Gerimis di Verloren tidak pernah benar-benar membasuh darah. Ia hanya membuatnya membeku, berubah menjadi kerak hitam yang melekat erat pada celah-celah zirah baja.
Sir Gideon melangkah lambat. Setiap kali lutut bajanya ditekuk, gesekan besi berkarat itu mengeluarkan suara derit parau yang menyedihkan,seperti rintihan seorang sekarat yang dipaksa berjalan. Sudah tiga hari ia tidak melepas pelat dadanya. Berat zirah itu hampir mencapai tiga puluh kilogram, namun beban yang menekan pundak Gideon terasa ribuan kali lebih berat. Jiwanya telah lama runtuh, menyisakan tubuh berongga yang bergerak murni karena sisa-sisa refleks medan perang.
Di sampingnya, Duran berjalan dengan kepala tertunduk.
Kuda perang berkulit legam itu bukan lagi monster gagah yang dahulu sanggup menerjang barikade tombak musuh. Kini, rusuk-rusuk Duran menonjol tajam di balik kulitnya yang tipis dan penuh bekas luka cambuk. Bulu-bulunya kusam, basah oleh rintik hujan dingin yang tak kunjung usai. Setiap kali Duran mengembuskan napas, uap putih tebal keluar dari moncongnya, langsung lenyap ditelan udara kelabu Verloren.
Duran adalah satu-satunya saksi yang tersisa dari kejayaan Gideon. Dan kini, ia juga menjadi satu-satunya saksi dari kehancurannya.
"Pelan-pelan, kawan," bisik Gideon. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh desau angin yang bersiul di sela-sela ranting pohon mati.
Gideon mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan besi berkarat, mengusap perlahan tengkuk Duran. Kuda itu mendengus lemah, menempelkan dahinya yang dingin ke pelindung bahu Gideon. Sentuhan itu tidak hangat, namun di dunia yang sepenuhnya membeku ini, embusan napas Duran adalah satu-satunya hal yang membuktikan kepada Gideon bahwa ia sendiri belum menjadi mayat.
Mereka berada di dataran tinggi berbatu yang tandus. Di bawah sana, kabut tebal merayap lambat seperti hantu-hantu tentara yang gugur, menyelimuti reruntuhan benteng-benteng kuno. Verloren telah mati setelah Perang Seratus Tahun usai. Tanah ini tidak lagi menyisakan harapan, hanya menyisakan jelaga, besi tua, dan ingatan-ingatan yang membusuk.
Namun, bagi Gideon, racun paling mematikan tidak berada di tanah berlumpur ini. Racun itu tersimpan rapat di balik saku kulit di bawah zirah dadanya.
Sebuah lipatan kertas yang sudah basah oleh keringat dan air hujan.
Gideon tidak perlu membukanya lagi untuk mengingat setiap baris kalimat di dalamnya. Pikiran itu datang tanpa diundang, memotong kesunyian malam dengan rasa sakit yang begitu tajam hingga membuatnya sesak napas.
"Jangan mencariku lagi, Gideon. Perang telah mengambil suamiku bertahun-tahun yang lalu. Pria yang kini bersamaku tidak memiliki bau darah pada jemarinya. Ia memiliki kehangatan, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau bawa pulang, kau hanya pergi berperang untuk memenuhi semua yang kau janjikan , tapi entah kenapa gideon ??, aku merasa kau hanya datang memenuhi kebutuhan ku , tidak memberi ruang aku untuk cemburu , tidak memberi ruang aku untuk kecewa, kau terlalu mendominasi perang , kau lupa gideon , kau tidak hadir saat aku ingin di peluk di kasur kayu ini, kau hanya berperang, tak pernah marah dan membentak ku dalam ratapan ataupun keluhan yang aku lontarkan dalam kehidupan yang bernama kita , jangan cari aku gideon , aku bersamamu karena kau selalu membawakan bunga dan kebaikan di isi rumah , tapi kau tidak pernah membuatku mencintaimu"
Gideon memejamkan mata erat-erat. Di balik kegelapan pelupuk matanya, ia tidak melihat medan perang Utara yang membara. Ia melihat pondok kecilnya di tepi hutan. Ia mengingat bagaimana ia memaksakan tubuhnya yang terluka parah untuk berkuda siang dan malam, menembus badai salju perbatasan, hanya demi satu janji, pulang ke pelukan wanita yang dicintainya. Ia membayangkan bau roti panggang, kehangatan api perapian, dan senyum yang selalu menemaninya dalam mimpi-mimpi buruk di parit pertempuran.
Namun, saat ia membuka pintu pondok itu tiga hari lalu, yang ia temukan hanyalah abu dingin di perapian, debu tebal di atas meja kayu, dan surat itu.
Istrinya telah pergi bersama seorang pedagang kota,pria yang menetap dengan aman di balik tembok tinggi selagi Gideon mempertaruhkan nyawa dan jiwanya di garis depan untuk melindungi kedamaian mereka.
"Aku memenangkan perang, Duran..." gumam Gideon, menatap nanar ujung sepatu botnya yang berlumpur. "Lalu untuk apa semua darah ini?"
Duran tidak menjawab. Kuda itu hanya melangkah satu demi satu, menyamakan ritme kakinya dengan langkah pincang tuannya. Mereka tidak tahu ke mana jalan setapak ini akan membawa mereka. Tidak ada peta, tidak ada tujuan, tidak ada pelabuhan terakhir.
Gideon berjalan bukan untuk menuju ke suatu tempat. Ia berjalan hanya untuk terus berlari dari kenyataan bahwa rumah yang ia perjuangkan selama hidupnya kini telah menjadi tempat paling asing di dunia.
Saat gerimis perlahan berubah menjadi serpihan salju pertama yang turun dari langit kelabu, Gideon kembali melangkah. Di ujung jalan yang sunyi itu, hanya ada keputusasaan yang menanti, dan sisa napas hangat dari seekor kuda tua yang menolak untuk membiarkannya mati sendirian.
YOU ARE READING
Gideon The Hollow Knight
Fantasy"Aku memenangkan perang, namun kalah dalam rumahku sendiri." Sir Gideon bukan lagi ksatria yang namanya dielu-elukan dalam lagu kepahlawanan. Setelah Perang Seratus Tahun usai, ia kembali ke rumah dengan tubuh yang penuh luka, hanya untuk menemukan...
