Jangan lupa untuk vote serta comments yups
Jemarinya mengetik lebih keras dari yang seharusnya, membuat suara tombol keyboard terdengar nyaring di tengah sunyinya apartemen kecil yang dipenuhi kanvas-kanvas bersandar pada dinding. Sesekali bibir bawah itu tergigit tanpa sadar saat dadanya mulai naik turun tidak beraturan. Mata cokelat yang sembab itu kembali menatap layar laptop untuk kesekian kalinya, mengikuti setiap huruf yang telah ia susun di sebuah platform media sosial X seolah takut ada satu kata yang salah.
Bagi siapa pun yang mengenal seorang hacker, tolong DM aku.
Aku butuh seseorang untuk memantauku.
Aku kehilangan terlalu banyak memori.
Aku lelah dengan semua yang kulakukan tanpa kuingat.
Aku lelah.
Namun jemarinya kembali bergerak sebelum keberanian itu sempat bertahan lebih lama. Satu per satu huruf tersebut menghilang dari layar hingga hanya menyisakan ruang kosong. Tenggorokannya terasa mengering. Bagaimana jika mereka menganggap ini hanya cuitan mencari perhatian? Bagaimana jika mereka kembali tertawa seperti yang lain? Bagaimana jika setelah semua yang ia lakukan, mereka tetap menganggapnya gila?
Karena bukankah selama ini memang seperti itu?
Tidak peduli berapa kali ia mencoba menjelaskan. Tidak peduli berapa kali ia berusaha membuat orang lain mengerti bahwa ada bagian-bagian hidupnya yang benar-benar hilang begitu saja tanpa mampu ia kendalikan. Mereka selalu memiliki jawaban yang sama.
Stres. Trauma. Mencari perhatian. Berlebihan. Bahkan saat ia terbangun dengan luka yang tidak pernah ia ingat darimana asalnya, bahkan saat ia menemukan barang-barang asing di apartemennya sendiri, bahkan saat ia membaca percakapan yang sama sekali tidak pernah ia ingat pernah mengetiknya, tidak ada seorang pun yang benar-benar percaya.
Mata Mira perlahan bergeser ke arah kanvas-kanvas yang memenuhi dinding apartemennya. Wajah-wajah yang ia lukis selama berbulan-bulan itu seolah sedang menatap balik ke arahnya. Beberapa tersenyum. Beberapa kosong. Beberapa bahkan tidak memiliki wajah yang selesai. Namun semuanya terasa begitu asing hingga membuat dadanya semakin sesak.
Karena ada hari-hari dimana ia tidak mengingat pernah melukis salah satunya. Ada hari-hari dimana ia bangun dan menemukan warna cat yang berbeda dari biasanya memenuhi jemarinya. Ada hari-hari dimana ia merasa seperti sedang tinggal di dalam kehidupan orang lain yang kebetulan memakai tubuhnya.
Dan bagian paling mengerikan bukanlah kehilangan ingatan itu sendiri. Melainkan kenyataan bahwa perlahan ia mulai tidak tahu mana yang nyata dan mana yang tidak.
Bagaimana jika mereka benar? Bagaimana jika selama ini memang tidak ada siapa-siapa? Bagaimana jika seluruh suara itu hanya ada di kepalanya? Bagaimana jika seluruh ketakutan itu hanyalah alasan yang ia ciptakan agar tetap merasa waras?
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Telapak tangannya menghantam pipinya sendiri begitu cepat hingga suara tamparan itu menggema di dalam ruangan sempit tersebut. Kepalanya terlempar ke samping. Rasa perih langsung menjalar hingga rahangnya, namun itu tidak cukup membungkam gemuruh yang semakin keras di dalam kepalanya.
YOU ARE READING
Last Desire
RomanceOrang dengan penyakit mental itu gila. Setidaknya, itulah cap yang selalu diterima Mira Hart setiap kali ia mengaku memiliki Dissociative Identity Disorder. Hingga tak ada yang percaya pada ingatannya sampai tindakannya. Termasuk dirinya sendiri. Sa...
