Should've Known Better

43 4 1
                                        

Lampu sorot panggung menyilaukan mata Juhoon. Ribuan suara meneriakkan namanya, bergema seperti gelombang yang tak pernah reda. Malam ini, di Seoul Olympic Stadium, dia berdiri di tengah panggung yang dulu hanya dia impikan saat masih bermain gitar di kafe kecil kota asalnya.

"Terima kasih, Seoul!" serunya, suaranya serak setelah dua jam menyanyi tanpa henti. Kerumunan meledak lagi. Confetti emas jatuh dari langit-langit, dan Juhoon tersenyum lebar senyum yang sudah dia latih di depan cermin ribuan kali.

Di belakang panggung, manajernya, Minho, langsung menyambut dengan pelukan dan tepuk tangan. "Kau gila malam ini, Hyung! Trending nomor satu di semua platform. Sponsor sudah menelepon, mereka mau tambah kontrak."

Juhoon hanya mengangguk, membiarkan asistennya menyeka keringat di wajahnya dan mengganti jaket basahnya dengan yang baru. Bau parfum mahal bercampur asap rokok elektronik dan alkohol sudah mulai terasa biasa. Ini adalah hidupnya sekarang. Ini adalah mimpi yang jadi nyata.

Di ruang VIP after-party, musik menggelegar. Gadis-gadis cantik berpakaian glamor mendekat, tersenyum manis, meminta foto, meminta sentuhan. Juhoon tertawa, memeluk pinggang salah satu dari mereka seorang influencer bernama Soojin yang sudah dua minggu ini disebut-sebut sebagai "new girlfriend"-nya di semua tabloid.

"Kau luar biasa tadi," bisik Soojin di telinganya, bibirnya hampir menyentuh telinga Juhoon. "Aku bangga jadi orang yang berdiri di sampingmu."

Juhoon tersenyum, tapi matanya kosong. Kata-kata itu terdengar manis, tapi tak ada bobotnya. Sama seperti champagne yang mengalir deras di gelasnya enak di mulut, tapi besok pagi hanya meninggalkan pusing.

Dia mengangkat gelas, berpura-pura ikut bersulang. Di kepalanya, lagu lama yang dia tulis tiga tahun lalu tiba-tiba muncul, seperti hantu yang tak diundang.

When I was younger, I should've known better...

Juhoon menggeleng pelan, mencoba mengusirnya. Dulu, saat lagu itu ditulis, dia masih Juhoon yang berbeda. Yang masih tidur di apartemen sempit, yang masih menelepon Hanna setiap malam setelah gig kecil, yang masih percaya bahwa musik adalah segalanya bukan panggung, bukan followers, bukan brand deal.

"Hyung, besok pagi ada photoshoot untuk majalah," kata Minho sambil mendekat. "Lalu meeting dengan label untuk album baru. Kau oke?"

"Oke," jawab Juhoon datar.

Dia melirik ponselnya. Ada puluhan notifikasi. Mention, DM, tagar #JuhoonKing. Tapi tak ada satu pesan pun dari nomor yang dulu selalu dia simpan di favorit.

Hanna.

Sudah hampir dua tahun dia tak mendengar kabarnya. Juhoon sendiri yang memilih pergi. Saat ketenaran datang seperti banjir, dia membiarkan dirinya hanyut. Hanna yang tenang, yang selalu mendengarkan lagu-lagunya sebelum siapa pun, yang pernah bilang "Aku bangga sama kamu, bukan karena panggungnya, tapi karena kamu"-nya, perlahan tertinggal jauh di belakang.

Soojin menarik lengannya. "Kita foto bareng yuk, sayang."

Juhoon mengangguk, memeluk pinggang gadis itu lagi untuk kamera. Flash menyilaukan. Senyum sempurna. Pose yang sudah jadi rutinitas.

Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang berdenyut pelan. Rasa yang sudah lama tak dia rasakan sepenuhnya.

Should've known better.

Malam semakin larut. Juhoon minum lebih banyak. Tertawa lebih keras. Tapi semakin dia berusaha merasakan euforia itu, semakin kosong yang dia dapati.

Di ujung pesta, saat hampir semua orang sudah mabuk, Juhoon duduk sendirian di sofa sudut. Dia mengeluarkan ponsel, membuka galeri lama yang jarang dibukanya. Foto pertama yang muncul adalah Hanna tersenyum lebar di depan kafe kecil kota mereka, angin meniup rambutnya, tangan Juhoon memeluk bahunya.

Juhoon menatap foto itu lama. Jempolnya hampir menyentuh layar, tapi akhirnya dia mematikan ponsel dan memasukannya kembali ke saku.

"Besok lagi," gumamnya pada diri sendiri. "Besok aku akan lebih bahagia."

Dia tidak tahu, bahwa banjir yang sebenarnya baru akan datang.

- To be continued

Since the Flood - Juhoon CORTISStories to obsess over. Discover now