1.1

1 0 0
                                        

​Kematian Gabriella sungguh jauh dari kata elit.

​Tidak ada adegan menyelamatkan anak kecil dari truk yang melaju kencang, tidak ada pertarungan heroik melawan penjahat. Semuanya terjadi murni karena kebodohannya sendiri. Sore itu, Gabriella sedang berjalan pulang dari kampus, terlalu asyik men-scroll layar ponselnya. Ia tidak memperhatikan jalan, melangkah terlalu cepat, dan-BAM!-kepalanya menghantam tiang besi pembatas jalan dengan kecepatan penuh.

​Gelap. Rasa sakit yang luar biasa merobek kesadarannya hanya sepersekian detik sebelum semuanya menjadi hening.

​Namun, alih-alih gerbang akhirat, hal pertama yang menyambutnya adalah sensasi dingin yang menyengat dan sebuah panel cahaya biru tembus pandang yang mengambang tepat di depan wajahnya.

​[Tuan Rumah Terkonfirmasi: Gabriella.]

[Mengunduh Data Dunia 1... Selesai.]

[Misi: Ubah takdir tragis inang asli, penuhi keinginan terakhirnya, dan kumpulkan 500 Poin Sistem.]

​Sebelum Gabriella sempat berteriak, sebuah suara mekanis yang kaku dan tanpa emosi mendadak bergema di dalam kepalanya.

​"Inisialisasi selesai. Selamat datang, Tuan Rumah. Saya adalah Sistem Penyelamat Takdir. Anda saat ini telah ditransmigrasikan ke dalam sebuah novel BL (Boys Love) berjudul 'Ilusi Sempurna'."

​"Tunggu, apa? Novel BL? Kenapa aku ada di sini?!" Gabriella mencoba meraba wajah dan tubuhnya. Anehnya, semuanya terasa familiar. Wajahnya, lekuk tubuhnya yang sintal, dadanya yang penuh-ini benar-benar tubuhnya sendiri, bukan tubuh orang asing.

​"Menjawab Tuan Rumah: Sistem telah menyesuaikan wadah fisik dengan jiwa Anda. Di dunia ini, Anda menggantikan karakter figuran dengan nama dan fisik yang sama persis. Gabriella di dunia ini adalah seorang mahasiswi cerdas penerima beasiswa penuh dari sebuah perusahaan raksasa."

​Suara Sistem terus mengalir datar, mengabaikan kebingungan Gabriella.

​"Inang asli adalah sosok yang sangat pekerja keras. Demi mengumpulkan uang, ia rela mengambil tiga pekerjaan paruh waktu sekaligus dalam sehari, bekerja siang dan malam tanpa henti. Semua hasil keringatnya diserahkan kepada tunangannya, Phurin, yang berjanji akan menabungnya untuk biaya pernikahan mereka."

​Mendengar itu, Gabriella mendengus sinis. "Jangan bilang uangnya dipakai buat foya-foya?"

​"Lebih buruk dari itu," balas Sistem dingin. "Phurin sebenarnya adalah seorang gay. Ia sama sekali tidak mencintai inang asli dan hanya memanfaatkannya sebagai tameng untuk menutupi orientasi seksualnya demi menjaga nama baik keluarga, sekaligus menguras uangnya. Semua uang hasil kerja keras inang asli digunakan Phurin untuk memanjakan pacar prianya."

​Dada Gabriella seketika terasa sesak, seolah sisa-sisa emosi dari inang asli masih tertinggal di tubuh ini.

​"Dalam plot aslinya, inang asli akhirnya memergoki Phurin sedang bersama selingkuhannya. Hancur karena pengkhianatan dan kelelahan mental, inang asli menjatuhkan dirinya dari atap gedung lantai 30. Keinginan terakhirnya sebelum mati sangat sederhana: ia hanya ingin memiliki keluarga yang bahagia."

​Gabriella mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa iba bercampur amarah meledak di dadanya. Tiga pekerjaan sehari? Mengorbankan masa muda dan beasiswanya hanya untuk membiayai parasit manipulatif seperti Phurin?

​"Oke," desis Gabriella. "Aku paham misiku sekarang. Aku harus memutus pertunangan gila ini, menyelamatkan beasiswanya, dan menyingkirkan Phurin dari hidupku. Apa ada hal lain yang perlu aku tahu tentang si brengsek itu?"

​"Sistem akan memberikan panduan awal. Hal yang paling disembunyikan oleh Phurin saat ini, yang bisa Anda gunakan sebagai senjata, adalah-bzzzt... krrk."

​Suara mesin yang tadinya lancar itu tiba-tiba tersendat. Layar holografik di depan Gabriella mulai berkedip-kedip liar, menampilkan garis-garis merah terang.

​"P-Peringatan... bzzzt... Kegagalan server sentral. Bug terdeteksi. M-Memulai mode paksa tidur... krrrkkk... Untuk menghancurkan Phurin, Anda tidak boleh... bzzzt... pria di perusahaan... krrrrk..."

​"Hei! Pria apa?! Jangan mati dulu, brengsek!" umpat Gabriella panik.

​"S-Sistem... offf... liiine..."

​PING!

​Layar biru itu meledak menjadi serpihan cahaya dan lenyap sepenuhnya. Keheningan total kini menyelimuti ruangan. Gabriella berdiri mematung di tengah kamar apartemen yang sempit dan berantakan. Sistemnya baru saja crash akibat bug, meninggalkannya sendirian tanpa tahu apa senjata rahasia untuk melawan tunangan parasitnya.

​Ia berjalan gontai ke arah cermin yang retak di sudut ruangan. Pantulan dirinya terlihat sangat berantakan; kantung matanya hitam, kulitnya pucat karena kurang tidur, bukti nyata dari kerja keras inang asli yang dieksploitasi habis-habisan.

​Gabriella menarik napas panjang, menatap tajam pantulannya sendiri.

​"Kau bodoh karena terlalu mencintai pria bajingan," bisiknya pada bayangan inang asli. "Tapi tenang saja. Sekarang aku yang mengambil alih tubuh ini. Jangankan membiarkan Phurin memakai uang kita untuk pacarnya, satu sen pun akan kubuat dia muntahkan kembali."

​Gabriella merapikan rambutnya dan tersenyum sinis. Kematian konyolnya menabrak tiang mungkin memang memalukan, tapi di dunia ini, ia tidak akan membiarkan dirinya mati untuk kedua kalinya sebagai tokoh figuran yang menyedihkan.





System Error: The Transmigration JourneyStories to obsess over. Discover now