Kang Jihoon sangat membenci hari Senin. Sebenarnya bukan hanya hari Senin saja; hari Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat juga tidak jauh berbeda. Baginya, semua hari kerja hanyalah variasi dari rutinitas yang sama.
Berlari dari satu jadwal ke jadwal berikutnya, menghadiri konferensi pers yang tak ada habisnya, mengejar selebriti di bandara demi satu kutipan singkat, menunggu berjam-jam di depan gedung agensi demi satu foto eksklusif, menulis artikel hingga larut malam, lalu terbangun keesokan harinya untuk memburu berita baru sebelum berita lama sempat menjadi basi.
Selama sepuluh tahun menjadi reporter di dunia hiburan, skala hidup Jihoon hanya berputar di rutinitas yang sama, mulai dari bangun pagi, berdesakan di kereta bawah tanah hanya untuk mengejar berita, bekerja di depan komputer selama berjam-jam, pulang larut malam, tidur, lalu mengulang semuanya keesokan harinya.
Begitulah hidupnya selama beberapa tahun terakhir ini. Tidak terlalu buruk sih..., tetapi juga tidak bisa dibilang baik. Hidupnya berjalan datar seperti garis lurus yang tidak pernah naik ataupun turun. Jihoon mengangkat cangkir kopi yang sudah dingin dan meneguk isinya. Pahit, sama seperti suasana hatinya saat ini. Ia melirik jam di pojok monitor.
22:38
"Lembur lagi..."
Suara gumamannya tenggelam di antara suara ketikan keyboard dan dengungan pendingin ruangan. Seluruh tubuhnya terasa pegal, bahunya kaku, dan matanya lelah. Namun pekerjaan di layar belum selesai. Di ruangan itu masih ada beberapa orang yang bertahan. Salah satunya adalah Park Jisung, rekan kerjanya.
"Jihoon."
"Hm?"
"Kau yakin ingin menerbitkannya?"
Kang Jihoon tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada layar komputer di hadapannya yang dipenuhi puluhan foto, rekaman percakapan, serta dokumen hasil investigasi yang telah ia kumpulkan selama hampir tiga minggu terakhir.
Di bagian paling atas dokumen itu tertulis sebuah nama.
Yoo Hyunwoo.
Mantan finalis ST★RLIGHT Season 2 sekaligus member salah satu boy group paling populer di Korea Selatan. Seorang idol dengan jutaan penggemar, puluhan kontrak iklan, dan citra sempurna yang nyaris tanpa cela.
Namun beberapa jam lagi, seluruh negeri akan mengetahui bahwa citra tersebut hanyalah kebohongan yang dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Jihoon sudah terlalu lama berkecimpung di dunia hiburan untuk mempercayai apa yang terlihat di permukaan. Selama sepuluh tahun bekerja sebagai reporter hiburan, ia telah menyaksikan bagaimana agensi menciptakan karakter untuk para artisnya, bagaimana media membentuk opini publik, dan bagaimana satu kesalahan dapat disembunyikan di balik senyum yang tampak sempurna di depan kamera.
Karena itulah ia memahami satu hal lebih baik daripada kebanyakan orang. Dalam industri hiburan, citra adalah segalanya. Dan sering kali, citra adalah kebohongan terbesar dari semua hal yang ia tahu.
Jihoon menyesap lagi kopi yang sudah dingin itu, lalu kembali memeriksa dokumen di layar untuk terakhir kalinya.
"Laporan ini sudah diverifikasi tiga kali."
"Tetap saja..." Park Jisung menggeleng pelan.
"Begitu artikel ini terbit, bakal ada kekacauan besar."
Jihoon menyandarkan tubuhnya ke kursi sejenak, sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya ke layar komputer.
"Tidak lebih besar dari kasus narkoba tahun lalu."
"Itu berbeda." Jisung mendecakkan lidah.
"Kasus itu cuma menghancurkan satu grup. Yang ini bisa menyeret agensi, sponsor, bahkan alumni ST★RLIGHT lainnya."
STAI LEGGENDO
System Error: Idol Required
FantasyKang Jihoon hanyalah seorang reporter biasa yang menghabiskan hari-harinya meliput kehidupan para selebriti dari balik kamera. Selama 10 tahun bekerja sebagai reporter hiburan, Jihoon telah mewawancarai puluhan idol terkenal, mengulas acara survival...
