Gita sedang mengiris bawang dan cabe merah. Tangannya lumayan lihai memegang pisau. Keterampilan dasar memasak ini sudah ia miliki sejak masih SMP. Kalau cuma masak goreng-goreng lauk dia sudah biasa. Maminya punya restoran masakan autentik, masak pindang dia sudah jago.
Dari mama Ambar, Gita bisa belajar masakan baru yang belum pernah ia coba di rumah. Terutama makanan favorit calon suaminya. Ayam goreng bawang putih. Gadis itu sudah bisa membuatnya. Sekarang Gita sedang membantu mama Ambar memasak. Makan siang ini mereka akan membuat nasi liwet kesukaan papa Malik. Ia kembali subuh tadi.
Gita sangat kagum pada mama Ambar yang mengabdikan hidupnya untuk mengurus keluarganya. Ia sangat mencintai suami dan anak-anaknya. Mama Ambar selalu berusaha menyenangkan hati mereka. Makanan apapun yang mereka suka, pasti mama Ambar akan buatkan. Gita juga ingin jadi istri yang serba bisa seperti calon mertuanya ini, makanya dia senang membantu memasak di dapur, sebagai persiapan hidup berumah tangga.
"Git, bumbunya masukin di panci, biar mama yang lanjutin." Ucap mama Ambar.
"Iya, ma."
"Ayamnya udah 2 jam lebih deh, ma. Udah siap digoreng 'kan?" Tanya Gita.
"Iya goreng aja sekarang."
Gita menyiapkan minyak panas untuk menggoreng. Kemudian ia memasukkan satu per satu ayam yang telah dimarinasi selama 2 jam lebih. Goreng beberapa menit sampai warnanya golden brown.
"Udah pas tuh. Angkat aja." Ucap mama Ambar memeriksa tugas Gita.
"Okey, ma." Gita mengangkat gorengan pertama, kemudian mengulangi menggoreng ayam marinasi yang lain.
Nasi liwet sudah matang. Lauk pelengkap sudah hampir jadi semua, lalapan sudah dicuci, sekarang tinggal menyiapkan sajian di meja makan. Mama Ambar menyiapkan thinwall ukuran sedang dan kecil, diisi dengan nasi liwet beserta lauk pelengkapnya. "Git, tolong anterin ini ke rumah Manda, ya." Pinta mama Ambar.
"Emm ... Manda yang ..." Gita berpikir.
"Yang rumahnya depan situ, sebelum pos kamling." Sahut mama Ambar.
"Oh, yang istrinya temen mas Jo, ya?"
"Iya. Bener. Kasihan dia sering gak sempet makan gara-gara ngurusin anak."
"Loh, bukannya dia kerja ya, ma?"
"Undah resign."
Gita tak banyak bertanya lagi, ia mengambil ponsel dan menenteng kantong yang sudah disiapkan mama Ambar, "... Gita pergi dulu, ya." Pamitnya lalu melangkah keluar.
Rumah Manda tak jauh dari rumah mama Ambar. Hanya perlu jalan lurus sebentar, lalu sekali belok kanan dan sampai. Matahari terik seperti ada di atas kepala, wajarlah sudah hampir jam 12 siang. Rumah Manda tertutup rapat, carport-nya ditutupi kanopi. Di sana terparkir mobil-mobilan anak kecil dan sebuah kereta bayi warna merah. Gita mendorong pagar agar bisa masuk.
Prang ....
Ada suara barang pecah, bersamaan dengan tangisan dan teriakan. Gita jadi cemas, ia memencet bel dengan tergesa. Tak sabaran, ia mengetuk pintu dan berteriak memanggil "... kak Manda! Kak! Kak manda!"
Suaranya tidak terdengar, tangisan dan teriakan dari dalam masih berlanjut. Pintunya terkunci. Gita semakin khawatir, ia pun berlari ke arah samping dan menemukan pintu samping yang terbuka sedikit. Ia pun berlari masuk ke dalam tembus ke area cuci dan dapur. Lalu muncullah pemandangan yang mengiris hati.
"Kak Manda ...." Gita menghampiri Manda yang meringkuk menangis di sisi dinding kamar mandi. "... kak, ini Gita. Kak Manda kenapa?"
"Gita ...?" Ucapnya seraya mengangkat kepala, melihat Gita yang kebingungan.
YOU ARE READING
Nikah? Udah Siap Belum?
RomanceGita adalah gadis yang sangat ramah, sedangkan Johan pendiam, dingin, dan malas melihat Gita yang setiap liburan ada di rumahnya. Gita menerima perjodohan orang tua mereka, sedangkan Johan bersikeras menghindar. Seiring berjalannya waktu, penolakan...
