Di kota kecil bernama Blackthorne, ada satu aturan tak tertulis yang diketahui semua orang: jangan sampai menarik perhatian Ethan Graves.
Nama itu sudah lama menjadi bisikan di balik pintu-pintu rumah, percakapan yang mendadak terhenti ketika seseorang menyadari ada orang lain yang mendengar. Anak-anak diajari untuk tidak mendekati rumah besar keluarga Graves di ujung bukit. Para pendatang biasanya akan diberi peringatan halus dalam minggu pertama mereka tinggal.
"Bersikap sopan kalau bertemu Ethan. Tapi jangan terlalu ramah."
Tidak ada yang perlu menjelaskan lebih jauh. Semua orang sudah mengerti.
Ethan Graves berusia tiga puluh dua tahun. Wajahnya tampan, tutur katanya tenang, dan senyumnya nyaris selalu terlihat sempurna. Jika seseorang hanya melihatnya sekilas, mereka mungkin akan menganggapnya sebagai pria terdidik dari keluarga terpandang.
Masalahnya, seluruh kota tahu siapa dirinya sebenarnya.
Dalam lima belas tahun terakhir, Ethan telah beberapa kali keluar masuk penjara. Tuduhannya selalu berbeda. Kadang penyerangan, kadang penguntitan, kadang tindakan yang cukup membuat polisi datang ke rumahnya tengah malam. Namun entah bagaimana, hukuman yang diterimanya selalu jauh lebih ringan daripada yang diperkirakan orang-orang.
Ayahnya adalah pengusaha berpengaruh. Keluarga Graves memiliki koneksi yang menjangkau hakim, pengacara, hingga pejabat daerah. Setiap kali Ethan ditangkap, warga kota hanya bisa menebak berapa lama ia akan menghilang.
Enam bulan.
Delapan bulan.
Paling lama satu tahun.
Lalu ia akan kembali.
Dan ketika mobil hitam keluarga Graves terlihat memasuki kota lagi, suasana Blackthorne berubah seketika.
Pemilik toko mulai memasang kamera tambahan.
Orang tua melarang anak mereka pulang terlalu malam.
Para wanita yang berjalan sendirian akan memilih memutar jalan meski harus menambah jarak beberapa blok.
Bahkan para pria dewasa pun enggan berurusan dengannya.
Bukan karena Ethan sering mengancam.
Justru sebaliknya.
Ia hampir tidak pernah marah.
Ia tidak berteriak.
Tidak memukul meja.
Tidak membuat keributan.
Yang membuat orang takut adalah caranya menatap.
Seolah ia sedang mempelajari sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Seolah setiap percakapan hanyalah eksperimen kecil untuk mengamati reaksi manusia.
Dan yang lebih mengerikan lagi, Ethan tampaknya menikmati hal itu.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pria itu berbeda.
Beberapa menyebutnya psikopat.
Beberapa menyebutnya monster.
Namun tidak ada seorang pun yang berani mengatakannya langsung di hadapannya.
Karena siapa pun yang pernah menjadi pusat perhatian Ethan Graves biasanya akan berharap mereka tidak pernah bertemu dengannya sejak awal.
Maka ketika seorang wanita muda bernama Claire Bennett pindah ke Blackthorne dan membeli rumah tua di dekat alun-alun kota, tidak ada yang menyangka bahwa dalam waktu kurang dari dua minggu, Ethan Graves akan memperhatikannya.
Dan sejak saat itu, hidup Claire mulai berubah.
