Seorang perempuan berdiri mematung. Tatapannya menerobos jauh ke depan sana. Dimana seorang laki-laki tengah memeluk tubuhnya yang terbujur kaku.
Api berkobar hebat di sekitar tubuh mereka.
"Pergi mas! Tinggalin aku cepet!" Teriaknya keras, namun laki-laki itu seolah tak mendengar suaranya. Ia menatap tangannya yang tampak seperti bayangan. Ia mencoba menggapai laki-laki itu namun selalu gagal. Tubuhnya tembus seperti angin.
Tangisnya kian keras tatkala laki-laki itu justru bergeming, memeluk tubuh kakunya.
Hingga akhirnya api itu melahap habis semua yang di depannya. Termasuk dia dan laki-laki itu.
"Mas Liam!" teriaknya.
"Kamu ini kenapa?! Jangan membuang-buang waktuku! Cepat tanda tangani surat cerai itu!" tunjuk Liam pada berkas diatas meja.
Rachel membeku. Ia menatap bingung tubuhnya. Ia lalu mencubit keras lengannya.
"Aws!" rintihnya.
Liam menatap muak perempuan didepannya.
"Rachel! Cepat tanda tangani! Bukankah ini yang selama ini kamu mau?!" bentak Liam. Rachel beralih menatap laki-laki didepannya. Air matanya langsung luruh seketika.
Ia berlari memeluk tubuh laki-laki didepannya. Tangisnya kian terdengar ketika menyadari semua ini nyata. Bukan angan-angannya.
"Mas.. Hiks"
Panggilan itu.
Panggilan yang selalu ia dambakan.
Pelukan itu.
Pelukan yang selalu ia rindukan.
Liam berdiri mematung. Ia menatap terkejut perempuan dipelukannya. Ia dapat merasakan kemejanya basah oleh air mata perempuan itu. Tangannya bergerak hendak membalas pelukan Rachel. Namun ia teringat akan sesuatu. Ia mendorong pelan tubuh Rachel agar menjauh darinya.
"Berhenti bermain trik murahan Rachel! Cepat tanda tangani!" Sentak Liam. Rachel menggeleng keras. Ia meraih tangan Liam.
"Nggak! Aku ga mau cerai! Kasih aku kesempatan satu kali lagi mas" tolak Rachel.
"Apa maksudmu?! Apa kamu tidak lelah mempermainkanku?! Aku lelah Rachel! Aku lelah dengan semua tipu dayamu yang selalu membuatku luluh!" Sentak Liam. Ia mencengkram kedua bahu Rachel. Matanya berkaca-kaca.
Tangan Rachel perlahan menangkup kedua pipi Liam. Ia menangis. Ia menyesal. Ia bersalah.
"Maaf mas.. Kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji aku bakal berubah"
Liam menepis tangan Rachel dari pipinya. Ia mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang siap turun detik itu juga.
"Janji lagi? Aku bosan Rachel! Aku sudah memberimu banyak kesempatan! Tapi apa? Kamu membuang kesempatan itu mentah-mentah!" Sentak Liam. Ia tak habis pikir dengan perempuan didepannya.
"Kamu lihat itu!" Tunjuk Liam pada seorang anak laki-laki yang meringkuk di pojok ruangan. Rachel mengikuti arah telunjuk Liam. Ia mematung menatap anak laki-laki berusia tiga tahun itu. Itu putranya dan Liam.
"Dia anak kita Rachel! Tapi dia sakit karenamu! Dia jadi pendiam karenamu! Kamu lihat tangannya?! Tangannya patah karena mu Rachel!" Sentak Liam. Tangis yang sedari tadi laki-laki itu tahan akhirnya luruh. Ia benar-benar lelah dengan tipu daya istrinya.
Rachel berjalan perlahan mendekati anak laki-laki itu. Ia teringat peristiwa beberapa bulan lalu. Saat ia dengan sengaja menginjak tangan putranya yang terus-menerus mengajaknya bermain.
"Zerga" panggil Rachel lirih. Air matanya kian deras turun melihat keadaan putranya. Tubuhnya sedikit kurus. Penuh luka lebam. Dan tangan kirinya yang diperban.
"Daddy... Daddy... Zelga takut" ucapan itu seperti belati yang menusuk tepat di jantung Rachel. Suami dan putranya bahkan sudah tak menginginkannya. Dan semua ini terjadi karena ulahnya sendiri.
Liam meraih tubuh kecil putranya yang sudah menangis.
"Maaf mas.. Kasih aku satu kesempatan lagi" pinta Rachel, ia bahkan berlutut dibawah kaki Liam. Liam membuang pandangannya, ia lemah jika Rachel sudah seperti ini. Hatinya terlalu mencintai perempuan didepannya. Bahkan setelah perempuan itu berkali-kali menyakitinya, hatinya tak pernah berubah.
YOU ARE READING
KESEMPATAN KEDUA
RomanceSeorang perempuan berdiri di tengah kobaran api. Di hadapannya, seorang laki-laki memeluk erat tubuhnya yang telah terbujur kaku, menolak pergi meski maut sudah menunggu. "Pergi, Mas... tinggalkan aku..." Namun laki-laki itu tidak pernah mendengar. ...
