prolog

117 13 0
                                        


Di suatu tempat, ada seorang lelaki yang sedang membuat novel bergenre romansa.

Dia memang sudah terkenal bahkan novelnya sudah ada dimana-mana.

Hari ini adalah hari dimana ia menyelesaikan akhir dari bab ceritanya.

REHAN ADITYA, remaja yang baru saja lulus kuliah. Dia meregangkan tubuhnya dikala sudah selesai.

"Nice! Selesai!" , ujarnya riang.

Rehan merebahkan tubuhnya yang sudah pegal duduk seharian di depan laptop.

Matanya mulai terpejam karena kantuk menyerangnya.

"Semoga besok gue masih sehat..." gumam nya .

Sementara itu di dimensi yang berbeda, terlihat remaja yang terbaring di ranjang rumah sakit.

Seseorang yang berdiri di sisi ranjang nya beberapa kali menghela nafas kasar, menunggu pasiennya membuka mata.

"Kapan kamu bangun?", tanya nya entah pada siapa.

Tak lama dia berucap, mata yang semula tertutup itu akhirnya terbuka.

'Gue di mana?'

"Kamu sudah sadar"

Rehan, remaja itu tersentak karena tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di sisinya.

"Ini...dimana?", tanya Rehan bingung.

'Bukannya gue lagi tidur ya? Kok bisa ke sini?' , batinnya.

"Siapa namamu?"

Rehan bingung, kenapa dia menanyakan namanya? Dengan sedikit keraguan ia menjawab.

"Rehan..."

"Sudah kuduga, kau amnesia. Namamu Reyvan Feris Fernando, dan aku Altarel Fernando, sepupumu".

Rehan membulatkan matanya terkejut. Merasa tidak familiar dengan namanya.

'Gue transmigrasi?! Namanya sama kek di novel gue! Fiks ini mh bener gue pindah alam!' , batinnya.

"Anterin Rey pulang om..."

Alta menatap datar, sepupunya ini baru sadar malah meminta pulang.

"Malam nanti, sekarang istirahat sebentar di sini."

Alta keluar, meninggalkan Rehan yang berbaring menatap ke jendela dengan pikiran yang kemana-mana.

Reyvan ini antagonis, otomatis sifat dan sikapnya sangat buruk. Berbeda jauh dengan Rehan, pecicilan tapi tau batasan.

"Gue yg nulis dan gue yg harus ngerubah semua alurnya", ucapnya.

"Author mh bebas!", lanjutnya terkekeh pelan.

Malam hari pun tiba.

Sesuai janji, Alta kembali menemui Rehan untuk mengajaknya pulang.

"Dengarkan aku, ketika sudah di sana jangan macam-macam! Jika merasa tidak nyaman dengan mereka, maka pergi ke sini dan temui aku. Aku akan membawa dirimu ke mansion papa."

Rehan mengangguk, padahal di dalam pikirannya sedang menyusun rencana untuk bermain-main dengan mereka.

Di perjalanan, Rehan hanya diam membuat Alta yang sedang menyetir merasa khawatir.

"Kenapa diam saja? Apa ada yang sakit? Jika iya kita putar balik".

Gue Antagonis? || Transmigrasi (Slow Up!)Stories to obsess over. Discover now