"Panas...," keluhku.
Aku melirik layar ponsel. Tanggal 13 Juli. Cuaca hari ini panas terik.
__
Telah terjadi pemadaman listrik di kota akibat gempa bumi semalam, mematikan hampir seluruh perangkat elektronik di kota, termasuk komputer dan pendingin ruangan.
Artinya, ruangan laboratorium ini diselimuti hawa panas sekarang.
Beruntungnya, kota Pandivya memiliki yang namanya generator daya listrik cadangan untuk antisipasi hal semacam ini. Namun, dalam jumlah terbatas, hanya dialokasikan ke rumah sakit dan kantor unit keamanan GA, tidak dengan laboratorium jelek ini.
Bagaimanapun, proyek telah ditangguhkan sementara karena bencana alam.
"Panas...," keluhku lagi.
Gempa bumi telah membuatnya semakin buruk. Kertas catatan dan dokumen yang seharusnya tersusun rapi jadi berserakan di lantai. Barang-barang berjatuhan, pecahan kaca... semua sudah berantakan di mana-mana.
Seolah-olah tempat ini baru saja diterpai badai.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Bagaimana aku perlu menjelaskan pada Triter? harus mulai dari mana?"
Baiklah, mari mulai dengan ini!
Sebelum gempa terjadi, seluruh fasilitas berubah kacau... para subjek memecahkan tabung inkubator mereka sendiri, padahal tubuh mereka bahkan belum matang sempurna. Itu tidak sesuai dengan prosedur. Mereka seperti sengaja melarikan diri.
Sebagai sesama, aku dapat merasakan ada sesuatu yang merasuki kepala mereka untuk melakukan semua itu.
Menerka-nerka, "Apa ini intervensi pihak asing? apakah rahasia telah bocor ke publik?"
Aku pingsan karena banyaknya beban pikiran masuk ke kepala, mungkin karena pertama kalinya aku mengalami syok dan panik.
Hawa panas membuatku terbangun perlahan.
Begitu bangun, tubuhku terasa kaku. Aku masih mengenakan piyama dan jas lab putih yang kupakai semalam. Tubuhku terasa lengket oleh keringat, sementara kepalaku masih berat.
Saat itulah aku menyadari keadaan laboratorium sudah semakin porak-poranda.
Sirene peringatan yang kudengar adalah jawaban yang pasti dari semakin kacaunya situasi.
Sirene yang terus berbunyi hingga belasan kali dengan rentang waktu beberapa menit, bahkan meski gempa sudah lama berhenti.
"Mm?"
Aku menoleh, pintu besar terbuka dengan bunyi derit.
Satu-satunya pintu yang belum dirusak.
Ada sekitar dua puluhan peneliti dan staf keamanan yang bekerja, tetapi tidak ada tanda-tanda mereka satu pun. Namun, sekarang dua orang wanita masuk.
Keduanya tak lain adalah peneliti yang bekerja di sini. Wajah mereka nyaris identik, sepasang kembaran.
Bagaimana aku bisa tau?!
Pintu laboratorium itu ada pemindai retina, sistem itu dibuat untuk mencegah orang luar menyusup hanya dengan menggunakan kartu identitas pegawai sebagai akses masuk.
Ide itu berasal dari si jenius bernama Nuri... atau Niru? ah, entahlah. Yang jelas sekarang sistem semacam itu sudah jadi standar di hampir setiap laboratorium di kota Pandivya.
Meskipun masih bisa dirusak dengan menghancurkan kenop pintu, seperti yang dilakukan para klon.
"Wah! cuma dalam empat bulan aja udah tumbuh sebesar ini," katanya, menengokku.
Itu adalah Ritna Sherina Novata.
Berusia 34 tahun, tidak mengenakan riasan sama sekali. Dia mengenakan celana sutra hitam dan kaos oblong hijau tua dibalut jas lab berwarna putih.
"Yah tentu aja, menggunakan nzrnWh-1 dan Kdbt-D Mk III untuk mempercepat pertumbuhan dan stabilitas DNA, serta Wndr-r03R untuk sinkronisasi jaringan saraf dan otak," jawabnya, "kita juga memasukkan Asif-M20M, memberinya kemampuan regenerasi sel... kakak udah pelatihan, kan? harusnya paham soal ini."
Satunya lagi yang berbicara adalah si megane, Ratna. Kacamata dan sikap angkuh menjadi pembeda dengan saudari kembarnya.
Ritna mengerutkan bibir, "Aku tau kok, cuma agak kaget pas lihat aslinya."
"Meski... ini sama sekali tidak menyenangkan, aku ingin kakak membantu. Lagipula, kemampuanmu dalam memecahkan masalah cukup hebat di akademi dulu."
Aku hanya menatap mereka berdua yang berdebat karenaku.
Ratna berdehem, "Baiklah, fokus. Subject #01036, saatnya mulai pemeriksaan. Ini perintah!"
Aku mengangguk menanggapi suara tegas Ratna. Mengerti apa maksudnya.
YOU ARE READING
May the peace
Science FictionVerin terbangun di dalam laboratorium yang porak-poranda setelah gempa bumi mengguncang kota. Pemadaman listrik melumpuhkan hampir seluruh fasilitas, tetapi bencana itu ternyata bukan sumber kekacauan yang sebenarnya.
