PROLOG

31 6 0
                                        

Sore itu, desakan di lorong gerbong kereta sangat padat. Tubuh seorang gadis terombang-ambing di tengah lautan manusia yang memenuhi gerbong. Begitu pintu kereta terbuka, semua orang langsung berlarian ke sana kemari layaknya kawanan semut. Ada yang bergegas menuju tangga, ada pula yang langsung mengarah ke area parkiran.

Banyak orang yang tampak sibuk sore itu, termasuk seorang Aruna Zahira. Hari ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki kembali ke tanah Jakarta setelah bertahun-tahun lamanya. Tentu saja ia datang bukan tanpa alasan, ada tujuan penting yang harus ia persiapkan untuk—

BUGH!

"Aduh ... Woi! Lo kalo jalan tuh bisa lihat kiri kanan gak sih?!" teriak Runa spontan.

Namun setelah amarahnya mereda, ia mulai sadar bahwa orang yang menabraknya tadi masih terduduk cukup lama di lantai stasiun. Sebagai seseorang yang merasa memiliki hati nurani sebersih mutiara dan selembut kapas, rasa tega pun muncul. Ia akhirnya berjongkok di depan orang tersebut dengan raut wajah yang berubah khawatir.

"Lo gapapa? Ada yang sakit ga?"

Suasana sempat hening, tidak ada jawaban yang keluar. Tak lama kemudian, terdengar suara isakan pelan. "Hiks.. h-hiks.."

Seketika kepanikan melandanya.

MAMPUS! DIA NANGIS? GARA-GARA GUE?? WHAT?! pikirnya dalam hati yang mulai kacau.

Namun, di tengah kepanikannya yang memuncak, orang di hadapannya tiba-tiba saja cekikikan. Ia hanya bisa memandangi orang bertubuh gagah itu dengan bingung, bertanya-tanya dalam hati apakah tabrakan tadi telah merusak fungsi otak orang itu?

"He-hello?" panggil Runa ragu.

"Haha ... AHAHAHA, lo memang gampang dikibulin ya?" ucap orang itu sambil tertawa puas, memandang wajah Runa yang terlihat panik.

Seketika panas di kepala Runa memuncak. BRENGSEK! Jadi tangisan tadi cuma bohongan? batinnya, benar-benar habis pikir. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia langsung bangkit dan pergi meninggalkan orang itu dengan wajah kusutnya.

"Kenal namanya aja belum, udah ngeselin begitu anjir," gerutunya sepanjang jalan.



♡♡♡



Tangannya sibuk menggeser layar ponsel, membuka aplikasi hijau untuk mencari transportasi online. Sayangnya, tidak ada satu pun pengemudi yang menerima pesanannya. Mood Runa yang sudah rusak semakin rusak, terpaksa dengan cuaca panas begini ia harus berjalan kaki ke arah jalan raya di dekat bandara untuk memberhentikan angkot atau taksi.

Baru beberapa meter menjauhi bandara, ia melihat pria yang tadi bertabrakan dengannya bersandar di sebuah mobil sembari menggulir ponsel. Runa tak ingin menyapa atau berpapasan dengan orang itu lagi, jadi ia tetap fokus ke trotoar yang sebentar lagi mendekati jalan raya.



♡♡♡





Setibanya di hotel yang akan ia tempati, Runa bergegas mandi dan beristirahat di atas kasur. Tepat beberapa detik terbaring, ia mendapati pesan singkat dari mama nya.

Mama: Kamu udah sampe belum, Kak? 

Udah, Ma. Ini lagi di hotel kok, istirahat.

Mama: Ya sudah, nikmati saja dulu liburannya ya.
Mama: Nanti mama sharelock lokasi kosan temen mama itu. Kamu selama mama titip jangan nakal di Jakarta ya.

Aruna hampir lupa jika ia pergi ke Jakarta untuk sekolah. Seminggu sebelum sekolah mulai, Runa meminta kepada ibunya untuk menginap di hotel agar tenang, dua hari sebelum sekolah barulah Runa akan pergi ke kos milik teman mama nya untuk tinggal disana.

Ya. Kata mama sih, supaya ada yang jagain gue.

STRANGER?! | Martin, cortis [BERSAMBUNG]Stories to obsess over. Discover now