Hai semua! Ini cerita terbaru yang aku tulis di tahun ini. 🌈"Hari yang cerah tak selalu di awali dengan pelangi, ada kalanya hari itu di awali dengan badai, dan siapapun yang berhasil melalui badai itu akan memperoleh kekuatan."⛅
Jangan lupa vote ya, juga share dan follow.
•
•
•
•
Sinar matahari pagi mulai menyilaukan pandanganku. Aku melihat Ibu sedang membuka tirai jendela, membiarkan cahaya masuk menerangi kamar. Rasa kantuk masih menyergap, membuatku ingin kembali memejamkan mata dan menarik selimut lagi. Namun, baru saja aku hendak merebahkan tubuh, suara lembut Ibu memanggil.
"Alora, ayo bangun. Hari ini kan hari pertama sekolah, nanti kesiangan lho," serunya lembut.
"Iya, Ma..." jawabku malas.
Dengan mata masih terpejam setengah, aku berjalan sempoyongan menuju pintu. Tanpa sadar, arah langkahku meleset. Bukan menembus pintu, kepalaku justru membentur keras dinding.
"Bruk..."
"Aduh, Ma! Sakit..." rintihku sambil memegang dahi yang mulai terasa panas dan membiru.
"Ih, anak ini... Makanya jalan itu lihat-lihat dong," ucap Ibu sambil berjalan cepat menghampiriku dengan wajah panik. Ia meniup pelan bagian yang memar itu, dan anehnya, sentuhan hangat itu seketika menghilangkan rasa sakitku.
Setelah diobati, aku kembali ceria seolah tak terjadi apa-apa. Aku berlari mengambil handuk bemotif Barbie kesayanganku. Rasanya bangga sekali, seolah aku sudah tumbuh menjadi gadis dewasa.
Aku masuk ke dalam bak mandi berisi air hangat yang sudah disiapkan Ibu. Rasanya sungguh nyaman dan menenangkan, tak terasa sudah 8 menit aku menghabiskan waktu di kamar mandi.
"Tok, tok, tok..."
Ketukan pintu memecah ketenangan. "Nak, mandinya sudah ya, sekarang kita pakai seragam sekolah!" seru Mama dari luar.
"Iya, Ma!" sahutku cepat.
Dengan teliti, Mama mengelap sisa air di tubuhku. Ia mengoleskan minyak kayu putih, menaburkan bedak bayi yang wangi, hingga memakaikan seragam SD lengkap padaku.
"Mama memang yang terbaik!" teriakku girang.
Mama hanya tersenyum tipis melihat tingkahku yang polos dan kadang terasa aneh baginya.
Di meja makan, aroma masakan Mama sudah memenuhi ruangan. Ia sedang menyajikan makanan untukku, Kak Nella, Kak Laras, dan Bang Tio. Seperti biasa, Ayah sudah pergi bekerja lebih awal, jadi Mama selalu menyiapkan bekal khusus agar Ayah tidak kelaparan di jalan.
"Makanannya siap!" seru Ibu sambil meletakkan piring-piring berisi udang bumbu rempah, nasi goreng, ayam katsu, tahu goreng, dan sayur bayam.
Aku mengendus-endus udara dengan rakus. Ibuku memang jago masak, pantas saja Ayah bisa jatuh cinta padanya. Kan ada pepatah bilang, untuk menaklukkan hati seseorang, taklukkan dulu perutnya.
Kami pun mulai menyantap hidangan dengan lahap. Aku tidak mau kalah dengan ketiga saudaraku, makanku super cepat seolah sedang berlomba siapa yang paling dulu habis.
Bang Tio memang paling suka menggodaku. Ia selalu memanggilku "Si Kuda" karena gaya rambutku yang di kuncir kuda.
"Cie... Si Kuda mau sekolah nih," godanya sambil tersenyum mengejek.
Aku menatapnya sinis. Tanpa pikir panjang, tanganku yang mungil langsung mencengkeram dan menarik rambutnya kuat-kuat. Ia meringis kesakitan dan memohon ampun, tapi aku justru makin kencang menariknya. Rasanya puas dan paling berkuasa saat itu.
BẠN ĐANG ĐỌC
Lencana Korban Yang Kau Sematkan
Lãng mạnAku cuma anak kecil dengan banyak mimpi. Kukira semua gampang digapai. Aku suka gambar, jahit, nyanyi. Cita-citaku jadi dokter. Tapi semakin dewasa, yang kutemukan cuma rasa trauma dan ketidakadilan. Di sekolah. Di rumah. "Kenapa aku yang selalu...
