Seyra Almeera Pradipta - 18 tahun.
Kalau ada yang melihatnya sekilas, mungkin orang-orang akan berpikir bahwa hidupnya baik-baik saja.
Seyra adalah tipe orang yang mudah tertawa, mudah akrab dengan orang lain, dan selalu punya cara untuk membuat suasana menjadi lebih hangat. Ia tidak pernah keberatan mendengarkan cerita orang lain, bahkan sering kali melupakan dirinya sendiri demi memastikan orang-orang di sekitarnya baik-baik saja.
Baginya, selama orang-orang yang ia sayangi bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
Atau setidaknya, itulah yang selalu ia katakan.
Karena tidak semua orang tahu bahwa Seyra juga seseorang yang terlalu pandai menyembunyikan semuanya.
Ia terlalu terbiasa mengatakan "aku nggak apa-apa."
Terlalu terbiasa tersenyum saat sebenarnya ingin menangis.
Dan terlalu sering menganggap dirinya tidak sepenting orang lain.
Sampai tanpa ia sadari, ada seseorang yang selalu bisa membedakan senyum tulus dan senyum yang dipaksakan.
Seseorang yang tahu kapan ia sedang lelah.
Seseorang yang hafal pesanan minumannya.
Seseorang yang tahu kalau Seyra akan diam saat sedang sedih.
Dan anehnya...
Bahkan Seyra sendiri tidak tahu sejak kapan orang itu mengenalnya sedetail itu.
Yang lebih aneh lagi...
Ia tidak pernah menganggapnya istimewa.
Setidaknya, belum.
Raka Mahendra - 19 tahun.
Kalau ditanya seperti apa Raka Mahendra, mungkin sebagian besar orang akan menjawab hal yang sama.
Baik.
Tenang.
Menyenangkan.
Dan terlalu sering mengalah.
Raka bukan tipe orang yang pandai berbicara soal perasaan.
Ia juga bukan seseorang yang suka menunjukkan perhatian secara berlebihan.
Namun, entah kenapa, ia selalu mengingat hal-hal kecil yang bahkan orang lain anggap tidak penting.
Hal-hal sederhana.
Seperti seseorang yang tidak suka bawang.
Seseorang yang lebih memilih duduk dekat jendela.
Seseorang yang selalu minum air putih setelah makan pedas.
Dan seseorang yang diam-diam takut petir sejak kecil.
Baginya, mengingat semua itu hanyalah kebiasaan.
Tidak lebih.
Karena selama ini, ia tidak pernah benar-benar bertanya kenapa hanya satu orang yang selalu berhasil memenuhi pikirannya.
Kenapa ketika melihat sesuatu yang lucu, orang pertama yang terlintas justru dia.
Kenapa ketika hari terasa berat, orang pertama yang ingin ditemui juga dia.
Dan kenapa...
Di antara banyak orang yang datang dan pergi, ia tidak pernah benar-benar membayangkan hidup tanpa kehadiran orang itu.
Padahal, mereka bahkan tidak pernah punya janji apa pun.
Tentang Mereka
Kalau dipikir-pikir, kisah mereka memang tidak pernah dimulai dengan cara yang istimewa.
Tidak ada cinta pada pandangan pertama.
Tidak ada pertemuan yang mengubah hidup.
Tidak ada pengakuan yang membuat jantung berdebar.
Mereka hanya dua orang biasa.
Yang bertemu seperti biasa.
Mengobrol seperti biasa.
Dan menjalani hari-hari seperti biasa.
Tidak ada yang spesial.
Setidaknya begitulah yang mereka pikirkan.
Sampai suatu hari...
Mereka mulai menyadari sesuatu.
Bahwa selama ini, mereka selalu kembali kepada orang yang sama.
Bahwa selama ini, mereka selalu menjadi orang pertama satu sama lain.
Dan bahwa selama ini...
Tidak pernah ada orang lain yang benar-benar bisa menggantikan posisi itu.
Namun, ada satu pertanyaan yang bahkan mereka sendiri tidak bisa jawab.
Sejak kapan semuanya dimulai?
Sejak kapan seseorang yang awalnya terasa biasa saja...
Berubah menjadi seseorang yang paling sulit untuk dilepaskan?
Dan mungkin...
Jawabannya sudah ada di setiap hari yang mereka lewati.
Hanya saja...
Tidak ada yang benar-benar menyadarinya.
YOU ARE READING
Entah Sejak Kapan
RomanceTidak semua orang yang selalu ada akan menjadi pasangan. Tapi bagaimana jika orang yang paling tidak pernah dianggap istimewa justru menjadi orang yang paling sulit kehilangan? Mereka tidak pernah berjanji untuk selalu bersama. Tidak pernah saling m...
