Malam itu sangat sunyi di terminal bus yang sudah tua. Guntur berdiri sendirian, hanya ditemani oleh lampu neon yang berkedip-kedip dan ransel di bahunya. Ia mengenakan kaos band metal hitam favoritnya, siap untuk perjalanan panjang pulang ke rumah. Bus antarkota itu akhirnya tiba, mesinnya menderu rendah seperti binatang yang sedang menggeram di tengah kegelapan. Guntur menaiki anak tangga bus yang licin. Di kursi pengemudi, duduk seorang pria tua bernama Suro. Suro mengenakan topi kumal yang menutupi matanya, tangannya yang kurus mencengkeram kemudi dengan erat tanpa menoleh sedikit pun. Guntur menyerahkan tiketnya, namun Suro hanya mengangguk pelan, memberikan suasana dingin yang membuat bulu kuduk Guntur berdiri.Bus mulai melaju, meninggalkan lampu-lampu kota yang perlahan memudar. Guntur memilih kursi di barisan tengah, tepat di dekat jendela. Di dalam bus yang hampir kosong itu, udara terasa sangat dingin, jauh lebih dingin daripada udara malam di luar. Ia mencoba memejamkan mata, namun derit suara badan bus membuatnya tetap terjaga.Tiba-tiba, Guntur menyadari bahwa dia tidak sendirian di area penumpang. Di kursi paling belakang, duduk seorang wanita tua bernama Ning. Ning mengenakan selendang batik kusam yang menutupi kepalanya. Dia duduk dengan kaku, menatap lurus ke depan tanpa berkedip, seolah-olah dia adalah bagian dari kursi bus itu sendiri.Bus memasuki jalanan hutan yang gelap gulita. Tidak ada lampu jalan, hanya sorot lampu depan bus yang membelah kabut tipis. Lampu di dalam bus tiba-tiba berkedip-kedip dengan suara berdengung yang mengganggu telinga. Guntur merasa ada yang tidak beres; bus ini melaju terlalu cepat di jalanan yang berkelok-kelokGuntur memutuskan untuk berjalan ke depan. Ia ingin bertanya kepada Suro apakah mereka sudah melewati kota tujuan, karena ia merasa perjalanan ini sudah berlangsung terlalu lama. Setiap langkah yang diambilnya di atas lantai bus yang bergetar terasa sangat berat, seolah-olah ada beban yang menarik kakinya.Pak, apakah kita sudah sampai di perhentian berikutnya?" tanya Guntur dengan suara bergetar. Suro tidak menjawab. Perlahan, Suro memutar kepalanya ke arah Guntur. Wajahnya pucat pasi, dan matanya tidak memiliki bola mata, hanya menyisakan rongga hitam yang dalam dan gelap. Guntur terkesiap, melangkah mundur dengan ketakutan yang luar biasa.Saat Guntur mundur, ia menabrak sesuatu yang dingin dan keras. Ia berbalik dan menemukan Ning sudah berdiri tepat di belakangnya. Ning tidak lagi duduk di kursi belakang; dia berdiri sangat tegak, selendangnya kini terlepas memperlihatkan rambut putihnya yang panjang dan berantakan. Ning membisikkan sesuatu yang tidak jelas, suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering.Guntur mencoba melihat keluar jendela, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan atau jalan keluar. Namun, di luar sana bukan lagi jalanan aspal, melainkan hamparan kabut putih yang tak berujung. Bus itu seolah melayang di atas kegelapan. Papan petunjuk tujuan di bagian depan bus berubah, menampilkan kata-kata yang tidak bisa ia baca namun terasa sangat kelam.Bus terus melaju menembus kabut, membawa Guntur menuju tujuan yang tidak pernah ada di peta manapun. Di dalam bus itu, suara mesin perlahan berubah menjadi jeritan halus yang menyatu dengan angin malam. Guntur menyadari bahwa bus ini bukanlah bus antarkota biasa, melainkan bus terakhir yang menjemput mereka yang tersesat di kegelapan malam.
