Malam yang tak kian kunjung datang seakan perlahan membuat rumah yang aku tempati ini mulai menuju pada jamur-jamur yang seakan-akan membuatnya terasa sangat berbeda di mataku, hari ini ibu memasak makanan favoritku yakni sepiring roti dengan saus tartar yang teroleskan pada setiap lapisannya.
Tampak semua diam tanpa ada dialog yang memang keluar dari setiap mulut mereka, ayah yang biasanya tampak murah akan senyumnya sekarang menjadi patung yang terkutuk oleh dewi medusa, sungguh memang aneh apa yang aku rasakan memang benar-benar terjadi dalam kehidupanku. Suara yang setiap hari keluar masuk melalui pendengaranku mulai membisikkan sesuatu tentang adanya suatu kenyataan yang tidak boleh aku ketahui.
Mentari tampak menyambut jendela di ruang bilik kamarku yang sudah kian rapuh, dan terdengar suara kicauan burung gagak yang entah dari mana datangnya sungguh benar-benar menyebalkan sekali. Berjalanlah aku ke arah closet dan berkemas diri untuk bersiap menuju ke universitas san louis tetra, yup tempat aku berkuliah saat ini.
Hendak membuka pintu sayup-sayup terdengar suara tapakan kaki sepatu sneakers dan pastinya itu adalah milik evan. Evan selalu tampak seperti biasanya, berbeda dengan anggota keluargaku yang memang akhir-akhir ini memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Sesampainya di sana semua mata tampak tertuju kepadaku, ya ya ya tidak heran saja mereka melihatku entah karena aku ini aneh atau aku gila. Bel pun berbunyi yang menandakan perkuliahan telah selesai, evan yang memang memiliki tugas berniat pamit kepadaku untuk memutuskan menginap di rumahku yang notabennya aku sendiri tidak suka.
Ketika kubuka pintu rumah tampak hawa yang kembali mencekam akan kehadiran diriku ini, ibu tampak menyambut kepulanganku dengan kelopak mata yang menghilang dan lantas akupun merasa cukup terkejut dan kembali memberikan kesadaran penuh pada diriku ini. Evan pun bertanya-tanya kepadaku "apakah kamu tidak apa-apa?" aku lantas terdiam dengan tubuh terbujur kaku dan langsung mengajak evan untuk menuju ke kamar yang akan kami tempati.
Mata ini tidak mau menutup dan aku yang sekiranya kesal sekali memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan menenggelamkan kepalaku ke dalam bath up, evan yang melihat kejadian tersebut lantas menghampiriku dan bertanya "dave sudah-sudah, alangkah lebik baiknya kamu untuk tidur lagi, but kamu harus minum pil ini terlebih dahulu ya!".
Dan benar apa dugaanku mataku seraya terjatuh perlahan demi perlahan dan mulai memasuki dunia yang seandainya aku hanya ingin disana secara kekal tanpa harus bangun dan melihat keanehan dalam duniawi ini.
أنت تقرأ
THE CURSED
رعبKehidupan Dave tampak tenang dalam rutinitas sederhana: menantikan roti bersaus tartar buatan sang ibu dan sapaan hangat dari adiknya, Raya. Namun, di balik itu semua, tersimpan sebuah rahasia kelam masa lalu. Dave sebenarnya terlahir dari hasil rit...
