Gemuruh mesin pesawat Boeing 777 yang mendarat di Chhatrapati Shivaji Maharaj International Airport terdengar seperti detak jantung Kirana Tabhita yang tidak keruan. Melalui jendela kecil di sebelahnya, Mumbai menyambutnya dengan kerlip lampu kota yang padat, diselimuti kabut tipis dan aroma khas laut Arab yang bercampur dengan udara hangat malam hari.
Kirana mengembuskan napas panjang, merapatkan cardigan rajutnya yang mendadak terasa terlalu tipis. Di dalam tas tangannya, sebuah paspor hijau dan surat penerimaan Fellowship Spesialis Penyakit Dalam selama enam bulan di Gleneagles Hospital tergenggam erat.
Enam bulan. Bagi orang lain, mungkin itu waktu yang singkat untuk menuntut ilmu di negeri orang. Namun bagi Kirana, enam bulan adalah waktu yang ia beli dengan seluruh sisa harga dirinya untuk mengubur diri dalam pekerjaan, menjauh sejauh mungkin dari tanah air yang mendadak berubah menjadi neraka pasca-pernikahan yang gagal.
"Kira, maaf... aku dan Shinta nggak bermaksud mengkhianati kamu. Tapi perasaan nggak bisa dipaksa."
Suara Reza malam itu-tepat sebulan sebelum hari pernikahan yang seluruh vendornya sudah lunas dibayar-kembali terngiang seperti kaset rusak yang menyiksa otak. Pengkhianatan itu tidak datang dari orang asing, melainkan dari dua pilar utama dalam hidupnya: lelaki yang berjanji menjadi suaminya, dan sahabat perempuan yang berbagi tawa bersamanya sejak masa kuliah. Sekeping hatinya hancur tak bersisa sejak malam terkutuk di mana ia memergoki keduanya di sebuah kafe remang-remang Jakarta.
Sejak saat itu, Kirana merasa ada sesuatu yang mati dan mengering di dalam dadanya. Cinta, bagi Kirana saat ini, hanyalah sebuah lelucon usang yang tidak akan pernah ia beri celah lagi. Kepercayaan yang ia bangun selama tiga tahun runtuh dalam semalam, meninggalkan rasa muak yang teramat pekat pada komitmen.
"Dokter Kirana Tabhita?"
Sebuah suara dengan aksen India yang kental membuyarkan lamunan pahitnya saat ia melintasi pintu gerbang kedatangan yang riuh. Seorang pria paruh baya mengenakan seragam pengemudi rumah sakit memegang papan nama bertuliskan namanya dalam cetakan tebal.
Kirana tersentak kecil, buru-buru menyeka sudut matanya yang mendadak terasa panas. Ia sebisa mungkin menampilkan wajah profesionalnya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk. "Ya, saya Kirana."
"Selamat datang di Mumbai, Dok. Mari, barang-barang Anda biar saya yang urus," ucap pria itu dengan anggukan kepala khas India yang ramah.
Sepanjang perjalanan membelah malam menuju apartemen khusus dokter fellowship, Kirana hanya menatap kosong keluar jendela. Jalanan Mumbai jam sebelas malam masih tampak sangat hidup, atau lebih tepatnya, bising. Klakson taksi hitam-kuning bersahut-sahutan tanpa jeda, seolah-olah mengemudi di kota ini memerlukan tabuhan genderang perang yang konstan. Papan reklame film Bollywood berukuran raksasa menampilkan aktor-aktor bermata tegas dan aktris bermata indah menghiasi sudut jalan, dan aroma rempah kari dari kedai-kedai pinggir jalan sesekali menyusup masuk lewat celah ventilasi AC mobil.
Kota ini terlalu ramai, terlalu berisik, dan terlalu asing. Namun, justru pelarian ekstrem seperti ini yang Kirana cari. Di kota di mana tidak ada satu orang pun yang mengetahui nama belakangnya atau kisah tragis kegagalan cintanya, ia berharap tidak perlu lagi memakai topeng 'wanita tegar' yang melelahkan seperti yang ia lakukan di depan keluarganya di Jakarta. Di sini, dia hanya seorang dokter asing yang ingin tenggelam dalam tumpukan rekam medis pasien. Dia ingin mematikan seluruh fungsi perasaannya dan menggantinya dengan logika medis yang dingin.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah kompleks apartemen modern bergaya minimalis yang terletak tak jauh dari distrik rumah sakit. Pengemudi membantunya membawakan koper besar itu hingga depan pintu kamar bernomor 402 di lantai empat.
Saat Kirana memutar kunci dan membuka pintu, ia langsung disambut oleh kehangatan ruangan yang sudah tertata rapi. Lantai marmer tiruan yang bersih memantulkan cahaya lampu temaram yang menenangkan. Dari arah dapur kecil yang terletak di sudut ruang tengah, muncul seorang gadis bermata sipit dengan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan, mengenakan kaus longgar berlogo karakter kartun Korea.
"Oh, Annyeonghaseyo! Kamu pasti Kirana, teman sekamarku dari Indonesia?" Gadis itu menyapa dengan senyum lebar yang sangat ramah, memecah kecanggungan dalam bahasa Inggris yang fasih. "Aku Hana Han, dari Seoul. Dokter Fellowship Bedah Ortopedi."
Kirana sesaat terpaku, merasa sedikit kikuk dengan energi positif yang dipancarkan gadis di depannya. Namun, senyum tulus pertamanya sejak menginjakkan kaki di India akhirnya terbit juga. "Hai, Hana. Ya, saya Kirana. Panggil saja Kira."
Hana dengan ringkas langsung membantu menarik koper besar Kira masuk ke dalam ruang tengah. "Aku sengaja menyeduh teh chamomile hangat untukmu. Kamu pasti sangat lelah setelah penerbangan panjang dari Jakarta. Kamarmu yang di sebelah kanan ya, sudah kubersihkan dan kusisipkan pengharum ruangan juga."
Melihat ketulusan dan keramahan Hana, sudut hati Kira yang membeku karena pengkhianatan di masa lalu perlahan sedikit menghangat. Setidaknya, dia tidak akan melewati enam bulan masa "pengasingan diri" ini dalam kesepian mutlak yang menyiksa. Di tengah badai emosional yang mengoyak jiwanya, kehadiran Hana seperti secercah cahaya lentera di malam yang gelap gulita.
Malam itu, setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama katun yang longgar, Kira berbaring di atas ranjang barunya yang beraroma lavender. Kamar itu cukup luas, dengan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalanan kota yang tak pernah tidur. Jam dinding berdetik konstan, beradu dengan sayup-sayup suara klakson yang masih terdengar dari kejauhan.
Kira menatap lurus ke langit-langit kamar yang tinggi dan asing. Kamar ini berjarak ribuan kilometer dari Jakarta, ribuan kilometer dari rumah impian yang gagal ia tinggali bersama Reza, dan ribuan kilometer dari kenangan buruk yang hampir menghancurkan kewarasannya. Di kota ini, tidak ada bayangan Shinta yang menangis meminta maaf palsu, dan tidak ada lagi sosok Reza yang memohon kesempatan kedua dengan alasan-alasan narsistik yang memuakkan.
Kira memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma lavender menenangkan saraf-saraf kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia membisikkan sebuah janji suci pada dirinya sendiri sebelum terlelap ke dalam mimpi.
Di kota ini, hanya akan ada dokter Kirana yang rasional dan dingin. Tidak ada ruang untuk hati yang lemah, tidak ada waktu untuk drama cinta yang melelahkan. Enam bulan ke depan hanyalah tentang pasien, diagnosis, dan rumah sakit. Titik.
Kira membalikkan tubuhnya membelakangi jendela, memeluk gulingnya erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung hidupnya dari dunia luar. Ia membiarkan kegelapan malam menyeret kesadarannya jatuh ke dalam tidur yang lelap, berharap esok hari ia bisa bangun sebagai sosok yang sepenuhnya baru.
Namun, Kirana tidak pernah tahu, bahwa takdir malam itu di Mumbai sedang menertawakan seluruh rencana matangnya. Di kota yang penuh warna, keajaiban, dan dentum kultural yang tak terduga ini, seluruh benteng pertahanan yang ia bangun dengan air mata tidak akan bertahan lama. Jauh di sudut distrik Colaba, di sebuah dapur restoran yang dipenuhi aroma rempah kapulaga yang manis, seorang pria konyol berpikiran bebas, berambut gondrong bergelombang, dengan selera pakaian tabrak warna yang luar biasa nyentrik sudah mengantre di garis waktu hidupnya. Pria yang memegang kode kehormatan brutal itu sudah bersiap untuk mendobrak, mengacak-acak, dan melelehkan seluruh dinding es yang paling keras di dalam jiwa sang dokter es dari Indonesia.
______________________________________
Depok, 06 Juni 2026
Gelas_Kaca
YOU ARE READING
The Mumbai Alliance
FanfictionKirana Tabhita, seorang dokter muda asal Jakarta, memilih melarikan diri ke Mumbai lewat program fellowship medis demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan keji tunangan dan sahabatnya sendiri. Bertekad menutup hati dan hidup seperti "Dokter Es" y...
