Prolog: Koping Pahit dan Novel Sampah

1.3K 90 2
                                        

Jam di dinding kantor menunjukkan pukul 23.45 WIB. Lampu ruangan sudah mati separuh, cuma sisa lampu meja gue yang nyala, menerangi tumpukan laporan keuangan yang bikin mata perih dan otak kering kerontang.

Gue, Ratna Wijaya, umur 28 tahun, Senior Accounting Staff di sebuah firma akuntansi menengah di Jakarta Selatan. Hidup gue? Monoton. Bangun pagi, macet, kerja, lembur, pulang malem, tidur, ulang lagi. Gak ada pacar, gak ada hobi mahal, cuma punya satu hiburan murah meriah: baca novel web di HP pas lagi nunggu printer selesai nge-print atau pas toilet break.

Dan malam ini, gue lagi asik-asiknya membaca novel berjudul "Lovely".

Judulnya simpel? Iya.
Tapi isinya? Racun murni.

Gue baru aja scroll ke bab tentang nasib seorang figuran bernama Elian Hartwell.

"Elian, siswa yatim piatu yang pendiam, berjalan terburu-buru di koridor sekolah. Matanya tertunduk, pikirannya kosong. Ia tidak melihat sosok Bella, kekasih sang protagonis pria, sedang berdiri di tengah jalan. Senggol! Kopi panas Bella tumpah ke gaun mahalnya. Damian, sang CEO muda sekaligus pewaris mafia, melihat itu. Matanya menyipit dingin. 'Kamu tahu siapa dia?' geram Damian. Elias gemetar, mencoba meminta maaf, tapi Damian tidak memberi ampun. Besok harinya, berita duka cita beredar. Elian Hartwell ditemukan tewas di selokan belakang sekolah, diduga bunuh diri karena tekanan bullying. Akhir yang tragis bagi sampah masyarakat."

Gue mendengus keras-keras di ruangan kantor yang sepi itu.

"Anjir, sialan banget nih penulis," gumam gue sambil menggelengkan kepala. "Si Elian cuma lewat doang, kok dibunuh sadis gitu? Dan si Bella jelas-jelas berdiri di tengah koridor lebar kayak tiang listrik, masa gak kelihatan? Ini namanya victim blaming tingkat dewa!"

Gue kesel. Bukan cuma sama plotnya, tapi sama ketidakadilan hidupnya si Elian. Yatim piatu, miskin, tinggal di kosan reot, masuk SMA beasiswa, terus mati gara-gara cewe pick-me yang sok suci?

"Gue kalau jadi Elian, gue bakal..." Gue diam sebentar, jari jempol gue hovering di atas layar. "...Gue bakal hindarin tuh cewe dari jarak lima kilometer. Gue bakal jadi batu. Gue bakal jadi udara. Gue gak bakal mati konyol gitu!"

Tiba-tiba, dada gue terasa sesak. Sakit. Kayak ada yang ngejepit jantung gue pake tang besi.

"Astaga... serangan jantung?" bisik gue panik. Tangan gue gemetar meraih gelas kopi

The Background Character Who Accidentally Stole the Spotlight⚊ENDStories to obsess over. Discover now