Bab 1 Rumah Paling Jahat

1 1 0
                                        

Virlya Diningdro.
Usia 17 tahun. Dari luar: remaja biasa. Tidak memiliki disabilitas. Tidak memiliki kekurangan fisik.
Tetapi di dalam rumah ini, ia hanya disebut sebagai "aib".
Julukan "anak cacat" sudah lama melekat. Virlya tidak ingat sejak kapan. Mungkin sejak kecil ketika ia sering dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Semakin ia dewasa, semakin ia yakin bahwa dirinya tidak memiliki nilai.

----

Meja makan pagi.
Mama meletakkan piring di depan Virlya tanpa menatapnya.

"Telur ini gosong lagi, Virlya. Kapan kamu bisa melakukan sesuatu dengan benar?"

Virlya menunduk. Tidak menjawab. Kakaknya tersenyum kecil. Adiknya sibuk dengan ponselnya. Tidak ada yang membela.
Hari ulang tahunnya yang lalu berlalu tanpa ucapan. Tidak ada kue. Tidak ada doa.

Hanya kalimat singkat dari Papa: "Sudah besar, tidak perlu perayaan seperti anak kecil."

Di grup obrolan keluarga, rencana perjalanan disusun bertiga. Ketika Virlya bertanya, "Aku boleh ikut, Bu?" balasan yang datang hanya, "Oh, maaf. Ibu lupa."

---

Suatu Minggu pagi. Virlya berusia 8 tahun.

Papa membuka pintu dan berkata dengan suara lembut, "Virlya, ikut Ibu dan Bapak jalan-jalan, ya."

Mata Virlya berbinar. Untuk pertama kali, ia merasa diperhatikan. Ia mengenakan baju terbaiknya. Di dalam mobil, ia duduk diam sambil mendengarkan percakapan orang tuanya di kursi depan.

Dalam hatinya ia berbisik, "Akhirnya mereka mengajak aku."

Mobil berhenti di sebuah alun-alun yang ramai.

Mama menunjuk bangku taman. "Virlya, Ibu dan Bapak membeli tiket terlebih dahulu. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana, ya."

"Baik, Bu," jawab Virlya pelan. Ia duduk manis, mengayunkan kakinya.

Menit berganti menjadi jam. Matahari mulai condong ke barat. Balon di tangannya kempes.

Seorang petugas keamanan mendekat. "Adik, dari tadi sendirian di sini? Menunggu siapa?"

Virlya menggeleng. Ia tidak menangis. Ia sudah tidak tahu harus mengadu kepada siapa.

Menjelang malam, Mama dan Papa kembali.

Wajah mereka datar.

"Maaf, Virlya. Tadi kami tertidur di mobil. Kami kira kamu sudah ikut dari tadi."

Di perjalanan pulang, Virlya menempelkan dahi ke kaca jendela. Ia tidak bertanya apa pun. Karena di usianya yang masih 8 tahun, ia sudah memahami artinya ia tidak cukup penting untuk diingat.

Sejak malam itu, kepercayaan dirinya runtuh sedikit demi sedikit.

Malam setelah kejadian alun-alun itu, Virlya tidak bisa tidur. Ia duduk di sudut kamarnya, memeluk lutut.

Pintu diketuk pelan. Suara Mama terdengar dari luar.

"Virlya, sudah tidur? Besok bangun pagi, ya."

Virlya tidak menjawab. Ia hanya berbisik pelan agar tidak terdengar.

"Aku kira Ibu dan Bapak akan mengingatku..."

Sejak malam itu, rumah terasa semakin dingin. Setiap kalimat yang diucapkan orang tuanya seperti pisau tumpul. Tidak berdarah, tetapi sakitnya lama.

Suatu sore, adiknya berlari ke ruang tamu sambil membawa piala.

"Bu, Pa, lihat! Adik juara satu lomba menggambar!"

Mama dan Papa langsung memeluknya, tertawa, mengambil foto.

"Kamu hebat sekali, Nak. Bapak bangga."

Virlya berdiri di ambang pintu dapur. Di tangannya ada gambar yang sama persis, yang ia buat semalam untuk diberikan kepada mereka. Ia menatap piala itu, lalu menatap gambarnya sendiri.
Ia melipat kertas itu perlahan, meremasnya, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa suara.
Malamnya, Papa duduk di ruang keluarga sambil membaca koran. Virlya memberanikan diri mendekat.

"Pa, boleh aku bicara sebentar?"

Papa mengangkat wajahnya setengah. "Ada apa, Virlya?"

"Aku... aku ingin bertanya. Apakah aku pernah membuat Bapak dan Ibu bangga?"

Hening selama beberapa detik. Papa menurunkan korannya, lalu berkata datar.

"Virlya, kamu anak yang baik. Hanya saja kamu berbeda dengan kakak dan adikmu. Kamu harus lebih berusaha agar tidak menjadi beban."

Kata "beban" itu masuk ke telinga Virlya seperti palu. Ia mengangguk pelan.

"Baik, Pa. Aku mengerti."

Sejak hari itu, ia berhenti bertanya. Berhenti berharap. Berhenti peduli.
Hari berganti minggu. Minggu berganti tahun. Virlya tumbuh, tetapi rumah ini tidak pernah tumbuh bersamanya. Ia tetap "aib" yang duduk di ujung meja, yang namanya tidak disebut saat ada rencana, yang keberadaannya hanya disadari ketika ada yang salah.

---

Beberapa tahun kemudian, Virlya berhenti peduli. Ia tidak lagi memperhatikan penampilannya. Ia tidak lagi menunggu perhatian dari siapa pun. Rasa sepi di dadanya menumpuk setiap hari hingga menjadi berat.

Orang tuanya akhirnya membawa Virlya ke dokter.Dokter menatap hasil pemeriksaan, lalu berkata dengan suara tenang,

"Virlya mengalami depresi berat. Saya menyarankan rehabilitasi kesehatan mental agar kondisinya dapat ditangani dengan baik."

Minggu berikutnya, sebuah mobil berhenti di depan gerbang besi.

PUSAT REHABILITASI HARAPAN BARU

Seorang perawat menyambut di depan pintu. "Selamat datang, Virlya."

Virlya turun dari mobil membawa koper kecil. Ia menatap gedung itu tanpa ekspresi. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa lega.
Karena baginya, tempat asing ini tidak terasa lebih mengerikan daripada rumah yang baru saja ia tinggalkan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, tetapi baginya adalah rumah paling jahat.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dear BavaStories to obsess over. Discover now