Suara napas yang menderu dan decitan halus ujung tempat tidur beradu dengan hawa dingin pendingin ruangan di apartemen Bastian. Di atas ranjang berukuran king size itu, dua tubuh manusia saling membelit tanpa selembar benang pun. Aralie mencengkeram erat bahu Bastian, kuku-kukunya yang terawat menggores kulit punggung laki-laki itu seiring dengan hentakan yang semakin cepat dan dalam.
Bastian memejamkan mata, rahangnya mengeras menahan kenikmatan yang nyaris membakar seluruh kewarasannya. Sejak kelas 2 SMA, wajah Aralie adalah satu-satunya yang menghantui pikirannya. Kini, di semester 3 bangku perkuliahan, ia masih berada di tempat yang sama: di dalam pelukan Aralie. Namun, status mereka tidak pernah berubah. Mereka hanyalah sepasang sahabat yang terjebak dalam lingkaran setan bernama Friends With Benefits (FWB).
"Ahhh... Lie... gue mau keluar..." geram Bastian, suaranya serak dan berat di dekat telinga Aralie.
"Keluarin di perut gue, Bas... cepath... ahh!" balas Aralie dengan napas yang terputus-putus, matanya sayu menatap langit-langit kamar.
Bastian menarik kejantanannya dengan cepat tepat sebelum cairannya meledak. Dengan satu sentakan terakhir, cairan putih kental dan panas itu menyembur, menumpuk, dan mengalir di atas perut rata Aralie yang berkeringat. Bastian ambruk di samping Aralie, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.
Setelah beberapa menit keheningan yang hanya diisi oleh suara napas mereka, Aralie bangkit. Ia meraih beberapa lembar tisu di atas nakas, menyeka cairan Bastian di perutnya tanpa rasa jijik, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di ujung kasur.
"Bas, tiket film buat akhir pekan ini udah bisa dipesan," kata Aralie. Suaranya langsung kembali datar, seolah-olah aktivitas panas beberapa menit lalu tidak pernah terjadi. "Gue mau kita nonton di bioskop biasa. Tapi inget, gue mau duduk di barisan G, tepat di bagian tengah. Jangan sampai salah pencet kayak bulan lalu."
Bastian menghela napas panjang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Rasa hampa langsung menyerang dadanya setiap kali sesi seks mereka berakhir. Aralie selalu bisa memutus mode intim menjadi mode kasual dalam sekejap mata.
"Bisa," jawab Bastian pelan. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Aralie, menopang kepalanya dengan satu tangan. "Tapi ada syaratnya kali ini."
Aralie menoleh, alisnya bertaut. "Syarat apa lagi?"
"Gue mau lo pura-pura jadi pacar gue seharian pas kita nonton nanti. Gandeng tangan gue di depan umum, panggil gue sayang, dan bersikap kayak kita ini emang punya hubungan resmi. Sekali aja, Lie."
Ck. Aralie berdecak kesal, memutar bola matanya dengan malas.
"Bas, jangan mulai deh. Jangan ngerusak suasana yang udah enak," sergah Aralie dengan nada memperingatkan. "Kita udah sepakat dari awal kesepakatan FWB ini jalan. No strings attached. Jangan bawa-bawa urusan perasaan atau status pacaran. Lo tahu kan kenapa gue nggak bisa?"
Bastian terdiam. Ia tahu betul. Sangat tahu. Enam kali ia menyatakan cintanya sejak SMA hingga kuliah, dan enam kali pula Aralie menolaknya mentah-mentah. Alasan Aralie selalu sama: trauma mendalam akibat mantan kekasihnya di masa lalu yang berselingkuh dan memperlakukannya dengan manipulatif. Trauma itu membuat Aralie membangun benteng pertahanan yang begitu tebal. Dia menginginkan tubuh Bastian, membutuhkan kehadiran Bastian, tetapi menolak memberikan hatinya secara legal.
"Hm, fine. Barisan G tengah," kata Bastian akhirnya, mengalah dengan rasa pasrah yang teramat sangat. Pikirannya mulai lelah dengan penolakan yang terus berulang ini.
Pameran Mobil dan Batas Kesabaran
Dua minggu setelah kejadian di apartemen, Bastian memutuskan untuk mengambil langkah berbeda. Pikirannya terus berputar pada kesimpulan yang sama: ia tidak bisa menjalani hidup yang semu ini terus-menerus. Ia tidak bisa terus menjadi pemuas kebutuhan Aralie, sementara hatinya sendiri perlahan mati rasa karena digantung tanpa kepastian.
YOU ARE READING
One-Shot48 🔞
FanfictionCerita ini 100% fiksi dan murni imajinasi semata. Tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata para member, atau pihak manapun. Semua karakter, kejadian, dan tempat hanyalah karangan penulis. Cerita ini dibuat untuk hiburan dewasa saja.
