01.13 AM - East District
Hujan baru saja berhenti. Kabut tipis masih melayang rendah di antara gedung-gedung, membuat cahaya kota tampak samar dan tersebar. Aspal jalanan yang basah memantulkan warna neon biru dan merah dari billboard raksasa yang menggantung di antara bangunan, seolah permukaan jalan itu berkilauan seperti kaca retak. Sirene polisi menggema di kejauhan, naik turun bercampur dengan deru mesin kendaraan yang masih meraung dari bawah. Kota itu memang tidak pernah benar-benar tidur.
Di atas semua itu, di atap gedung berlantai dua belas, seorang pemuda berlari dengan langkah cepat dan ringan. Dia tertawa seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia.
"Kalau aku mati hari ini, kuharap jasa-jasaku tetap kalian ingat."
Suara Oaujun terdengar terlalu santai untuk seseorang yang sedang ditembaki. Tiga peluru menghantam dinding beton tepat di belakang kepalanya, menaburkan serpihan batu ke udara lembap.
Dia melompat.
Jarak antara dua gedung itu cukup lebar untuk dianggap gila. Tubuhnya melayang sebentar di angin malam, hoodie hitamnya berkibar lebar seperti ingin meraih kegelapan. Di tangan kirinya, sebuah flash drive kecil berwarna silver terjepit kuat di antara jari-jari yang kulitnya sudah lecet dan sedikit berdarah.
Dari earpiece yang terselip di telinga kanannya, suara Fiat langsung menyambar. Dingin dan tajam. "Diam dan belok kiri sekarang."
Oaujun mendarat miring di atap berikutnya. Tumit sepatunya bergeser di atas permukaan yang masih licin, nyaris terpeleset jatuh ke samping. Dia berhasil menyeimbangkan diri dalam sekejap.
"Kamu galak banget, padahal aku hampir mati."
"Sayang sekali belum."
Oaujun tertawa lagi, suaranya terbawa angin.
Beberapa kilometer dari sana tersembunyi di ruangan bawah tanah yang remang dan kedap suara, Fiat duduk di depan deretan monitor yang berkedip-kedip tak henti. Dia memejamkan mata sebentar, menekan ujung jari ke pelipisnya yang berdenyut. Layar besar di depannya menampilkan peta kota yang terperinci. Satu titik merah bergerak cepat melintasi blok demi blok. Titik itu adalah Oaujun. Di belakangnya tiga belas titik lain mengejar beriringan tanpa jeda. Jari-jari Fiat bergerak lincah di atas keyboard. "Lompat ke tangga darurat sebelah kanan. Ada kamera di depanmu, ambil titik butanya."
"Yang mana? Aku lihat ada tujuh kamera."
"Yang mana saja asal tidak membuatmu tertembak."
"Oh. Sangat membantu."
Di layar, titik merah itu makin cepat. Langkahnya liar, tidak teratur, sama sekali tidak mengikuti pola atau teori taktis mana pun. Tidak ada yang bisa menebak arah gerakan selanjutnya. Dua pria bersenjata muncul dari pintu akses atap beberapa meter di depan. Orang biasa akan berhenti atau bersembunyi. Oaujun malah menyeringai, sudut bibirnya terangkat penuh tantangan.
"Fiat."
"Apa?"
"Aku punya ide bagus."
Fiat langsung menegakkan badan, otot lehernya menegang.
Tanpa aba-aba, Oaujun melompat naik ke pagar pembatas atap yang tinggi dan sempit. Sesaat dia berdiri di sana, bayangannya memanjang di bawah cahaya lampu jalan. Dia menjatuhkan diri ke bawah tanpa ragu.
Fiat menahan napas.
Tubuh Oaujun menghantam lapisan kain penutup konstruksi gedung, bantalan yang cukup tebal untuk memecah kecepatan jatuh sebelum berguling kasar ke balkon lantai sembilan. Dia meringis tajam saat tulang rusuknya terasa bergetar nyeri.
YOU ARE READING
The Velvet Four
FanfictionEmpat kriminal muda & satu organisasi elit yang mengontrol dunia lewat sistem. Awalnya The Velvet Four yang beranggotakan Pluem, Chimon, Oaujun, dan Fiat cuma ingin mencuri berlian. Lalu mereka menemukan data kasus trafficking, pembunuhan politik, d...
