Prolog

5 0 0
                                        

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Bahkan ketika sebagian orang terlelap dalam kamar ber-AC yang nyaman, masih ada banyak orang yang berjibaku dengan hidupnya di bawah lampu-lampu kota yang tak pernah padam. Salah satunya adalah Dilla.

Perempuan itu tinggal di sebuah kamar kos sederhana di daerah Angke. Kamarnya tidak luas. Hanya cukup untuk sebuah kasur, lemari kecil, meja lipat, dan beberapa mangkuk makan milik kucing-kucing yang menjadi teman hidupnya.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, Dilla sudah lebih dulu berangkat. Membawa tas yang isinya penuh dengan harapan dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu.

Hidup di Jakarta bukan perkara mudah.

Tagihan harus dibayar. Uang kos harus disiapkan. Makan harus tetap ada. Dan kalau bisa, sedikit tabungan untuk berjaga-jaga ketika hidup kembali memberi kejutan yang tidak diundang.

Hari-harinya dipenuhi pekerjaan tanpa jeda. Berangkat pagi, pulang malam. Kadang tubuhnya terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa tombol istirahat. Namun Dilla tetap berjalan.

Bukan karena kuat.

Melainkan karena tidak punya pilihan selain bertahan.

Dulu, ada seseorang yang menemaninya. Seorang lelaki yang pernah membuatnya percaya bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke rumah, tetapi juga kembali kepada seseorang.

Sayangnya, tidak semua orang yang datang memang ditakdirkan untuk tinggal.

Hubungan itu berakhir.

Bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena hidup sering kali lebih rumit daripada sekadar perasaan.

Sejak saat itu, Dilla memilih sendiri.

Bukan karena membenci cinta.

Ia hanya lelah berharap kepada manusia yang pada akhirnya bisa pergi kapan saja.

Kini, ketika lelah pulang bersamanya, yang menyambutnya hanyalah suara mengeong dari beberapa kucing yang ia pelihara.

Makhluk-makhluk kecil itu tidak pernah bertanya mengapa matanya sembab. Tidak pernah menuntut penjelasan mengapa ia pulang terlambat. Mereka hanya datang, menggosokkan kepala ke kakinya, seolah berkata,

"Kamu sudah berjuang hari ini. Terima kasih sudah kembali."

Dan anehnya, itu cukup.

Cukup untuk membuat Dilla bertahan satu hari lagi.

Satu minggu lagi.

Satu bulan lagi.

Di tengah kerasnya Jakarta, Dilla belajar bahwa menjadi dewasa berarti tetap melangkah meskipun lelah. Tetap tersenyum meskipun hati sedang berantakan. Tetap bekerja meskipun rasanya ingin menyerah.

Karena ia percaya, setiap langkah yang hari ini terasa pontang-panting, setiap air mata yang jatuh diam-diam, setiap perjuangan yang tidak dilihat siapa pun...

Suatu hari akan menemukan jawabannya.

Entah dalam bentuk rezeki yang tak terduga.

Entah dalam bentuk kebahagiaan yang selama ini dicari.

Atau mungkin, dalam bentuk keajaiban yang diam-diam sedang dipersiapkan Tuhan.

Sebab Dilla masih memegang satu keyakinan sederhana:

"Kalau hari ini aku harus pontang-panting untuk bertahan, semoga esok hari Tuhan memberiku alasan untuk tersenyum." ❤️

Dan dari kamar kos kecil di Angke itulah, kisahnya dimulai. Sebuah kisah tentang bertahan hidup, kehilangan, kesepian, harapan, dan keajaiban yang datang kepada mereka yang tidak berhenti berjuang.

Pontang Panting Hari Ini, Keajaiban Esok HariStories to obsess over. Discover now