Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Prolog

448 25 4
                                        

Hujan turun begitu deras malam itu.

Lampu-lampu jalan tampak kabur di balik kaca mobil yang dipenuhi tetesan air. Seorang pria dengan setelan kerja yang mulai kusut duduk di balik kemudi. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, sementara kerutan frustrasi menghiasi dahinya.

Tiba-tiba matanya membelalak.

Dokumen itu.

Dokumen penting yang seharusnya ia bawa pulang malam ini masih tertinggal di atas meja kantornya.

"Sialan..." umpatnya pelan sambil memukul stir mobil dengan telapak tangannya. "Bagaimana bisa aku melupakannya?"

Ia mengembuskan napas kasar dan menyandarkan punggung ke kursi. Hujan yang semakin deras membuat suasana di dalam mobil terasa sesak.

Lampu lalu lintas di depannya masih menyala merah.

Pria itu melirik jam tangan, lalu menatap jalan yang mulai lengang. Pikirannya dipenuhi pertimbangan. Jika ia tetap pulang, besok pagi ia harus kembali ke kantor lebih awal. Namun jika kembali sekarang, ia harus menerobos hujan deras yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Lampu merah berganti kuning.

Lalu hijau.

Ia masih diam selama beberapa detik.

Akhirnya, setelah menimbang segala kemungkinan, ia memutar kemudi dan mengambil jalur putar balik menuju kantor.

Ia tidak menyadari bahwa keputusan sederhana yang dibuat malam itu akan mengubah hidup seseorang untuk selamanya.

Pria itu memutar kemudi dan memasuki jalur putar balik.

Hujan masih mengguyur deras, membuat pandangan di depan terasa buram meski wiper bergerak tanpa henti. Lampu-lampu kendaraan yang berpapasan berubah menjadi garis-garis cahaya yang memantul di aspal basah.

Saat mobil kembali melaju menuju arah kantor, nada dering ponselnya tiba-tiba memecah kesunyian.

Layar ponsel yang terletak di dashboard menyala.

Ibu

Nama itu muncul di layar.

Pria itu menghela napas pelan.

Sudah hampir tengah malam. Jarang sekali ibunya menelepon pada jam seperti ini.

Belum sempat ia menjawab, mobilnya melintasi genangan air yang cukup dalam.

Bruk!

Guncangan kecil membuat ponsel itu terlempar dari dashboard dan jatuh ke lantai mobil.

"Sial..."

Nada dering itu masih terus berbunyi.

Ia melirik sekilas ke bawah.

Mungkin ada sesuatu yang penting, pikirnya.

Dengan satu tangan tetap memegang kemudi, tangannya yang lain meraba-raba lantai mobil untuk mencari ponsel yang terjatuh.

Beberapa detik.

Hanya beberapa detik.

Namun terkadang, hidup memang berubah hanya dalam hitungan detik.

Jarinya akhirnya menyentuh ponsel itu.

Ia segera mengangkatnya.

Tetapi saat pandangannya kembali ke depan, napasnya seketika tercekat.

Di tengah derasnya hujan, sebuah kendaraan besar muncul tepat di hadapannya.

Terlalu dekat.

Terlalu mendadak.

Mata pria itu membelalak.

Refleks, ia membanting stir ke arah kanan.

Ban mobil kehilangan cengkeraman pada aspal yang licin.

Mobil itu tergelincir.

Berputar.

Tak terkendali.

Suara decitan ban bercampur dengan dentuman hujan yang menghantam kaca.

"Tidak...!"

BRAAAKKK!

Benturan keras memecah malam.

Kaca-kaca berhamburan.

Besi beradu dengan suara yang memekakkan telinga.

Di antara puing-puing dan suara alarm yang meraung, ponsel yang masih menyala tergeletak di lantai mobil.

Panggilan dari ibunya belum terputus.

Dari balik speaker terdengar suara panik yang samar.

"Halo? Nak? Halo? Kamu dengar Ibu?"

Namun tak ada jawaban.

Malam hanya menyisakan suara hujan yang terus turun tanpa henti.

Ia tidak tahu bahwa malam itu, sebuah keputusan sederhana yang dibuat seseorang akan mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.

Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, dirinya akan tumbuh dengan pecahan yang hilang dari dalam dirinya.

Dan bahwa suatu hari nanti, seseorang bernama Nani akan datang untuk membantu menemukannya kembali.

Namun untuk saat ini, dunia masih terasa tenang.

Terlalu tenang sebelum semuanya berubah.

Spring After Winter (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang