Si Kancil

218 0 0
                                        

Keheningan yang dingin menggantikan suara tawa mengejek dan pekikan histeris yang terakhir kali kudengar sebelum kegelapan merenggutku. Ketika aku mencoba membuka mata, penglihatanku tidak langsung berfungsi dengan baik; semuanya tampak kabur, buram, dan diselimuti oleh bayangan hitam yang berputar, memaksa jantungku berdegup lebih kencang karena kepanikan yang mulai merayap kembali ke dalam dada.

Secara bertahap, fokus mataku mulai kembali, menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang di ruangan baru ini. Aku segera menyadari bahwa aku tidak lagi terkapar di atas lantai semen yang dingin, keras, dan berdebu di ruang interogasi terkutuk itu.

Alih-alih, tubuhku kini terbaring di atas sebuah kasur berukuran sedang yang terasa cukup empuk di punggungku. Di bagian atas setiap sudut ranjang tersebut, menjuntai kain kelambu putih bersih yang transparan, mengelilingi tempat tidur seperti sangkar kain yang anggun namun mengintimidasi.

Suasana di tempat ini jauh lebih manusiawi dibandingkan gudang kotor sebelumnya, memberikan kesan sebuah kamar tidur yang dirawat dengan baik. Namun, kelembutan visual ini tidak membuatku tenang sama sekali; sebaliknya, pemandangan ini justru terasa jauh lebih mencurigakan dan mengerikan. Pikiranku langsung dipenuhi oleh kecurigaan liar tentang skenario sadis apa lagi yang sedang mereka rencanakan untukku setelah perpindahan tempat yang terkesan 'istimewa' ini.

Rasa curiga itu langsung dipertegas oleh kenyataan fisik yang menghantam tubuh bawahku. Area belakangku masih berdenyut hebat dengan rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah ada pisau panas yang terus-menerus ditusukkan ke dalam organ dalam perutku. Rasa sakit itu begitu intens, berdenyut seirama dengan detak jantungku yang tidak beraturan.

Nampaknya benda jahanam, mainan ekor anjing berujung besi yang dipasangkan paksa sebelumnya, belum dicabut dari tubuhku. Ganjalan logam yang keras dan dingin itu masih terasa sangat nyata, mengunci posisiku dan mengirimkan gelombang ngilu yang membuat seluruh otot perutku menegang kaku setiap kali aku mencoba melakukan pergeseran kecil.

Sensasi robek dan terbakar di dalam sana benar-benar menyiksa, menjadi pengingat yang kejam bahwa penghinaan yang kuterima sebelumnya tidak pernah berakhir, melainkan terus berlanjut bahkan saat aku tidak sadarkan diri.

Dengan kepanikan yang semakin memuncak, aku mencoba menarik kedua tangan dan kakiku, berniat untuk meringkuk demi mengurangi rasa sakit di perutku. Namun, gerakan itu langsung terhenti dengan sentakan keras yang menimbulkan bunyi gemerincing logam yang tajam.

Anggota tubuhku tersangkut, sama sekali tidak bisa ditarik atau digerakkan lebih dari beberapa sentimeter. Kepalaku yang masih terasa berat mencoba berputar dengan payah, melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari tahu apa yang membuat tubuhku tertahan dengan begitu kokoh di atas ranjang ini.

Mataku membelalak ngeri saat melihat pemandangan di kedua sisi tubuhku. Kedua tanganku kini terbelenggu pada sebuah rantai pendek berbahan besi tebal, di mana ujung rantai tersebut terhubung erat pada tiang di setiap sudut ranjang. Kondisinya dibuat sedemikian rupa sehingga kedua lenganku terentang lebar ke samping, mematikan seluruh fungsi pertahananku.

Begitu pula dengan kedua kakiku; pergelangan kakiku yang sebelumnya dililit lakban kini telah dibebaskan, namun digantikan oleh belenggu besi yang terikat pada rantai pendek serupa menuju sudut bawah ranjang. Posisi ini memaksaku untuk terus berbaring terlentang dengan tubuh terbuka lebar, benar-benar tidak berdaya dan terekspos sepenuhnya.

Aku mencoba menegakkan diriku, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kumiliki untuk memaksanya lepas dari rantai ini, menyentakkan pergelangan tangan dan kakiku berkali-kali hingga kulitku terasa tergores tajam oleh besi belenggu. Namun, usaha itu sia-sia; rantai-rantai pendek itu terlalu kokoh dan kencang, membuatku bahkan tak bisa beranjak sedikit pun dari posisi tidurku saat ini. Gerakan kasarku justru membuat ujung besi ekor anjing di belakangku bergeser, memicu rasa sakit baru yang membuatku hampir kehilangan kesadaran lagi.

Rasa frustrasi yang luar biasa bercampur dengan amarah yang meluap-luap membuatku benar-benar ingin berteriak sekeras-kerasnya, memaki siapa saja yang bertanggung jawab atas kondisi menghinakan ini atau sekadar meluapkan rasa sakit yang membakar tubuhku.

Aku membuka mulutku lebar-lebar untuk melepaskan jeritan, namun tidak ada suara lantang yang keluar dari tenggorokanku.

Mulutku sudah tertahan sepenuhnya oleh sebuah bola karet tebal berwarna merah terang yang menyumbat rongga mulutku, memaksa rahangku terus terbuka dalam posisi yang kaku dan melelahkan. Bola karet itu dilengkapi dengan tali pengikat kulit yang melingkari kepala, dengan gesper pengunci di bagian belakang kepala yang ditarik begitu kencang hingga menekan pipi dan sudut bibirku dengan sangat keras.

"arghhkghkk"

"argmhmmrszghh"

Aku mengerang berkali-kali, mencoba memaksakan suara keluar dari balik sumbatan karet tersebut. Suara yang dihasilkan hanyalah erangan teredam yang samar, dengusan frustrasi yang terdengar sangat menyedihkan di dalam keheningan kamar kelambu ini.

Tak ada satu pun kalimat makian atau kata yang ingin kuucapkan bisa terdengar di telingaku sendiri, hanya getaran udara tanpa arti yang mempertegas betapa mutlaknya mereka telah merampas hak suaraku. Setiap erangan yang kupaksakan hanya membuat air liurku menumpuk di sekitar bola karet, memicu rasa risih yang mendalam dan membuatku merasa semakin mirip dengan hewan peliharaan yang telah dibungkam sepenuhnya.

Di tengah keputusasaan yang mengurungku, pandanganku jatuh pada kondisi fisikku yang lain. Rambut panjang buatan ini masih sama, helai-helai sintetisnya yang tebal menjuntai berantakan di atas bantal putih yang kini menjadi sandaran kepalaku, sesekali menusuk leherku dan memicu rasa gatal yang tidak bisa ku garuk karena tanganku yang di rantai.

Namun, ada sesuatu yang berubah secara drastis pada tubuhku. Tubuhku yang sebelumnya kotor, penuh debu gudang, lebam, dan berlumuran noda darah kini nampak sudah bersih tanpa ada sisa kotoran sedikit pun. Seseorang telah membersihkan tubuhku saat aku pingsan.

Bukan hanya itu, pakaianku yang sebelumnya berupa mini dress satin emas yang sudah koyak kini berganti dengan sepotong gaun tidur satin tipis berwarna putih bersih. Gaun malam itu terasa lembut di kulitku, namun kehadirannya justru memberikan teror psikologis yang luar biasa.

Pikiran bahwa musuh-musuhku, atau mungkin laki-laki berkumis itu sendiri, telah menyentuh tubuhku yang tidak berdaya, membersihkannya, dan mengganti pakaianku dengan pakaian tidur ini membuat seluruh bulu kudukku merinding ngeri.

Aku benar-benar merasa terekspos di depan mereka, tanpa ada satu pun ruang privasi yang tersisa. Aku benar-benar tak berdaya hingga air mataku perlahan tumpah dari sudut mata, mengalir melewati pelipis dan membasahi rambut panjangku, mengikis habis sisa-sisa ketegaran yang selama ini kubanggakan di dunia kriminal.

Di atas semua siksaan fisik dan mental yang sedang kuhadapi di atas ranjang berantai ini, ada satu lagi hal yang terus mengganggu pikiran dan nuraniku, sebuah beban berat yang membuat dadaku terasa semakin sesak.

Aku tak tahu apakah Rambe masih hidup atau tidak setelah penyiksaan brutal yang diterimanya demi melindungiku.

Selengkapnya di:
http://lynk.id/goresanpenaa/egjrjzx18xn8/checkout

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 08 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Si KancilStories to obsess over. Discover now