bagi Mark, ujung koridor di kelas 8A adalah tempat paling mendebarkan sekaligus paling di nantikan setiap harinya. di sanalah, siluet harcell tertangkap jelas oleh kedua matanya. setiap kali langkah kakinya menderap mendekat, detak jantung mark mendadak berpacu hebat, begitu nyaring sehingga ia takut satu sekolah bisa mendengarnya.
mark tidak pernah absen memperhatikan harcell. ia hafal diluar kepala apa makanan favorit gadis itu saat di kantin, bahkan tahu persis kalau pelajarn matematika adalah musuh terbesar bagi si pemilik netra sinis tersebut.
meski logat sundanya sering terdengar ketus dan jutek, harcell selalu punya cara untuk terlihat manis di mata mark. rambut panjang bergelombongnya membingkai sempurna paras imut gadis tersebut. di mata mark, tidak ada yang kurang; ia terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama yaitu kepada harcell.
langkah kaki mark mendadak melembat saat sosok yang sejak tadi ia perhatikan kini berada beberapa meter di hadapannya. harcell beridiri di pembatas koridor, mengerucutkan bibirnya sambil menatap sengit sebuah buku paket matematika di pelukannya.
mark memberanikan diri untuk mendekat, mencoba menetralisir debar jantungnya yang semakin menggila. sebagai kakak kelas, ia mencoba bersikap tenang dan berwibawa.
"kenapa, cell? serius amat" tanya mark, berdiri dalam jarak aman sekitar satu meter di samping harcell.
harcell tersentak kecil, menoleh cepat. mengetahui yang menyapanya adalah sosok kak mark, kakak kelas yang terlihat ramah tapi agak pendia. harcell langsung memasang wajah cemberutnya.
"eh, ka mark... ini eummm, aku teh... kena remedial matematika la..gi" keluh harcell dengan logat sundanya yang khas terdengar natural karena sedang kesal.
"padahal kemarin udah di ajarin sama a deri, naha atuh masih remedial? ishhh... ini semua gara gara a deri! pasti karena a deri ngajarin nya salah. makanya aku teh kena remedial lagi"desis harcell karena ia tahu betual jika kakaknya adalah manusia super rese di dunia ini.
mark menahan senyumnya sekuat tenaga. ia melihat wajah harcell yang sedikit merah karena kesal yang tak terbendung untuk kakaknya, yang ternyata teman satu angkatan mark.
"kamu masih bisa perbaikin nilai kamu kok. nilai kamu bukan yang paling kritis" hibur mark mencoba menenangkan.
"tapi tetep aja! lagian kenapa si harus ada remedial? kenapa matematika gak di hapus aja dari kurikulum sekolah?" gerutu harcell lagi, kakinya menghentak hentak kecil.
melihat kepolosan adik kelasnya yang mendadak protes kepada kurikulum negara, mark akhirnya terkekeh pelan.
"kalau matematika di hapus, nanti kamu kalau jajan di kantin gimana cara hitung kembaliannya?"
"ya...tinggal percaya aja sama ibu kantinya, kak. masa iya ibu kantin mau bohongin aku" jawab harcell dengan polos tanpa dosa.
kali ini mark tidak bisa menahan tawa renyahnya. harcell yang menyadari jawaban polosnya di tertawakan langsung merengut. matanya yang bulat kini menatap mark dengan sinis, pipinya sedikit menggembung karena gengsi.
"ih, ka mark mah malah ngetawain! nyebelin sama kaya a deri!" ketus harcell sambil membalikan badan, berniat pergi.
"eh, bentar, cell" panggil mark panik. ia buru buru menyamakan langkahnya dengan harcell.
"jangan ngambek. kebetulan bab remedial itu materi kelas 8 yang paling aku suka. mau aku kasih tahu trik cepetnya gak? biar besok nilai kamu gak di cetak tebal lagi".
harcell menghentikan langkahnya. ia melirik mark dari sudut matanya, menimang antara gengsi atau nilai remedialnya yang terancam hancur.
"trik cepat? gak pake rumus yang panjang-panjang kaya kereta ekonomi?" tanya harcell memastikan, suaranya mengecil.
