Something in the Future
"One letter, Eight friends, Countless futures"
PROLOG
Hujan turun deras malam itu
Aku berdiri sendirian di halte yang hampir kosong, menggenggam sebuah amplop yang sudah kusut karena terlalu lama berada di tanganku.
Tanganku gemetar
Bukan karena dingin
Melainkan karena nama yang tertulis di bagian depan amplop itu
Untuk Nyoman Ayu Carmenita
Nama itu milikku
Tapi tulisan tangan yang tertera di sana juga milikku
Aku mengenali setiap lengkungan hurufnya, karena akulah yang menulisnya.
Sepuluh tahun yang lalu
Atau...
Sepuluh tahun yang akan datang
Aku mengangkat kepala, menatap langit malam yang gelap. Kota ini masih berdiri, lampu-lampu masih menyala, orang-orang masih tertawa.
Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu berapa banyak hal yang telah hilang
Berapa banyak orang yang gagal kuselamatkan
Jiwoo
Juun
Dan yang lainnya satu per satu
Nama-nama itu masih terukir jelas di kepalaku seolah waktu tidak pernah berlalu.
Aku pernah mencoba menerima semuanya,
meyakinkan diriku bahwa takdir memang tidak bisa diubah.
Bahwa beberapa kehilangan memang harus terjadi, tapi aku gagal. Karena setiap malam, aku masih terbangun dengan pertanyaan yang sama.
Bagaimana jika aku bertindak lebih cepat?
Bagaimana jika aku mengetahui semuanya lebih awal?
Bagaimana jika aku diberi satu kesempatan lagi?
Aku menunduk menatap amplop itu, satu-satunya harapanku, satu-satunya cara untuk memperbaiki semuanya. Dengan napas yang berat, aku mengambil pena.
Di secarik kertas putih, aku mulai menulis.
"Jika kamu menerima surat ini, jangan biarkan Jiwoo naik bus nomor 17 pada tanggal 12 September."
Air mataku jatuh mengenai tinta yang belum kering. Namun aku tetap melanjutkan tulisanku, karena aku tahu satu hal.
Masa depan tidak pernah berubah dengan sendirinya, seseorang harus menjadi orang pertama yang menentangnya.
Dan kali ini...
orang itu adalah aku.
tes ombak😁
kalau rame lanjut
kalau suka jgn lupa vote yaa...🤗
ESTÁS LEYENDO
Something In The Future
FanfictionCarmen adalah siswi SMA yang kehidupannya biasa saja sampai suatu hari ia menemukan surat tanpa pengirim di lokernya. "Kalau kamu menerima surat ini, jangan biarkan Jiwoo naik bus nomor 17 pada tanggal 12 September." Awalnya Carmen mengira itu prank...
