Langit Jakarta Selatan sore itu dipenuhi awan kelabu.
Hujan yang sejak siang menggantung di atas kota akhirnya turun perlahan, membasahi jalanan yang masih dipadati kendaraan. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di genangan air yang terbentuk di pinggir jalan.
Di tengah ramainya kota, sebuah kafe yang cukup terkenal menjadi tempat berkumpul sembilan perempuan yang sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
Viona adalah orang pertama yang datang.
Ia duduk di dekat jendela sambil memainkan ponselnya. Sesekali matanya mengarah ke luar, memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang di tengah hujan yang semakin deras.
Tak lama kemudian, Valery muncul dengan payung hitam di tangannya.
"Buset, macet banget," keluhnya sambil menarik kursi.
"Jakarta. Mau berharap apa?" jawab Viona santai.
Beberapa menit berikutnya, Aluna, Elina, Bianca, Sky, Rina, Fani, dan Rara datang secara bergantian hingga meja panjang yang mereka pesan akhirnya terisi penuh.
Suasana langsung berubah ramai.
Mereka saling menyapa, tertawa, dan mulai membicarakan berbagai hal yang terjadi selama beberapa minggu terakhir.
"Sky, gimana cowok yang kemarin?" tanya Fani tiba-tiba.
Sky langsung tersenyum lebar.
"Yang mana dulu?"
"Ya ampun," celetuk Rina. "Lu ngomong kayak punya antrean panjang."
Sky mengangkat bahu.
"Kalau banyak yang suka sama gua, mau gimana lagi?"
Mendengar itu, sebagian langsung tertawa.
Sebagian lagi hanya menggelengkan kepala.
"Percaya diri banget," ujar Aluna.
"Bukan percaya diri. Fakta."
"Fakta dari mana?" sahut Fani.
Meja kembali dipenuhi tawa.
Sementara itu, Bianca sibuk memotret minumannya dari berbagai sudut.
"Posting lagi?" tanya Elina.
"Iya."
"Setiap makanan harus diposting?"
"Kalau estetik kenapa nggak?"
Rina melirik tas mahal yang diletakkan Bianca di samping kursi.
"Tas baru?"
Bianca tersenyum tipis.
"Hadiah."
"Mahal pasti."
"Ya lumayan."
Cara Bianca menjawab membuat beberapa orang saling pandang.
Meski tidak mengatakan apa-apa, nada bicaranya selalu terdengar seolah ia berada satu tingkat di atas orang lain.
Namun karena sudah terbiasa, tak ada yang benar-benar mempermasalahkannya.
Obrolan terus berlanjut.
Topiknya berubah-ubah dengan cepat.
Mulai dari pekerjaan, media sosial, hubungan percintaan, hingga gosip orang-orang yang mereka kenal.
"Eh, kalian sadar nggak?" kata Rara sambil menyeruput minumannya. "Kita udah lama banget nggak kumpul lengkap begini."
YOU ARE READING
TEROR TAK BERUJUNG
HorrorSembilan nama. Satu masa lalu yang kelam. Dan sebuah permainan balas dendam yang tak mungkin dihindari. Viona, Elina, Valery, Aluna, Bianca, Rara, Fani, Rina, dan Sky pernah merasa menjadi penguasa dunia. Dengan kata-kata yang mematikan, ejekan, dan...
