf perempuan itu terdiam. Force melanjutkan ucapannya.
"Aku bosan." Katanya. Ucapan yang begitu sederhana tapi membuat perempuan itu hanya mampu berdiri kaku.
Force menyerahkan kembali botol tersebut tanpa minat sedikit pun. Seolah rasa minuman yang salah merupakan masalah besar yang pantas disesali.
Di ujung lorong, manajer mereka yang bernama P'Jack, hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan menghela napas panjang.
Sudah dua belas tahun ia bekerja di industri hiburan. Sudah delapan tahun ia mengurus band ini. Namun sampai sekarang ia masih belum mengerti bagaimana seseorang bisa begitu berbakat sekaligus begitu menyebalkan dalam waktu yang bersamaan. Karena yang membuat agensi pusing bukan hanya ego Force. Melainkan kebiasaannya mencari masalah.
Dalam enam bulan terakhir, jumlah insiden yang melibatkan namanya sudah cukup untuk mengisi satu map khusus. Force pernah meninggalkan acara wawancara di tengah sesi karena merasa pertanyaannya membosankan. Pernah berdebat dengan fotografer di depan puluhan wartawan. Pernah menerobos pengamanan demi menemui penggemar yang memanggil namanya dari balik pembatas. Akibatnya, puluhan penggemar lain ikut berlari mendekat dan hampir menyebabkan kericuhan.
YOU ARE READING
Rockstar and His Bodyguard Barbie
FanfictionMenurut Force, bodyguard yang baik harus tinggi, galak, dan terlihat menyeramkan. Jadi ketika agensinya memperkenalkan Book sebagai bodyguard baru, hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah.... "Dia bodyguard atau Barbie?" Sejak saat itu, hidup...
