Di puncak Gunung Olympus yang menjulang tinggi, di mana awan-awan abadi menyelimuti singgasana para dewa, hiduplah tiga saudara dewa yang mewarisi kekuasaan atas alam semesta Yunani kuno. Mark, sang dewa tertua, adalah penjaga ketertiban dan kebijaksanaan, dengan rambut hitam legam yang tersisir rapi dan mata yang selalu tenang seperti danau pegunungan. Ia hidup sesuai dengan aturan kuno yang ditetapkan oleh para Titan sebelumnya, memastikan bahwa setiap hembusan angin, setiap gelombang lautan, dan setiap siklus musim berjalan tanpa cela. Bagi Mark, kehidupan adalah sebuah garis lurus yang tak boleh menyimpang, di mana setiap keputusan diukur dengan timbangan keadilan yang tak tergoyahkan. Namun, bagi adik bungsunya, Haechan, Mark hanyalah sosok yang membosankan, seperti buku tua yang berdebu di perpustakaan Olympus—penuh aturan tapi kurang petualangan.
Haechan, dewa termuda yang lahir dari hembusan angin liar dan cahaya matahari yang nakal, adalah kebalikan dari kakaknya. Dengan senyum licik yang selalu mengintip di sudut bibirnya dan mata yang berkilau seperti permata curian, ia dikenal sebagai sang pengacau yang cerdik. Haechan suka bereksperimen dengan kekuatan-kekuatan di sekitarnya, mencampur api dari Hephaestus dengan air dari Poseidon hanya untuk melihat apa yang terjadi, atau memanipulasi angin untuk membuat daun-daun menari dalam pola aneh yang membingungkan para nimfa. Pengetahuan yang ia kumpulkan dari eksperimen-eksperimen itu luas dan mendalam, tapi semuanya hanya untuk memuaskan hasrat kejahilannya—seperti menyelinapkan mimpi buruk ke tidur para pahlawan atau membuat buah-buahan di kebun Hesperides berubah rasa menjadi asam tak terkira. Meski sering mendapat teguran dari dewa-dewa lain, Haechan selalu lolos dengan tawa ringan, karena kecerdikannya membuatnya selangkah lebih maju dari siapa pun.
Di antara keduanya berdiri Jeno, dewa yang cerdas dan tampan, yang menjadi jembatan antara ketegasan Mark dan kekacauan Haechan. Dengan tubuh yang dipahat sempurna seperti patung marmer karya Phidias—otot-otot yang kuat dan simetris, kulit yang bercahaya seperti emas di bawah sinar matahari—Jeno terkenal akan kekuatannya yang tak tertandingi. Ia bisa mengangkat beban gunung dengan satu tangan atau menghancurkan batu karang hanya dengan pandangan tajamnya. Namun, di balik fisik yang sempurna itu, Jeno memiliki kecerdasan yang tajam, mampu memecahkan teka-teki rumit yang bahkan membuat Athena iri. Ia sering menjadi penengah dalam perselisihan saudara-saudaranya, menggunakan logika dinginnya untuk menenangkan amarah Mark atau mengalihkan kejahilan Haechan ke arah yang lebih bermanfaat. Tapi di balik ketenangannya, Jeno menyimpan rahasia: rasa ingin tahu yang mirip dengan Haechan, meski ia tak pernah mengakuinya.
*****
Halo halo halo
New story allert!
Ah cerita gw kenapa sepi banget sih
Padahal gelo gelo deh
Ah pasti kalah sama ship sebelah 🥲
Don't forget to vote ya!
