Pagi hari tiba diiringi kicauan burung menemani matahari dari Timur. Sudah waktunya aku memulai hari untuk menjalankan keseharian rutinku sebagai petani di kota ini. Kota ini memang cukup kecil, namun terletak di depan kastil sehingga cukup aman dari serangan bandit karena banyaknya penjaga. Selain itu, kota ini dialiri oleh sungai yang jernih namun tidak deras, sehingga lahan pertanian di luar tembok kota yang biasa aku olah, sangat subur dan mudah untuk ditanami hampir semua tanaman yang dibutuhkan penduduk.
Keseharianku dimulai dengan berjalan menuju lahan di luar tembok kota, menyusuri deretan rumah penduduk, menyeberangi jembatan dari pinggir kota menuju tengah kota, hingga berjalan di antara toko-toko yang mulai bersiap untuk buka. Lucunya, hari ini banyak hal menarik di antara deretan toko.
Penjual roti tiba-tiba berteriak memarahi asistennya yang masih muda karena satu loyang roti terpanggang hingga gosong. Kasihan anak itu. Lalu, pandai besi kota terdengar menjerit cukup keras karena palunya meleset dari besi yang sedang ditempa, mengenai jempolnya. Pasti karena dia mengantuk, atau karena malamnya dia terlalu mabuk. Kurasa kemungkinan kedua lebih masuk akal. Aku tertawa keras melihat kejadian yang menunjukkan hidupnya kota ini, seraya berjalan menuju gerbang kota, lalu berbelok ke arah lahan tani di mana beberapa petani lain sudah mulai beraktivitas.
Hari berlangsung cepat ketika kita menikmati pekerjaan. Matahari tiba-tiba sudah berada tepat di atas kepala, menunjukkan waktunya istirahat. Banyak petani memilih beristirahat di pepohonan terdekat, memakan bekal makanan yang disiapkan dari rumahnya. Namun, aku dan beberapa petani lainnya memutuskan kembali ke kota untuk makan di sebuah kedai. Tentunya kedai tua langganan kami.
Setibanya di tengah kota, terlihat kerumunan di suatu titik. Orang-orang tersebut adalah penduduk kota yang ingin bertemu para anggota kerajaan. Ya, Raja dan Ratu kerajaan ini, rutin berkunjung untuk makan siang dan menyapa para penduduknya. Sang Raja dan Ratu baru naik tahta dalam beberapa tahun ini, namun mereka sudah sangat disayangi oleh rakyatnya. Terlihat Raja dan Ratu diikuti oleh perangkat istana dan penjaga berjalan pelan sambil melemparkan senyum pada orang-orang. Tatapannya lembut dan penuh harapan.
Ketika rombongan pasangan tersebut melintas, tiba-tiba seorang bocah laki-laki berlari dan tersandung di tengah jalan. Tepat di hadapan Raja dan Ratu. Seketika, Sang Ratu menghampiri bocah tersebut, membersihkan luka di kakinya dan mengecup kepalanya seraya meminta dia berlari dengan lebih hati-hati. Setelah kejadian hangat itu, keluarga kerajaan melanjutkan perjalanan ke arah restoran favorit semua orang di tengah kota. Sementara, aku dan para petani melanjutkan ke arah kedai yang pastinya jauh lebih kecil.
Waktu istirahat usai tanpa terasa, aku pun kembali bekerja di ladang pertanian, mengolah tanah dan merawat gandum yang mulai menguning. Sepertinya petak gandum ini sudah dapat dipanen satu minggu lagi, dan hasilnya akan melimpah. Matahari mulai tenggelam dan pekerjaan di ladang pun usai. Aku bersama para petani lain pun mulai kembali menuju kota untuk pulang ke rumah masing-masing di pinggiran kota.
Akan tetapi, sore ini tampak ada yang berbeda di gerbang kota. Tidak ada satu pun penjaga yang terlihat berjaga di gerbang utama. Dari balik gerbang, justru terdengar berbagai macam suara. Sayangnya bukan suara musik yang merdu, namun suara-suara yang tampaknya mengkhawatirkan.
Aku pun berlari melewati gerbang menuju kota. Dari kejauhan tampak puluhan, bahkan lebih dari seratus orang yang mengenakan baju perang dan dilengkapi senjata-senjata yang mematikan. Dari warna baju dan bendera yang mereka bawa, orang-orang tersebut bukan berasal dari kerajaan ini. Semakin aku mendekat, semakin jelas bahwa mereka sedang menghunuskan dan menebaskan pedang ke arah para penjaga yang sedang membentengi para penduduk.
Memang, kota ini biasanya aman dari serangan bandit berkat adanya tembok tinggi, gerbang kokoh dan para penjaga kota yang tangguh. Akan tetapi, kota ini belum pernah menghadapi serangan dalam skala besar, terutama dari pasukan yang terlatih dan disertai perlengkapan perang yang lengkap.
ESTÁS LEYENDO
Pagi yang Damai di Kerajaan
FantasíaSebuah cerita pendek... atau mungkin lebih tepat disebut mimpi buruk yang tidak pernah selesai
