Lampu merah dari kamera-kamera berita memenuhi malam seperti luka yang belum sempat mengering.
"Auren! Apa hubunganmu dengan ketiga wanita itu?"
"Auren! Benarkah kau mempermainkan mereka?"
"Apakah agensimu akan memutus kontrakmu?"
Suara-suara itu berbaur menjadi dengungan yang memekakkan telinga.
Di balik jendela mobil yang gelap, Auren menatap kosong ke arah kerumunan wartawan.
Beberapa bulan lalu mereka meneriakkan namanya dengan penuh cinta.
Kini mereka meneriakkannya dengan kebencian.
Lucu.
Begitu cepat manusia berubah.
Ponselnya bergetar.
Pesan baru.
Dari CEO agensinya.
Mulai hari ini seluruh aktivitasmu dihentikan.
Dewan direksi telah memutuskan untuk mengakhiri kontrak eksklusifmu.
Kami minta maaf.
Auren menatap layar cukup lama.
Tidak ada amarah.
Tidak ada keterkejutan.
Hanya kehampaan.
Kontrak yang ia bangun selama tujuh tahun berakhir dalam tiga kalimat.
Ia menutup mata.
Di balik kelopak matanya muncul kembali gambar-gambar yang tidak ingin ia lihat.
Konser dome pertama.
Tangisan ibunya saat melihat namanya di billboard raksasa.
Ribuan lightstick yang menyala seperti lautan bintang.
Semuanya terasa seperti kehidupan orang lain.
Mobil berhenti di depan apartemen.
Manager yang selama ini bersamanya tidak turun.
Pria itu hanya duduk di kursi depan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu terdengar suara pelan.
"...Maaf."
Auren tersenyum tipis.
"Untuk apa?"
Manager itu tidak menjawab.
Karena mereka berdua tahu.
Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.
Auren membuka pintu dan keluar.
Hujan turun perlahan.
Dingin.
Sunyi.
Sepi.
Tidak ada penggemar menunggu di depan gedung.
Tidak ada hadiah.
Tidak ada surat.
Tidak ada teriakan cinta.
Hanya bayangan seorang pria yang telah kehilangan segalanya.
_
Malam itu, di lantai empat puluh dua apartemennya, Auren duduk sendirian di depan piano.
Ruangan yang biasanya ramai kini terasa seperti makam.
Ia memainkan satu nada.
Lalu nada berikutnya.
Dan berikutnya.
Melodi yang lahir terdengar asing bahkan baginya sendiri.
Tangannya berhenti.
Di atas piano terdapat tiga foto.
Tiga wanita.
Tiga sumber skandal yang menghancurkan hidupnya.
Media menyebut mereka korban.
Netizen menyebut dirinya monster.
Dan dirinya sendiri...
Bahkan tidak lagi tahu apa yang harus dipercaya.
"Kalau saja aku bisa mengulang semuanya..."
Suara itu menghilang bersama hembusan napas.
Di luar, petir menyambar.
Kilatan cahaya putih memenuhi ruangan.
Lalu semuanya menjadi gelap.
__________________________________
Di dunia yang berbeda.
Di kota yang berbeda.
Seorang pria sedang tertidur di atas meja kerja kecil.
Lembar partitur berserakan di mana-mana.
Kaleng kopi kosong memenuhi sudut ruangan.
Namanya Han Jiho.
Seorang komposer biasa.
Tidak terkenal.
Tidak kaya.
Tidak memiliki siapa-siapa.
Ia telah menghabiskan tiga tahun terakhir mencoba menjual lagu-lagunya.
Dan gagal.
Malam itu ia kembali menerima email penolakan.
Yang ke seratus delapan puluh tujuh.
Maaf. Lagu Anda tidak sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.
Jiho tertawa kecil.
"Sial..."
Ia memandang folder berisi ratusan lagu yang tidak pernah didengar siapa pun.
Lalu menutup laptopnya.
Kelelahan yang menumpuk selama bertahun-tahun akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke meja.
Matanya perlahan tertutup.
Dan untuk terakhir kalinya, ia mendengar suara hujan di luar jendela.
Ketika Jiho membuka mata lagi...
Langit-langit yang ia lihat bukanlah milik kamar sewanya.
Ruangan itu terlalu besar.
Terlalu mewah.
Terlalu asing.
Jantungnya berdetak kencang.
Ia bangkit.
Lalu membeku.
Di dinding seberang terdapat layar televisi yang masih menyala.
Breaking News.
Wajah seorang pria muncul di sana.
Wajah yang sama dengan yang ia lihat di cermin beberapa detik kemudian.
"Auren."
Superstar yang seluruh negeri sedang benci.
Dan kini...
Tubuh itu adalah miliknya.
YOU ARE READING
Downfall
RomanceTae Rin dengan nama panggung Auren, merupakan seorang Idol yang tengah mengalami kemunduran dalam karirnya. Scandal menyebar dan semua orang membencinya... Lalu disuatu malam, seseorang menggantikan jiwa Auren.
