"3 tahun itu bukan waktu yang lama rin...", ucap seseorang dengan parau, ia menahan semua sesak di dada,dengan tangan yang bergetar hebat, juga mata yang sudah hampir menumpahkan butiran hangat dari kelopak matanya.
"gua tau ja, but gua udah nyaman sama dia, lo cari yang lebih baik dari gua ja"
Ya, mereka adalah Javendra Maleo Ganendara dan kekasih nya yaitu Karina Lauren.
"Segampang itu kamu ngucapin kalimat kaya gitu barusan?" Ucap nya tak percaya
"Terus menurut lo, gua harus ngomong apalagi?" Karina pergi begitu saja, melewati Javendra yang sedang melamun tak percaya akan kata-kata yang di ucapkan oleh kekasih nya itu.
Sebelum menjauh Karina berteriak dengan kencang "KITA PUTUS JA" lalu ia melanjutkan perjalanan nya menuju parkiran untuk menemui sang kekasih baru nya.
di sisi lain Javendra diam tak bergerak karena masih tak percaya dengan ucapan yang di lontarkan dari sang kekasih nya itu yang sekarang sudah menjadi mantan nya.
"Maafin aku ja.." ucap Karina lirih.
Flashback On
"Janji ya? bawa aku ke london.." Karina meminta kepastian dari Javendra. Ia ingin pergi ke London bukan hanya bermain-main saja, pergi liburan. Ia ingin London menjadi saksi bahwa cinta mereka tulus satu sama lain, tidak ada keterpaksaan, tidak ada kebohongan, tidak ada yang bersandiwara, tidak ada yang ingin mencari keuntungan, semua murni dari lubuk hati mereka yang paling dalam dan tulus.
"iya sayang, aku janji." balas seseorang tanpa ada keraguan apapun.
Keesokan harinya
Suara alarm begitu nyaring, dan terus berbunyi, tidak ada jeda, tidak ada yang memberhentikannya, seakan suara itu memaksa seseorang untuk bangun setelah melewati hari yang di rasa nya sangat panjang kemarin.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.30 sedangkan pintu gerbang sekolah akan di tutup 20 menit lagi. Yang berarti waktu masuk sekolah itu pukul 06.50.
Akhirnya seseorang yang alarm nya selalu berbunyi tiap pagi dan tidak ada yang memberhentikannya itu pun terbangun, ia langsung melirik ke arah jam yang ada di sampingnya.
"Sial" gumamnya, ia segera beranjak dari kasur nya, lalu pergi ke kamar mandi, setelah nya ia siap-siap berangkat untuk sekolah. Tidak sempat sarapan, karna jarak tempuh ke sekolah nya itu 15 menit, jadi ia memutuskan untuk sarapan di sekolah saja.
"eh ini si ja kemana dah" tanya seseorang yang sedari tadi menunggu kehadiran Javendra di area parkiran motor.
"dia kan baru putus, lo tau lah gimana setelahnya, Karina ga nge hubungin dia 3 hari aja, besok nya juga kaya gini kan. Apalagi ini diputusin" sahut seseorang yang seolah-olah sudah tau watak Javendra jika terjadi hal seperti ini.
"lo bener juga ya, coba telpon si ja" kata orang itu, karena ia khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terhadap Javendra.
"bentar coba gua telpon" dua kali, tiga kali. Panggilan itu tetap tidak di angkat oleh Javendra.
Akhirnya mereka yang sudah menunggu lama, meninggalkan area parkiran tersebut karna mereka pikir Javendra tidak akan masuk.
Mereka adalah Kafka dan Sakha, Mereka berdua sudah berteman sejak kecil dengan Javendra, kemana-mana selalu bertiga. Jika satu tidak ikut, maka semua juga tidak ikut. Karena, bagi mereka bertiga bukan hanya sekedar angka, melainkan rumah. Dan rumah tak akan terasa lengkap jika salah satu penghuninya tertinggal.
Tidak lama dari mereka yang meninggalkan area parkir, Javendra pun datang tepat pukul 06.45.
"untung aja gua ga telat" setelah memarkirkan motor nya, ia segera membuka handphone nya karena sedari tadi berbunyi. Ternyata ada 3 panggilan yang tidak terjawab dari Kafka, lalu saat itu juga ia langsung pergi ke kelas nya. Mereka bertiga sekelas, dan juga satu jurusan.
Mereka sekolah di SMK Nawasena, Javendra jurusan fotografi, Sakha dan Kafka berada di jurusan BroadCasting. Javendra yang sangat senang sekali dengan hal-hal yang bersangkutan dengan kamera dan senang sekali memotret sesuatu hal yang menurutnya indah dan perlu di abadikan, lalu ada Kafka yang senang sekali jika bermain peran, juga yang terakhir ada Sakha yang hobinya itu menulis naskah drama, novel, cerita pendek dan sejenisnya, Ingin menjadi penulis katanya.
******
"lo.. masih suka sama gambar ya na?" Tanya seseorang yang sedari tadi memperhatikan teman nya itu sedang mempersiapkan alat untuk lukisan nya kali ini, Aluna yang sedang fokus dengan barang-barang nya pun menoleh saat ia sadar ucapan itu tertuju padanya.
Aluna Morreys Abella, perempuan yang berparas cantik, mempunyai bulu mata lentik, dan juga memiliki warna bola mata biru yang indah, blasteran Rusia dan Indonesia, tutur kata nya lembut, tenang, tidak banyak bicara, namun ia selalu bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar nya. Bukan berarti dia selalu diam, ia tau dimana, kapan, dan bagaimana ia bisa bicara sesuai dengan anak seusia nya, dan juga bicara dengan keadaan yang mempunyai aturan untuk berbicara.
Aluna bersekolah di salah satu SMA yang terkenal dan favorit nomor satu di kotanya, SMA Nawasena. Ia berada di jurusan seni dan sastra, Aluna sangat suka dengan melukis, ia sangat jatuh cinta sekali dengan karya seni yang satu ini, selain melukis, ia juga suka sekali menulis. Menulis novel, menulis naskah, menulis ke seharian Aluna selama menjadi anak seni dan sastra, dan juga keseharian lainnya.
"Iya ni sel, gua selalu suka sama gambar" jawabnya, lalu ia fokus lagi dengan kegiatan gambarnya itu. Seseorang itu adalah Jisel, teman dekat Aluna
"Mau gua bantu gak? biar lukisan-lukisan Lo bisa orang-orang liat, jadii terbuka untuk umum" tawar gisel, yang daritadi diam-diam menyimak pembicaraan mereka, Gisel itu kembaran nya Jisel.
Mereka satu jurusan dengan Aluna. Gisel yang menyukai seni dan Jisel yang menyukai sastra, tapi mereka tidak begitu suka jika di bandingkan dengan Aluna, yang sangat menyukai keduanya
Aluna yang mendengar itu, senang, senang sekali. Tapi hingga saat ini ia tidak percaya diri dengan lukisan nya sendiri. " gua ga percaya diri gi, tapi gua pengen banget orang-orang liat lukisan gua" ujar nya pelan.
Teman-teman Aluna yang mendengar itu pun akhirnya tau, bahwa selama ini Aluna tidak mau lukisan nya di lihat oleh orang-orang, bukan karna tidak di izinkan oleh orang tua nya, melainkan ia tidak percaya diri dengan karya lukis buatan tangan sendiri.
Sebab Aluna jika di tanya seperti itu, pasti akan selalu menjawab tidak di izinkan oleh orang tua nya, apalagi papahnya.
"Percaya na, kita bantu lo biar bisa bawa lukisan-lukisan lo ke museum seni" sahut Teman mereka yang lain, ia ingin teman nya itu percaya diri untuk menunjukkan lukisan-lukisan nya itu ke pada orang-orang dan bangga dengan lukisan nya sendiri, Siapa tau suatu saat nanti ia bisa menjadi pelukis terkenal. Ia adalah Aurel, salah satu teman dekat nya Aluna,Gisel,dan Jisel.
"Apalagi kalau ada lomba seni, lo pasti, selalu, dan akan juara satu terus na" lanjutnya, teman-teman yang lain pun setuju dengan ucapan Aurel tadi, karna memang itu faktanya. Jadi di sayangkan dengan karya Aluna yang sudah di bilang banyak sekali itu, tidak di pamerkan ke siapa-siapa dan kemanapun.
YOU ARE READING
Defense Of Love (?) ON GOING
Fanfictionaku atau dia? mengisahkan dua orang yang terpaksa harus melepaskan satu sama lain berbagai sakit hingga kejadian tak terduga yang terjadi karena ketidaksukaan seseorang terhadap hubungan mereka. Mengakibatkan salah seorang dari mereka akhirnya terba...
