Prolog

10 1 0
                                        

Happy Reading
.
.
.

Sore ini, Jalan raya dipadati oleh kendaraan roda empat, ketika hari akan mendekati magrib, kecelakaan lalu lintas terjadi yang menargetkan seorang pemuda yang hendak menyeberang.

Nathan Bintang Elvino. Pemuda 21 tahun yang hendak menuju Cafe seberang untuk memesan minuman menjadi korban tabrak lari sore itu.

Bising nya mesin kendaraan, dan berisik nya sahut-sahutan manusia yang menyaksikan Nathan tergeletak mengenaskan di aspal tidak membuat korban ikut berempati dengan kondisinya sendiri.

Pikirannya tertuju pada suatu Nama.

Dante Seandra Elvian.

Adiknya yang tewas di jalanan beberapa bulan lalu berhasil menarik ingatan Nathan. Bayang-bayang adiknya yang bersimbah darah membuat Nathan dihantui oleh rasa bersalah, ketakutan dan trauma mendalam dengan jalanan. Saudara satu-satunya yang ia benci bertahun-tahun, ia jadikan alasan luka masa lalu yang tidak pernah dimaafkan.

Bahkan di Detik-Detik terakhir Nathan melihat Dante untuk yang terakhir kalinya, barulah kata maaf itu terucap dari bibir nya. Namun sang penerima maaf tidak dapat mendengar maaf nya. Sejak saat itu, Nathan tidak berhenti menyalahkan dirinya atas kematian Dante.

Sirine Ambulans samar-samar terdengar ditelinga nya, Pasokan oksigen terasa melemah dan kedipan matanya melambat.

"Jika ada kesempatan kedua...aku akan memperbaiki "

Lalu setelahnya gelap pun menenggelamkan kesadaran Nathan.

☆☆☆☆☆
☆☆☆☆
☆☆☆

"Tuan muda, anda bisa mendengar saya?"

Nathan terbangun dengan nafas tak beraturan, dirinya seperti di ajak berenang ke suatu tempat yang dalam lalu ditinggalkan begitu saja di kedalaman yang tidak bisa ia hadapi.

Sepi sesaat lantaran Nathan tidak mengenali tempat dimana dirinya terbangun. Langit-langit aspal yang basah dan hujan yang turun telah runtuh, digantikan oleh Langit-langit kamar mewah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Namun tak berapa lama, air matanya menetes perlahan. Mengira ini semua masih mimpi efek dari kecelakaan sore itu, namun

"Tuan, anda baik-baik saja?" Pandangan Nathan beralih ke seorang lelaki dewasa yang bersikap formal berdiri di samping tempat tidurnya dengan raut wajah khawatir. Nathan tidak mengenali pria itu.

"Siapa kamu?" Nathan bertanya dengan kesadaran yang masih belum terkumpul. Lelaki itu berdeham sejenak sebelum menjawab

"Saya Albert Tuan, kepala pelayan disini. Anda mungkin masih linglung karena kejadian semalam" Paman Albert menjawab sopan.

"A-apa yang terjadi semalam?" Tanya Nathan pelan.

"Anda pingsan setelah mengabaikan makan malam anda sejak kemaren " Jawaban dari Albert membuat kebingungan Nathan semakin meluap.

Belum sempat ia bertanya lagi, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan seorang remaja dengan wajah datar mendekati mereka dengan ekspresi rumit-lebih ke benci, segan, ada sedikit khawatir dari tatapan datarnya.

Saat Nathan menatap remaja itu, Tubuhnya seperti tersengat listrik. Trauma dan rasa takut kehilangan yang mendalam dari kehidupan masa lalunya mendadak bangkit, mencengkeram kesadarannya hingga dia gemetar. Itu wajah yang sangat mirip. Wajah saudaranya yang gagal dia selamatkan.

Deg

Dante?

Nathan refleks berdiri begitu melihat remaja tersebut yang sangat mirip dengan Adiknya, Dante. Ketika tangannya hendak menyentuh bahu remaja itu, Peringatan sarkasme keluar dari mulut remaja itu.

"Mau apa lagi? Aku kesini bukan untuk mengganggu mu. Aku disini karena perintah Ayah" Suara remaja itu terdengar datar tanpa intonasi yang berlebih, Pandangan nya sedikit goyah oleh tindakan Nathan barusan

"Ayah mengundang makan malam lagi, Dan beliau berharap kali ini kau hadir" Tanpa balasan yang pasti, remaja itu keluar dari kamarnya setelah mengangguk sekilas kepada Albert.

"Tuan Muda, mohon tenang. Saya tahu Anda sangat membenci kehadiran adik Anda di rumah ini, tapi..."

Mendengar kata-kata itu, Nathan perlahan menarik kembali tangannya. Otaknya yang cerdas mulai
menyatukan kepingan-kepingan kenyataan yang gila ini.

Dia tidak mati. Dia bertransmigrasi.

"Paman, Siapa nama remaja tadi?"

"Rayyan Raphael, Calon adik tiri anda"

Dan dari reaksi orang-orang di kamar ini, tubuh yang dia tempati sekarang tampaknya memiliki reputasi sebagai orang yang dingin, ketus, dan sangat tidak peduli pada saudaranya sendiri.

Nathan mengepalkan tangannya yang masih gemetar di balik lengan baju. Matanya menatap lurus ke arah
remaja di depannya, melunakkan tatapan paniknya menjadi sebuah pandangan yang datar, mencoba menyesuaikan
diri dengan topeng "dingin" pemilik tubuh asli.

Namun di dalam hatinya, Nathan bersumpah demi sisa jiwanya
yang tersisa: Aku tidak peduli seberapa dingin tubuh ini di masa lalu. Kali ini, di kehidupan ini, aku tidak akan
membiarkanmu terluka sedikit pun.

Belum Revisi

Vote☆

Tandai typo.

The Second HeartbeatStories to obsess over. Discover now