Suara makian yang bergetar hebat dari bibir pucat Gao Tu seolah menguap begitu saja, terserap oleh keheningan marmer kamar sayap barat yang mencekam. Respons yang diberikan oleh Hua Yong sama sekali bukan kemarahan yang meledak-ledak. Sebaliknya, sang pemimpin klan mafia tertinggi itu justru menghentikan gerakan tangannya di dagu Gao Tu sejenak. Sepasang mata elangnya menatap lekat-lekat kilatan rasa jijik dan amarah yang membakar di netra jernih sang Omega, lalu sebuah seringai dingin yang teramat licik perlahan terukir di wajah tegasnya.Bagi seorang predator seperti Hua Yong, penolakan keras dan binar kebencian dari mangsanya justru menjadi bahan bakar yang kian mempertegas obsesi gelap di dalam dadanya. Ia menyukai bagaimana melati putih ini mencoba mempertahankan sisa harga dirinya, meski kedua pergelangan kakinya telah terkunci rapat oleh borgol baja di atas ranjang raksasa itu."Sifat pemberangmu ini... benar-benar membuatmu tampak jauh lebih menawan, burung kecilku," bisik Hua Yong dengan suara baritonnya yang khas, begitu rendah, berat, dan sarat akan kepuasan terselubung.Tanpa membuang waktu lebih lama, Hua Yong perlahan-lahan menurunkan bobot tubuh jangkung dan bidangnya yang kokoh ke depan. Ia merangsek maju, mengurung tubuh mungil Gao Tu sepenuhnya di bawah kungkungan fisiknya yang dominan di atas ranjang beludru kelabu itu. Rembesan feromon kayu cedar hitam yang dingin dan menuntut patuh sengaja ia pancarkan dalam kapasitas penuh, menekan sirkulasi udara di antara wajah mereka hingga benar-benar habis tak bersisa.Hua Yong menundukkan wajah tegasnya, bergerak dengan ritme yang teramat pelan, lambat, namun pasti, berusaha mengunci dan mencium bibir ranum Gao Tu yang masih menyisakan anyir darah segar dari gigitannya sendiri. Ia ingin membungkam makian itu, menggantinya dengan klaim mutlak yang akan merusak seluruh sisa kesetiaan sang Omega."Hakh... l-lepas... m-menjauh dariku!" Gao Tu memekik dengan suara lembutnya yang kini terdengar sangat serak dan terengah-engah di bawah tekanan fisik Alpha kelas S tertinggi.Batin Gao Tu didera rasa sesak dan ketakutan yang teramat sangat berat, namun kesetiaan sucinya pada Sheng Shaoyou menolak untuk menyerah begitu saja. Dengan sisa kekuatan dari tubuhnya yang tengah membakar akibat siklus rut yang dipaksakan, Gao Tu terus memutar dan memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara histeris, berusaha sekuat tenaga menghindar agar bibir kotor milik sang mafia tidak sedetik pun menyentuh permukaan bibirnya. Air mata keputusasaannya mengalir deras, membasahi pipi yang memucat seiring dengan napasnya yang kian memburu pendek di tengah pergulatan batin yang teramat menyayat hati di dalam kamar yang terkunci rapat malam itu.
Rembesan feromon kayu cedar hitam yang kian pekat dan berat seolah-olah menjadi dinding tak kasat mata yang menjerat seluruh pasokan udara di dalam kamar utama sayap barat itu. Pagutan paksa Hua Yong pada bibir ranum Gao Tu terasa begitu menghancurkan. Saking kasarnya ciuman itu, Gao Tu merasa dunianya seakan berputar hebat. Rasa anyir darah yang merebak di antara sela-sela penyatuan paksa tersebut bukan lagi sekadar berasal dari luka gigitannya sendiri, melainkan karena bibirnya mulai robek akibat penekanan brutal dari bibir tegas sang pemimpin mafia.Gao Tu mencengkeram erat kemeja hitam Hua Yong dengan jemari murninya yang kian mendingin. Ia mencoba menggunakan sisa-ssea kuku jarinya untuk mencakar, mendorong, atau apa pun demi bisa menciptakan jarak satu senti saja agar bisa meraup oksigen. Namun, genggaman erat tangan kekar Hua Yong pada tengkuknya justru semakin mengunci mati posisinya. Penekanan itu begitu absolut, seolah-olah Hua Yong sedang menegaskan bahwa tidak ada satu jengkal pun dari tubuh sang Omega yang boleh menolak otoritasnya malam ini.Ketika Hua Yong akhirnya menarik wajah tegasnya perlahan, sebuah benang saliva tipis yang bercampur bercak merah menjadi saksi bisu dari dominasi yang tak tersentuh di atas ranjang raksasa itu. Gao Tu langsung terbatuk lirih, dadanya naik-turun dengan sangat ekstrem, berusaha menghirup udara malam yang kini terasa begitu beracun karena dipenuhi esensi feromon sang predator tertinggi.Namun, Hua Yong tidak memberikan jeda bagi Gao Tu untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila.Pria jangkung itu menggeser kecupannya yang basah dan panas menelusuri garis rahang Gao Tu yang tengah bergetar hebat akibat luapan emosi yang teramat sangat berat. Sentuhan bibir Hua Yong berpindah secara perlahan menuju area sensitif di sekitar daun telinga Gao Tu. Di sana, ia mulai menciumnya secara intens, lambat, dan penuh penekanan biologis yang mematikan. Sentuhan bibir yang basah berpadu dengan bisikan napas panas beraroma tembakau mahal milik sang mafia mengirimkan gelombang kejut yang mengerikan langsung ke pusat saraf Omega milik Gao Tu.Fase rut yang sejak tadi dipancing paksa kini merespons lebih agresif. Tubuh mungil Gao Tu menggelayut dan bergetar di luar kendali otaknya sendiri. Resonansi ABO yang dipaksakan ini terasa bagai siksaan fisik yang paling kejam bagi batinnya; tubuh biologisnya mulai terbuai oleh wewangian cedar hitam, sementara jiwanya terus menjerit histeris menolak pengkhianatan insting tersebut."Hakh... j-jangan... ku-mohon hentikan... hakh..." Gao Tu meratap dengan suara yang sudah sepenuhnya hancur, serak, dan terputus-putus di antara deru napasnya yang kian terengah-engah.Air mata keputusasaannya mengalir deras tanpa henti, membasahi permukaan seprai beludru kelabu di bawah kepalanya. Ia menyatukan kedua tangannya yang gemetar di depan dada, mencoba memohon dengan sisa harga diri terakhir yang ia miliki. "Shaoyou... hakh... j-jangan lakukan ini... Dosen Hua, aku mohon... jangan lanjutkan... lepaskan aku..."Mendengar ratapan yang begitu rapuh dan menyedihkan itu, seringai di wajah tampan Hua Yong justru kian menggelap, memancarkan kilatan obsesi yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Nama Sheng Shaoyou yang terus keluar dari bibir Gao Tu sama sekali tidak menciutkan nyalinya; hal itu justru memicu insting kebinatangan sang Alpha kelas S tertinggi untuk membuktikan siapa penguasa sejati atas hidup sang Omega malam ini.Hua Yong mempererat kurungan tubuh bidangnya, menekan bobot tubuhnya sepenuhnya di atas badan mungil Gao Tu hingga ranjang megah itu berderit pelan. "Menangislah sesukamu, burung kecilku. Panggilah kekasihmu sampai tenggorokanmu berdarah," bisik Hua Yong dengan suara baritonnya yang khas, teramat rendah, berat, dan sarat akan kekejaman yang mutlak tepat di depan daun telinga Gao Tu yang memerah panas. "Tapi malam ini, di dalam sangkar emas ini, hanya feromonku yang akan mengalir di dalam darahmu. Dan aku tidak akan berhenti sebelum tanda kepemilikanku tercetak permanen di leher indahmu."Tangan besar Hua Yong perlahan mulai turun, meraba kain pakaian Gao Tu secara perlahan namun pasti, siap menuntaskan obsesi gelapnya tanpa memedulikan lagi segala bentuk jeritan dan permohonan hancur dari sang melati putih yang kini sudah berada di ambang batas keputusasaannya yang paling dalam.
Ratapan dan permohonan yang keluar dari sela bibir Gao Tu yang gemetar seolah-olah hanya menjadi gema hampa yang membentur dinding marmer kamar sayap barat yang kokoh. Hua Yong menghentikan pergerakannya sejenak. Pria jangkung itu tidak mengeluarkan suara, juga tidak menunjukkan kilatan amarah yang meledak-ledak. Ia hanya diam, memaku pandangan sepasang mata elangnya yang sedingin es langsung ke dalam netra jernih Gao Tu yang telah dibanjiri air mata keputusasaan.Di dalam keheningan yang mencekam itu, Hua Yong menatap wajah cantik yang kini tampak begitu pucat dan rapuh di bawah kungkungan tubuh bidangnya. Namun, belas kasihan adalah hal yang tidak pernah ada di dalam kamus hidup seorang pemimpin tertinggi klan mafia. Hua Yong tetaplah Hua Yong-seorang Alpha kelas S dominan yang dididik di dunia bawah dengan hukum mutlak: apa yang telah diincar harus didapatkan, dan apa yang telah diklaim tidak akan pernah dilepaskan kembali, peduli seberapa hancur mangsa yang berada di dalam cengkeramannya.Dengan satu gerakan yang teramat tenang namun memiliki kekuatan yang absolut, Hua Yong menarik tangan kirinya dari tengkuk Gao Tu. Ia menyambar kedua pergelangan tangan mungil sang Omega yang sejak tadi mencoba memukul dan mencakarnya. Hanya dengan menggunakan satu tangan kekarnya, Hua Yong menyatukan kedua tangan Gao Tu, menariknya ke atas, dan menguncinya dengan paksa di atas kepala Gao Tu, menekan pergelangan tangan yang sedingin es itu ke permukaan seprai beludru kelabu hingga Gao Tu tidak memiliki celah lagi untuk memberikan perlawanan fisik.Kini, dengan satu tangannya yang bebas, Hua Yong mulai menurunkan pandangannya ke arah dada bidang Gao Tu yang naik-turun secara ekstrem.Jemari besar Hua Yong yang kasar perlahan-lahan bergerak menuju kancing paling atas dari kemeja yang dikenakan Gao Tu. Sentuhan kulitnya yang dingin terasa begitu kontras saat bersentuhan dengan permukaan kulit leher Gao Tu yang tengah membakar akibat siklus rut yang dipancing paksa. Satu kancing terlepas dengan bunyi geseran kain yang halus, mengekspos setitik kulit putih sang Omega yang kini telah merona kemerahan akibat rembesan feromon."Nggkh... l-lepas! Jangan sentuh aku, hakh... pergilah, iblis!"Melihat jemari Hua Yong yang mulai membuka kancing kedua bajunya, Gao Tu kembali memberontak secara histeris. Ia menggeliatkan seluruh tubuh mungilnya secara ekstrem di atas kasur raksasa itu. Kedua kakinya yang terikat oleh borgol baja ditarik dan dihentakkan sekuat tenaga, menciptakan suara gemerincing rantai besi yang beradu nyaring-kerincing... klank! klank!-memenuhi keheningan kamar yang terkunci rapat. Gao Tu mencoba memutar pinggangnya, berusaha memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri demi menjauhkan pakaiannya dari jangkauan tangan sang predator mafia.Namun, setiap jengkal pemberontakan yang Gao Tu lakukan justru terasa begitu sia-sia di bawah beratnya bobot tubuh jangkung Hua Yong yang mengurungnya tanpa ampun. Sentuhan jemari Hua Yong tetap bergerak dengan ritme yang teramat sangat pelan, lambat, namun pasti, mengabaikan segala bentuk jeritan, pukulan kaki, dan isak tangis hancur dari sang melati putih. Kancing ketiga kembali terlepas, membuat kain kemeja itu terbuka setengah dan memperlihatkan lekuk dada serta leher indah Gao Tu yang kini sepenuhnya terekspos di bawah pendar lampu tidur yang temaram.Aroma manis tubuh Gao Tu yang kian matang kini menguar semakin pekat ke udara ruangan, bersaing dengan pekatnya feromon kayu cedar hitam yang dilepaskan Hua Yong untuk merusak sisa-ssea pertahanan logika sang Omega. Di dalam sangkar emas yang sunyi dan terisolasi malam itu, Gao Tu hanya bisa menangis meraung-raung dengan dada yang sesak luar biasa, menyadari bahwa helai demi helai perlindungan terakhirnya sedang dikuliti secara perlahan oleh obsesi gelap sang penjahat egois yang siap menandainya secara permanen tanpa ada satu pun pertolongan yang bisa menjangkaunya lagi.
Pemberontakan histeris yang dilancarkan Gao Tu di bawah kungkungan tubuh bidang Hua Yong mulai terasa kacau dan tidak beraturan. Gesekan kulitnya pada seprai beludru kelabu menciptakan rasa panas yang menyengat, bersahutan dengan deru rantai borgol besi di kedua pergelangan kakinya yang terus berdenting kasar menahan hentakan kakinya. Kedua pergelangan tangan mungilnya yang terkunci di dalam satu cengkeraman tangan kiri Hua Yong mulai memar keunguan, memancarkan rasa ngilu yang luar biasa hebat. Namun, keteguhan batin sang Omega tetap menolak untuk menyerah pada intimidasi biologis dari Alpha kelas S tertinggi di hadapannya.Hua Yong menatap dingin ke arah sepasang tangan yang terus menggeliat mencoba melepaskan diri dari kuncian tangannya. Kilatan obsesi gelap di sepasang mata elangnya kian menajam, menyadari bahwa cengkeraman satu tangan tidak akan cukup untuk menahan keliaran melati putih ini jika ia ingin menuntaskan niatnya tanpa interupsi fisik.Dengan gerakan yang teramat cepat namun terukur, Hua Yong mengalihkan pandangannya sesaat ke arah meja kecil di samping tempat tidur raksasa tersebut. Di atas permukaan kayu marmer meja itu, tergeletak seutas dasi sutra hitam formal miliknya yang sengaja ia letakkan di sana sebelum menaiki ranjang. Tanpa melonggarkan tekanan tubuh bidangnya yang menindas dada Gao Tu, tangan kanan Hua Yong menyambar dasi tersebut.Hanya dalam hitungan detik, dengan ketangkasan brutal seorang pemimpin mafia, Hua Yong melilitkan kain sutra hitam itu berkali-kali pada kedua pergelangan tangan Gao Tu yang menyatu. Ia menarik ujung kain tersebut, mengikatnya dengan simpul mati yang teramat sangat kuat pada salah satu celah ukiran besi tiang penyangga di atas kepala Gao Tu.SRET... KLANK!"Nggkh... hakh! Lepaskan! Sakit, iblis... ku-mohon lepaskan tanganku!"Gao Tu menjerit lirih dengan suara lembutnya yang kini sudah sepenuhnya serak dan pecah menjadi ratapan hancur. Begitu Hua Yong menarik tangannya mundur, Gao Tu mencoba menarik lengannya ke bawah, namun lilitan dasi sutra itu justru mengikat kulit pergelangan tangannya semakin kencang, menahan kedua tangannya secara absolut di atas kepala tanpa ada celah seujung kuku pun untuk bergerak lagi. Kedua kakinya diborgol besi, dan kini kedua tangannya diikat mati oleh dasi. Gao Tu sepenuhnya terekspos, telanjang dari segala bentuk pertahanan diri di atas ranjang beludru kelabu itu.Di tengah keputusasaan yang kian mencekik ulu hatinya, Gao Tu menatap Hua Yong melalui pandangan matanya yang buram oleh air mata yang terus mengalir deras membasahi pelipis. "Dosen Hua... aku mohon... hakh... demi Tuhan hentikan... jangan lakukan ini padaku... aku kekasih Shaoyou... hakh... ku-mohon..." ratapan itu keluar bersama dengan deru napasnya yang kian terengah-engah akibat siklus rut yang kian membakar seluruh kesadarannya. Gao Tu memohon dengan sisa harga diri terakhirnya, berharap ada setitik kemanusiaan di dalam dada pria jangkung di atas tubuhnya.Namun, Hua Yong tetaplah Hua Yong-seorang predator tertinggi yang tidak akan pernah membiarkan satu pun mangsa yang telah masuk ke dalam wilayah perburuannya terlepas kembali hanya karena sebuah permohonan rapuh. Baginya, nama Sheng Shaoyou yang terus keluar dari bibir Gao Tu justru menjadi sebuah penghinaan yang harus ia hapus seutuhnya dari ingatan sang Omega malam ini juga.Hua Yong sama sekali tidak membalas ratapan tersebut dengan kata-kata. Ia justru kembali menundukkan wajah tegasnya yang dingin, mengunci rapat sepasang mata elangnya pada bibir ranum Gao Tu yang robek dan berdarah. Dengan satu gerakan lambat yang penuh dengan kejamnya dominasi mutlak, Hua Yong kembali membungkam bibir Gao Tu dengan sebuah ciuman paksa yang teramat sangat intens, dalam, dan tanpa sela."Mmph... nggkh...!"Gao Tu memekik tertahan di balik penyatuan paksa yang mengunci habis seluruh pasokan udaranya. Ciuman Hua Yong kali ini terasa berkali-kali lipat jauh lebih menuntut dan menginvasi pertahanannya. Lidah sang mafia merangsek masuk tanpa ampun, menyerap seluruh sisa napas manis Gao Tu, mengecap rasa anyir darah di mulut sang Omega seolah itu adalah piala kemenangannya atas Sheng Shaoyou. Gao Tu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan gerakan terbatas yang teramat sangat tersiksa di bawah kuncian bibir Hua Yong, merasakan feromon kayu cedar hitam yang dingin kian merembes pekat menghancurkan seluruh sisa kewarasan dan dinding kesetiaan di dalam batinnya yang kini telah runtuh seutuhnya ke dalam jurang kegelapan malam yang terisolasi itu.
Di bawah temaram pendar lampu tidur yang redup, kain kemeja yang membungkus tubuh Gao Tu kini telah terbuka sepenuhnya, tersingkap ke sisi kanan dan kiri ranjang beludru kelabu akibat renggutan pelan namun pasti dari jemari Hua Yong. Lembaran kain itu kini mengekspos seutuhnya sebidang dada ramping yang luar biasa indah, dengan kulit putih mulus yang kini telah merona kemerahan yang pekat akibat hantaman demam heat dari dalam tubuhnya. Tubuh anggun itu kini hanya menyisakan sepotong celana pendek katun tipis yang ia gunakan di apartemen sebelum sang predator mafia membawanya pergi secara paksa. Pemandangan kontras antara kulit putih yang membara, lilitan dasi sutra hitam di atas kepala, serta sepasang borgol baja di pergelangan kaki menciptakan siluet visual yang teramat sangat menyayat hati sekaligus mempertegas kepasrahan mutlak sang melati putih.Hua Yong menahan bobot tubuh bidangnya dengan kedua siku menumpu di sisi kepala Gao Tu, membiarkan dadanya yang kokoh bergesekan langsung dengan dada Gao Tu yang naik-turun secara ekstrem akibat napas yang kian memburu pendek. Sebuah seringai dingin yang teramat licik dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah tegas sang pemimpin klan mafia tertinggi. Sepasang mata elangnya bergerak lambat, menyusuri setiap lekuk keindahan yang kini telah berada sepenuhnya di bawah kuasanya tanpa ada satu jengkal pun yang terlewat.Hua Yong memiringkan kepalanya sedikit, merangsek maju hingga bibir tegasnya menyentuh permukaan daun telinga Gao Tu yang memerah panas. Di sela-sela deru napasnya yang berat dan beraroma tembakau mahal, ia berbisik dengan suara bariton yang teramat rendah, dalam, dan sarat akan obsesi kepemilikan yang absolut."Aku benar-benar ingin menandaimu malam ini, burung kecilku... menancapkan taringku hingga ke dalam darahmu, agar kau benar-benar menyadari bahwa mulai detik ini, kau sepenuhnya menjadi milik pribadiku dan tidak akan pernah ada jalan untuk kembali pada pria itu lagi."Mendengar bisikan yang begitu kejam, Gao Tu hanya bisa memejamkan sepasang matanya erat-erat, membiarkan tetesan air mata keputusasaan mengalir semakin deras membasahi bantal beludru di bawah kepalanya. Ia ingin berteriak memaki, namun tenggorokannya yang kering telah lumpuh total oleh rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.Tanpa memberikan waktu bagi Gao Tu untuk menolak, Hua Yong perlahan-lahan menggeser kecupannya yang panas menelusuri garis rahang sang Omega yang kian bergetar hebat. Bibir tegas sang mafia bergerak turun menuju area ceruk leher, tepat di atas kelenjar Omega Gao Tu yang kini sedang berdenyut kencang memancarkan aroma manis yang teramat sangat memikat. Hua Yong mencium tengkuk Gao Tu dengan penekanan yang intim, lalu perlahan-lahan menjilati permukaan kulit sensitif tersebut, membiarkan air liurnya berpadu dengan rembesan feromon kayu cedar hitam yang kian pekat guna merayu insting biologi Gao Tu agar menyerah seutuhnya pada tuntutan dunia ABO.Gao Tu menggeliatkan tubuh mungilnya secara terbatas, meratapi pengkhianatan biologis tubuhnya yang justru mulai terbuai oleh sentuhan intens tersebut di luar kendali logikanya sendiri. Rantai borgol di kakinya kembali berdenting lirih, mengiringi isak tangis hancur yang tertahan di dada.Sentuhan Hua Yong tidak berhenti sampai di sana. Setelah mencium dan menghirup dalam-dalam wewangian di leher Gao Tu, bibir panas sang predator mafia perlahan-lahan mulai bergerak turun menelusuri tulang selangka yang menonjol indah. Setiap kecupan yang ia tinggalkan terasa begitu membakar, sengaja memberikan tanda-tanda kemerahan yang pekat di atas kulit putih mulus sang Omega sebagai klaim kepemilikan awal. Sentuhan itu terus merayap turun secara perlahan-lahan menuju dada Gao Tu yang berdegup menggila, mengikis habis setiap helai harga diri dan sisa kesadaran suci sang melati putih ke dalam pusaran duka dan kegelapan malam yang terisolasi di dalam sangkar emas itu.
Sentuhan bibir dan lidah panas Hua Yong yang sarat akan dominasi kejam terus merayap turun tanpa ampun, membelah permukaan kulit putih mulus Gao Tu yang kian membara akibat siklus yang dipaksakan. Setiap jengkal kecupan yang ditinggalkan oleh sang pemimpin klan mafia tertinggi itu terasa bagai terkaman predator yang sedang menandai wilayah kekuasaannya secara mutlak. Hingga akhirnya, pergerakan bibir tegas itu berhenti tepat di area dada Gao Tu-titik paling krusial dan sensitif yang selama ini dijaga kesuciannya dengan penuh rasa hormat oleh Sheng Shaoyou.Di sana, di atas bidang dada ramping yang tengah naik-turun secara ekstrem akibat pasokan udara yang kian menipis, Hua Yong mulai melancarkan serangan biologisnya yang paling intim. Lidah kasarnya bermain dengan ritme yang teramat sangat pelan, lambat, namun penuh penekanan yang intens. Sentuhan basah yang mematikan itu berpadu sempurna dengan siraman feromon kayu cedar hitam yang diuarkan dalam kapasitas penuh, langsung memutus sisa-sisa kendali saraf di otak Gao Tu.Sengatan rasa sensitif yang luar biasa dahsyat seketika menjalar hebat ke seluruh pembuluh darah sang Omega. Pertahanan batin Gao Tu yang sudah retak sejak awal, kini benar-benar lumpuh total oleh reaksi alami dunia ABO yang tak kasat mata."Nggkh... ahh... hakh...!"Sebuah suara lirih yang teramat halus, parau, dan sarat akan kepasrahan biologis mendadak lolos begitu saja dari sela bibir pucat Gao Tu yang terluka. Suara desahan pasrah yang teramat ia benci itu menggema pelan di dalam keheningan kamar sayap barat yang terkunci rapat. Detik itu juga, ulu hati Gao Tu terasa seperti dihantam oleh rasa bersalah yang luar biasa dahsyat hingga membuatnya sesak napas. Jiwanya menjerit histeris penuh kepedihan, menyadari bahwa tubuh biologisnya sendiri kini telah berbalik mengkhianati perintah otaknya. Tubuh rapuhnya mulai terbuai dan merespons setiap sentuhan gila dari Alpha kelas S tertinggi di atas tubuhnya, mengabaikan segala bentuk penolakan batin yang ia pertahankan mati-matian sejak sore tadi.Gao Tu memejamkan sepasang matanya erat-erat, membiarkan butiran air mata keputusasaan mengalir semakin deras, menganak sungai membasahi pelipis dan helaian rambut hitamnya yang lengket oleh keringat dingin. Setiap tetes air mata yang jatuh terasa seperti pembakar yang menghanguskan seluruh sisa harga dirinya. Ia merasa telah ikut menjadi seorang pengkhianat terbesar bagi Sheng Shaoyou, mengkhianati cinta suci dan janji kesetiaan empat tahun mereka hanya karena ketidakberdayaan insting hewaniah yang dipicu paksa oleh sang mafia.Di atas tubuh mungil yang tengah bergetar hebat menahan badai resonansi itu, Hua Yong perlahan mendongakkan wajah tegasnya sejenak. Sepasang mata elangnya yang sedingin es menatap lekat-lekat ke arah sudut netra jernih Gao Tu yang terus mengeluarkan air mata duka yang pekat.Sebuah senyuman licik yang teramat dingin dan penuh kepuasan absolut perlahan terukir di bibir tegas sang pemimpin mafia. Hua Yong sama sekali tidak merasa bersalah melihat penderitaan batin korbannya; sebaliknya, air mata keputusasaan dan suara lirih dari Gao Tu justru menjadi bukti kemenangan mutlaknya atas Sheng Shaoyou. Ia menyukai bagaimana sang melati putih tersiksa di antara kebencian jiwa dan ketundukan raganya. Dengan gerakan yang kian posesif, Hua Yong kembali menekan bobot tubuh bidangnya, memperdalam permainan lidahnya di dada Gao Tu secara intens, mengunci mati setiap celah kewarasan sang Omega ke dalam sangkar emas kegelapan malam yang terisolasi dan takkan pernah bisa dilepaskan kembali selamanya.
Sentuhan dingin yang perlahan menyusup dari balik kain katun celana pendeknya mengirimkan gelombang kejut yang membuat seluruh permukaan kulit Gao Tu meremang hebat. Laki-laki Omega itu seketika merasakan dunia di sekitarnya runtuh ke dalam jurang kehancuran yang paling dalam. Ketika telapak tangan kiri Hua Yong yang besar dan kasar mulai menyentuh area yang paling intim dan terlarang di dalam hidupnya, Gao Tu merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat, digantikan oleh rasa ngeri yang mencekik ulu hatinya.Gao Tu terus menggelengkan kepalanya secara histeris ke kanan dan ke kiri di atas bantal beludru yang kini basah kuyup. Rambut hitamnya yang berantakan bergerak liar seiring dengan tangisannya yang kian pecah dalam kesunyian. "Nggkh... m-mohon... jangan di sana... hakh... k-ku-mohon hentikan, Dosen Hua..." ratapnya dengan suara yang sudah sepenuhnya habis, parau, dan tersedat oleh isak duka yang teramat sangat berat. Jiwanya menjerit, memohon pada kekosongan malam agar permainan gila yang menodai harga dirinya ini segera diakhiri.Namun, pengkhianatan terbesar malam itu justru datang dari dalam kutukan sel biologis tubuhnya sendiri.Di bawah siraman feromon kayu cedar hitam yang kian pekat dan mengikat tanpa sela, tubuh Gao Tu yang tengah berada di puncak fase rut yang dipancing paksa justru memberikan respons yang bertolak belakang dengan jeritan hatinya. Aliran darahnya berdesir hebat, dan otot-otot tubuh mungilnya perlahan-lahan mengendur kaku, seakan menyerahkan diri secara sukarela dan menerima setiap jengkal pergerakan intim dari jemari sang predator mafia. Rasa hangat yang menjalar di area sensitif itu menjadi bukti mutlak bahwa raga sang Omega telah sepenuhnya berkhianat, tunduk di bawah hukum dinamika ABO yang mengunci mati kontrol logikanya.Di sela-sela suara lirih dan desahan pasrah yang sesekali lolos menembus bibirnya yang robek, Gao Tu hanya bisa meratapi nasibnya dengan tatapan mata yang kian meredup hampa. Ia merasa begitu kotor, merasa telah melangkah terlalu jauh ke dalam dosa pengkhianatan terhadap Sheng Shaoyou yang saat ini masih berjuang di belahan bumi lain.Hua Yong, dengan keliaran insting Alpha kelas S dominan yang telah menguasai seluruh akal sehatnya, sama sekali tidak membiarkan permohonan Gao Tu menghentikan gerakan tangannya. Jemari kirinya yang kini telah bergerak semakin lihai, basah, dan intens di balik kain celana pendek itu terus mengeksplorasi setiap jengkal titik sensitif Gao Tu tanpa memberikan celah sedikit pun bagi sang Omega untuk bernapas. Sentuhan kasar namun teratur itu sengaja ia lakukan untuk meruntuhkan sisa-ssea dinding kewarasan Gao Tu, memastikan bahwa ingatan akan sentuhan Shaoyou terhapus sepenuhnya dari memori tubuh sang melati putih di dalam sangkar emas yang terkunci rapat malam itu.
Pergerakan telapak tangan kiri Hua Yong di balik kain katun tipis itu kian lama kian berani dan menuntut kepatuhan yang mutlak. Dengan satu sentuhan kasar yang bertenaga, ia merenggut pelan sisa utas pelindung terakhir yang melekat di tubuh Gao Tu. Kain celana pendek itu kini terlepas, terlempar begitu saja ke sudut ranjang beludru kelabu yang raksasa. Detik itu juga, sang melati putih telah sepenuhnya ditelanjangi dari segala bentuk busana, membiarkan seluruh raga anggunnya terekspos tanpa ada satu pun penghalang di bawah pendar temaram lampu tidur yang kian meredup.Gao Tu tidak lagi memiliki tenaga untuk menggelengkan kepalanya. Isak tangis hancur yang sejak sore tadi memenuhi keheningan kamar sayap barat kini telah surut, berganti menjadi sebuah kepasrahan yang teramat sangat mati dan dingin. Tatapan dari sepasang mata jernihnya yang semula memancarkan binar keteguhan batin, kini berubah menjadi tatapan kosong yang menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang tinggi. Pikiran Gao Tu mendadak berubah menjadi sebuah ruang hampa yang tak bernyawa; jiwanya seolah-olah telah memilih untuk keluar meninggalkan raga indahnya yang malam ini dikuliti habis oleh obsesi gelap sang predator mafia.Di bawah kungkungan tubuh bidang Hua Yong, raga Gao Tu sepenuhnya bergerak di luar kendali akal sehatnya. Efek siklus rut yang dipancing paksa bersanding dengan siraman feromon kayu cedar hitam yang pekat telah merusak seluruh sistem saraf logikanya. Tubuh biologisnya mengkhianati perintah otaknya sendiri dengan cara yang paling kejam-merespons setiap sentuhan gila, mengendurkan sisa otot yang kaku, dan membiarkan wewangian tubuhnya melebur pasrah di bawah perintah sang Alpha kelas S tertinggi.Setengah jam berlalu dalam atmosfer yang teramat sangat mencekam, berat, dan sarat akan penekanan intim yang mematikan. Selama rentang waktu yang menyiksa batin tersebut, Hua Yong dengan keliaran insting predatornya terus menggunakan jemarinya yang lihai untuk melonggarkan area paling sensitif dan terlarang di dalam hidup Gao Tu. Sentuhan basah yang kasar namun teratur itu sengaja ia lakukan tanpa sela, menembus batas pertahanan terdalam sang Omega yang selama empat tahun ini selalu dijaga kesuciannya dengan penuh rasa hormat oleh Sheng Shaoyou.Setiap jengkal pergerakan jemari Hua Yong di area krusial itu mengirimkan sengatan rasa ngilu sekaligus resonansi ABO yang mengerikan, menyisakan suara lirih dan desahan parau yang sesekali lolos menembus sela bibir pucat Gao Tu yang robek. Rantai borgol besi di kedua pergelangan kakinya sesekali masih berdenting lirih-kerincing... klank...-bukan lagi karena sebuah pemberontakan aktif, melainkan karena tubuh mungilnya yang bergetar hebat di luar kendali akibat syok biologis yang teramat dahsyat.Hua Yong menyaksikan dengan sepasang mata elangnya yang sedingin es bagaimana pertahanan murni sang melati putih kini telah runtuh seutuhnya tanpa sisa. Sebuah senyuman licik dan kepuasan absolut terukir di wajah tegas sang pemimpin klan mafia tertinggi. Targetnya telah sepenuhnya siap, telanjang bulat di atas hamparan beludru kelabu tanpa ada satu pun dinding pelindung yang bisa menjangkaunya. Hua Yong perlahan-lahan menarik tangannya mundur, menatap lekat leher indah Gao Tu yang kelenjarnya kian berdenyut kencang memancarkan aroma manis yang matang, bersiap untuk menancapkan taringnya se dalam mungkin guna menyuntikkan benih kepemilikannya secara permanen malam itu.
Napas panas Hua Yong yang sarat akan aroma tembakau mahal dan feromon kayu cedar hitam kian menderu berat, merangsek masuk memenuhi sirkulasi udara di atas ranjang beludru kelabu yang raksasa. Detik-detik menuju puncak obsesi gelap yang telah ia susun dengan sangat rapi selama berbulan-bulan kini telah berada tepat di depan matanya. Dengan posisi tubuh bidangnya yang mengurung habis seluruh ruang gerak Gao Tu, sepasang mata elang sang pemimpin klan mafia tertinggi menatap tajam ke arah sasaran utama yang berada di leher indah sang Omega.Kelenjar feromon Gao Tu di bawah kulit lehernya tampak berdenyut kencang, memancarkan rona kemerahan yang pekat akibat hantaman siklus rut yang dipancing paksa. Tanpa memberikan aba-aba atau jeda sedikit pun bagi Gao Tu untuk bersiap, Hua Yong menundukkan wajah tegasnya yang sedingin es. Ia membuka sela bibirnya, memamerkan sepasang taring Alpha kelas S miliknya yang tajam, lalu menghujamkannya dengan kekuatan penuh tepat di atas kelenjar Omega tersebut.JLEB."ARRGHHH... NGGKHH... HAKH...!"Sebuah jeritan kesakitan yang teramat sangat dahsyat, parau, dan menyayat hati seketika meledak dari sela bibir pucat Gao Tu yang robek. Tubuh mungil sang Omega yang semula sudah mati rasa dan kosong mendadak tersentak hebat, menggeliat ekstrem di luar kendali saraf otaknya. Rantai borgol besi di kedua pergelangan kakinya berdentang begitu kasar-KLANK! BRRAK!-menahan hentakan kakinya yang refleks menegang akibat sengatan rasa perih yang luar biasa menghancurkan. Taring tajam Hua Yong merobek jaringan kulit terdalam di lehernya, menyuntikkan esensi feromon cedar hitam langsung ke dalam aliran darah sang Omega guna mengunci dan mengikat jiwanya dalam sebuah tanda kepemilikan permanen (permanent bond).Gao Tu meringis kesakitan dengan air mata keputusasaan yang meluncur semakin deras, membasahi bantal beludru yang kian basah oleh keringat dingin. Setiap detiknya terasa bagai siksaan neraka yang membakar seluruh sistem sarafnya. Rasa perih dari gigitan paksa itu menyatu dengan denyutan panas dari dalam kelenjar lehernya, memaksa insting biologis dunianya untuk tunduk menerima klaim mutlak sang predator.Hua Yong tidak terburu-buru menarik taringnya. Ia terus menahan gigitan dalam tersebut selama beberapa saat, membiarkan pertukaran feromon di antara tubuh mereka melebur sempurna hingga tanda kepemilikannya tercetak mati secara biologis di dalam darah Gao Tu. Setelah menunggu sedikit lama hingga tubuh mungil di bawahnya mulai melemas kembali dan terengah-engah dalam kepasrahan yang dingin, Hua Yong perlahan melepaskan gigitannya, meninggalkan bekas luka keunguan yang basah dan berdarah di leher sang melati putih.Seringai kepuasan absolut terukir di wajah tegas sang mafia saat ia melihat tanda miliknya telah terpatri sempurna. Tanpa memberikan waktu bagi Gao Tu untuk meraup oksigen atau meredakan rasa sakit di lehernya, Hua Yong mulai mengeksekusi fase akhir dari niat ekstremnya malam itu.Pria jangkung itu memosisikan tubuh tegapnya di antara kedua kaki Gao Tu yang terkunci oleh borgol baja. Dengan gerakan yang teramat sangat pelan, lambat, namun sarat akan kekuatan penetrasi yang mutlak, Hua Yong mulai memasukkan milik pribadinya ke dalam diri Gao Tu seutuhnya. Penyatuan fisik yang dipaksakan secara sepihak itu menghantam ulu hati Gao Tu dengan rasa sesak dan perih baru yang luar biasa dahsyat.Gao Tu hanya bisa meringis lirih, membiarkan seulas suara rintihan pasrah yang teramat ia benci lolos begitu saja menembus sela giginya yang bergetar. Jiwanya yang hancur berkeping-keping kini terpaksa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seluruh raga anggunnya, kesuciannya, hingga identitas biologisnya malam ini telah dirampas paksa dan seutuhnya berubah menjadi milik Hua Yong. Air matanya terus mengalir tanpa suara dalam kegelapan kamar sayap barat yang terkunci rapat, meratapi nasibnya yang telah tenggelam sepenuhnya ke dalam dosa pengkhianatan tak kasat mata terhadap Sheng Shaoyou yang kini tertinggal jauh di belahan dunia lain tanpa pernah bisa menyelamatkannya kembali dari sangkar emas yang mematikan ini.
Proses penyatuan paksa yang dilancarkan oleh pemimpin klan mafia tertinggi itu merayap dengan ritme yang teramat sangat menyiksa. Di bawah pendar temaram lampu tidur sayap barat yang kian mencekam, Hua Yong menekan bobot tubuh bidangnya maju secara perlahan, mendorong bagian intim dirinya untuk menembus batas pertahanan terdalam yang selama empat tahun ini dijaga kesuciannya dengan penuh rasa hormat oleh Sheng Shaoyou.Bagi Gao Tu, setiap milimeter pergerakan penetrasi yang dipaksakan secara sepihak itu terasa bagai terkaman belati yang menguliti dinding kesadarannya. Rasa perih yang teramat sangat dahsyat seketika menjalar hebat dari pusat tubuhnya, menjalar ke seluruh urat saraf, hingga membuat ulu hatinya terasa begitu sesak dan hampa. Kulitnya yang membara akibat siklus heat yang dipancing paksa kini berpadu dengan trauma fisik baru yang merobek seluruh rasa amannya.Dari sela bibir pucat Gao Tu yang terluka, terdengar seulas suara rintihan yang teramat lirih, parau, dan tersedat oleh isak duka yang mendalam. Ia meringis, mencoba menahan rasa sakit yang begitu luar biasa menghancurkan batinnya. Di dalam benak sang Omega yang kian meredup, sensasi penyatuan paksa ini terasa begitu mengerikan, seolah-olah seluruh raga anggunnya sedang direnggut dan dipaksa terbagi menjadi dua bagian secara kejam. Jiwanya menjerit histeris penuh kepedihan, meratapi ketidakberdayaan raganya yang kini benar-benar telah dikuliti habis di atas hamparan seprai beludru kelabu itu.Namun, Hua Yong tetaplah sosok predator berdarah dingin yang tidak akan pernah membiarkan korbannya memiliki celah untuk bernegosiasi dengan rasa sakit. Melihat kepasrahan mutlak dan mendengar rintihan lirih dari sang melati putih, sepasang mata elang sang mafia justru memancarkan kilatan kepuasan absolut yang teramat dingin dan licik. Ia tidak memberikan waktu atau jeda bagi tubuh Gao Tu untuk beradaptasi dengan rasa perih yang tengah menyiksanya.Dengan satu gerakan yang teratur, bertenaga, dan penuh dengan kejamnya dominasi Alpha kelas S tertinggi, Hua Yong mendadak mencengkeram erat pinggang ramping Gao Tu, lalu melesakkan seluruh miliknya ke dalam diri sang Omega dalam satu kali hentakan yang teramat keras dan mutlak.KLANK! BRRAK!Hantaman fisik yang begitu masif dan mendadak itu seketika membuat tubuh mungil Gao Tu tersentak ekstrem ke atas kasur. Rantai borgol besi yang mengunci kedua pergelangan kakinya berdentang begitu nyaring dan kasar, menahan sentakan kaki sang Omega yang refleks menegang lurus akibat kejutan rasa sakit yang berada di luar batas ketahanan manusianya. Seluruh pasokan oksigen di paru-paru Gao Tu seolah-olah tersedot habis seketika. Matanya yang basah kuyup membelalak lebar dalam kekosongan duka yang teramat sangat pekat, sebelum akhirnya sepasang kelopak mata indah itu perlahan meredup hampa. Air mata keputusasaannya meluncur deras tanpa suara, meratapi kehancuran total seluruh hidup, kesucian, dan takdirnya yang malam ini telah resmi disegel secara permanen menjadi milik pribadi Hua Yong di dalam sangkar emas yang takkan pernah bisa ia buka lagi selamanya.
Penyatuan fisik yang dipaksakan secara sepihak itu terus berlanjut di bawah pendar temaram lampu tidur sayap barat yang kian mencekam. Setiap jengkal pergerakan yang dilancarkan oleh Hua Yong terasa bagai runtunan badai yang menguliti dinding kesadaran Gao Tu. Rasa perih yang teramat dahsyat membakar dari pusat tubuhnya, menjalar ke seluruh urat saraf, hingga membuat ulu hatinya terasa begitu sesak. Namun, di tengah siksaan fisik dan batin yang luar biasa menghancurkan itu, keteguhan hati Gao Tu tetap menolak untuk menyerah sepenuhnya pada insting biologi dunia ABO.Gao Tu menggigit bibir bawahnya sendiri dengan teramat sangat keras, membiarkan rasa anyir darah segar kembali merebak di indra pengecapnya. Ia menggunakan rasa sakit itu sebagai jangkar terakhir untuk menahan suaranya. Ia berjuang mati-matian, mengerahkan seluruh sisa kontrol logikanya agar tidak sedetik pun mengeluarkan suara desahan pasrah yang teramat sangat ia benci. Bagi Gao Tu, menjaga suaranya tetap bungkam adalah benteng pertahanan terakhir untuk menjaga kesetiaan sucinya pada Sheng Shaoyou yang kini berada jauh di belahan bumi lain.Namun, Hua Yong tetaplah seorang predator berdarah dingin yang tidak suka jika dominasinya ditolak. Mengetahui bahwa sang Omega mencoba mengunci suaranya dalam kebungkan, sepasang mata elang sang pemimpin klan mafia tertinggi memancarkan kilatan obsesi yang kian menggelap. Hua Yong tidak membiarkan Gao Tu bersembunyi di balik keheningan itu.Dengan kelicikan insting Alpha kelas S dominan, ia sengaja mengubah ritme dan sudut pergerakannya, mencari cara paling intim dan menuntut di setiap titik sensitif tubuh Gao Tu. Jemari besarnya mencengkeram pinggang ramping Gao Tu kian posesif, sementara feromon kayu cedar hitam disemburkan kembali dalam kapasitas maksimal, langsung meremukkan pusat saraf kelenjar leher Gao Tu yang baru saja ditandai secara permanen. Tekanan biologis yang bertubi-tubi itu memaksa tubuh Gao Tu untuk merespons di luar kendali otaknya sendiri, hingga akhirnya seulas rintihan lirih dan suara desahan yang teramat parau terlepas begitu saja memecah kesunyian ruangan yang terkunci rapat.Di sela-sela momen yang merenggut seluruh harga dirinya tersebut, Gao Tu hanya bisa kembali menitikkan air mata keputusasaan yang meluncur semakin deras membasahi permukaan seprai beludru kelabu. Setiap tetes air mata yang jatuh terasa bagai pembakar yang menghanguskan seluruh sisa kesucian hidupnya. Ia meratapi pengkhianatan raganya sendiri, merasa jiwanya telah sepenuhnya hancur dan ikut menjadi seorang pengkhianat terbesar bagi hubungan kasih asmaranya bersama Shaoyou.Petaka di dalam kamar sayap barat yang terisolasi itu tidak berhenti dalam hitungan jam. Di bawah kendali mutlak sang mafia, pergulatan intim yang sarat duka dan pemaksaan ini terus berlanjut hingga tiga hari berturut-turut tanpa sela. Kamar itu berubah menjadi neraka dunia bagi Gao Tu, di mana waktu seolah membeku di antara denting rantai borgol besi di pergelangan kakinya dan pekatnya aroma cedar hitam yang mengurungnya.Karena tubuh mungil Gao Tu terus-menerus diguyur oleh feromon Alpha kelas S tertinggi dari jarak dekat, masa siklus rut dan demam heat yang membakar tubuhnya terpaksa berjalan secara ekstrem dan selesai jauh lebih cepat dari jadwal medis yang biasanya. Tubuh biologisnya dipaksa matang secara instan untuk menerima klaim Hua Yong. Akibat luapan emosi yang teramat sangat berat bersanding dengan kelelahan fisik yang melampaui batas ketahanan manusianya selama tiga hari penuh tanpa henti, kesadaran Gao Tu akhirnya runtuh seutuhnya. Sepasang kelopak matanya yang sembap perlahan meredup hampa, dan tubuh mungilnya terkulai lemas, jatuh pingsan kembali ke dalam kegelapan total di atas kasur raksasa itu, meninggalkan kamarnya dalam kesunyian yang mencekam di bawah tatapan kepuasan absolut sang predator tertinggi.
Setelah pergulatan intim yang menyiksa batin itu terus bergulir tanpa ampun selama tiga hari berturut-turut, keheningan yang teramat pekat akhirnya kembali menguasai kamar utama sayap barat mansion keluarga Hua. Tubuh mungil Gao Tu kini terbaring sepenuhnya tanpa daya di atas hamparan seprai beludru kelabu yang kusut. Sepasang kelopak mata indahnya tertutup rapat, tenggelam ke dalam pingsan yang teramat dalam akibat kelelahan fisik ekstrem dan hantaman syok biologis yang melampaui batas ketahanan manusianya.Hua Yong perlahan-lahan mengendurkan kekangan tubuh bidangnya, lalu beranjak turun dari atas ranjang raksasa tersebut. Dengan ketenangan seorang penguasa mutlak yang telah menuntaskan obsesi terbesarnya, ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah untuk membersihkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Guyuran air dingin membasahi tubuh tegapnya, menghanyutkan sisa-sisa peluh, namun tidak sedikit pun melunturkan aroma kayu cedar hitam yang kini telah melekat secara permanen di udara.Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan jubah mandi sutra hitamnya, Hua Yong kembali melangkah keluar. Langkah kakinya yang berat bergaung pelan, berjalan mendekati ranjang seraya membawa sebaskom air hangat dan selembar kain handuk lembut yang bersih.Pria jangkung itu kembali duduk di tepi kasur, memandangi sosok Gao Tu yang masih tidak sadarkan diri dengan tatapan mata elang yang memancarkan kilatan emosi teramat kompleks-sebuah perpaduan antara kepuasan absolut dan luka masa lalu yang selama ini tersimpan rapat di balik kegelapan jiwanya. Dengan gerakan yang teramat sangat pelan, lambat, dan penuh kehati-hatian, Hua Yong mulai mengusap permukaan kulit putih mulus Gao Tu yang merona kemerahan. Kain hangat itu mengalir lembut, membersihkan setiap jengkal raga anggun sang Omega yang baru saja ia kuliti habis selama tiga hari penuh tanpa sela.Di sela-sela kegiatannya membasuh tubuh lemas yang pasrah itu, Hua Yong mendadak menghentikan pergerakan tangannya tepat di bawah dagu Gao Tu. Ia menatap lekat-lekat bekas luka gigitan permanen (permanent bond) yang tercetak keunguan di leher indah tersebut, lalu sebuah senyuman licik yang getir perlahan terukir di bibir tegasnya."Aku hanya mengambil kembali hakku yang sudah lama menjadi milik pribadiku, Tu-er," bisik Hua Yong dengan suara baritonnya yang khas, teramat rendah, berat, dan sarat akan penekanan duka yang mendalam menembus kesunyian kamar.Ia mengusap pelan pipi pucat Gao Tu dengan ibu jarinya, lalu melanjutkan dengan nada bicara yang mendingin, membongkar sebuah rahasia besar yang selama ini terselubung di bawah bayang-bayang. "Aku telah menyuruhmu untuk menungguku selama bertahun-tahun sejak hari di mana kita terpisah oleh takdir yang kejam. Namun, apa yang kudapatkan setelah aku berhasil menemukanmu kembali di kampus itu? Kau justru tidak mengingatku sama sekali. Kau melupakan wajahku, melupakan namaku, dan dengan begitu mudahnya kau malah memiliki kekasih lain di sisimu."Hua Yong menarik napas panjang, membiarkan feromon cedar hitamnya kembali menguar tipis seolah ingin menegaskan kembali klaim mutlaknya pada raga yang sedang pingsan tersebut. "Seharusnya kau tidak mengkhianati janji suci kita saat dulu, sebelum dunia memisahkan kita secara paksa. Kau adalah melatiku, dulu, sekarang, dan selamanya. Dan mulai malam ini, aku telah menarikmu kembali ke tempat di mana kau seharusnya berada, di dalam sangkar emasku, tidak peduli seberapa besar kau harus membenciku untuk sisa hidupmu nanti."Setelah mengucapkan rentetan kalimat yang sarat akan luka masa lalu dan obsesi yang teramat sangat berat itu, Hua Yong kembali melanjutkan gerakannya membasuh tubuh Gao Tu dengan sangat telaten, mengunci masa depan sang Omega seutuhnya ke dalam sebuah labirin takdir baru yang takkan pernah bisa dibuka oleh siapa pun lagi.
SEMOGA KALIAN SUKA YAH, sorry kalau padat aku baru pertama kali soalnya sorry yah 🙏🙏🫠
*****SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA❣️*****
YOU ARE READING
THE SHADOW OF OBSESSED CEDAR
General FictionChapter yang nggak bisa di up di tiktok
