Kisah komedi domestik tentang Jayandra, arsitek duda yang kaku, dalam mengurus empat anak laki-lakinya yang super ajaib dan berisik. Rumah mereka yang kacau mendadak punya "pawang" sejak kedatangan Jane, desainer interior kasual yang sukses mencuri...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Katanya, jatuh cinta di usia dewasa itu harusnya lebih tenang. Tidak ada lagi drama cemburu buta, tidak ada lagi kode-kodean yang bikin pusing kepala. Semuanya terasa matang, terarah, dan damai.
Selama tiga bulan ini, Jane Anastasia merasa sudah menemukan kedamaian itu dalam diri Jayden Raditya.
Jayden adalah tipe pria yang selalu tepat waktu, punya tutur kata lembut, dan selalu sukses membuat Jane merasa dihargai. Pertemuan mereka biasanya sederhana, seperti makan malam sepulang kerja, mengobrol tentang isi buku yang sedang dibaca, atau sekadar menikmati keheningan di dalam mobil sambil mendengarkan lagu jazz favorit bersama.
Namun, di balik semua keteraturan itu, Jane tahu ada satu misteri kecil. Jayden selalu punya jam malam yang ketat. Begitu jarum jam mendekati angka delapan malam, Jayden pasti akan gelisah dan buru-buru pamit dengan alasan yang selalu sama, yaitu "Orang rumah udah nungguin."
Jane tidak pernah mau ambil pusing. Dia menduga Jayden mungkin tinggal bersama orang tuanya, atau merawat kerabat yang sedang sakit. Dia memilih menghargai privasi pria itu dan menunggu waktu yang tepat.
Hingga malam ini, waktu yang ditunggu itu pun tiba. Jayden akhirnya mengajak Jane untuk datang dan makan malam di rumahnya.
Jane melirik pantulan dirinya di kaca spion mobil Jayden yang mulai memasuki sebuah area perumahan yang asri. Dia merapikan penampilannya, memastikan semuanya tampak sempurna. Dalam hatinya, ada rasa hangat yang membuncah. Jane merasa hubungan mereka sudah melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Saat mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah tingkat dua berpagar tinggi, Jayden menoleh ke arahnya. Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat agak tegang.
"Jane, sebelum kita turun, aku cuma mau bilang semoga kamu gak kaget dengan apa yang ada di dalam, ya," ucap Jayden perlahan.
Jane tertawa kecil, mengira kekasihnya hanya sedang gugup. "Tenang aja, Mas Jay. Aku bukan tipe orang yang gampang kagetan, kok."
Jayden hanya mengangguk pelan, lalu turun untuk membukakan pintu mobil untuk Jane. Sambil melangkah menuju pintu utama rumah tersebut, Jane menarik napas panjang, bersiap menyapa "orang rumah" yang selama ini selalu membuat Jayden terburu-buru pulang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa konsep "kedamaian" yang dia agungkan selama ini akan segera berubah total begitu daun pintu itu terbuka.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.