"Halo?"
Ucap Gaby memanggil sahabatnya-Talia lewat telepon.
Perempuan kelas 12 yang bersekolah di SMA Cipta Karsa itu menelpon sahabatnya untuk bertanya tentang tugas sekolah hari ini, sebab hari ini Gaby tak sempat hadir ke sekolah karena demam yang tiba-tiba menyerang tubuhnya.
"Iya, kenapa Gab," jawab Talia dengan suara sengau.
"Lo hari ini masuk sekolah gak?" Tanya Gaby membetulkan posisi duduknya.
"Enggak, pilek gue," kata Talia sambil mengeluarkan ingusnya, suaranya bahkan terdengar di seberang telpon.
"Iyuh, jorok banget," sahut Gaby membuat tawa Talia lepas.
"Ya lagian, orang lagi pilek di ajak telponan, kan bisa chat," celetuk Talia belum berhenti tertawa.
"Tadinya gue mau nanya, hari ini ada tugas gak?"
"Oalah, kayaknya gak ada deh, soalnya grup kelas aja sepi, biasanya kalau ada tugas pada diskusi di grup, kan?" ungkap Talia membuat Gaby ber-oh ria.
"Besok lo naik kan?" Tanya Gaby.
"Iya, udah mendingan kok ini," jawab Talia.
"Tapi ... jemput ya, besok berangkat bareng," pinta Talia.
"Sip, besok gue jemput," kata Gaby.
°-📚-°
"Ibu, Gaby berangkat dulu ya," pamit Gaby mencium punggun0g tangan Ibunya.
Wajah Ibu Gaby terlihat cemas, tangannya tak bwrhenti mengelus puncak kepala Gaby dengan pelan.
"Nak, ingat, kalau di sekolah jaga sikap ya, jaga omongannya, kita ini hidup berdampingan dengan mereka," tutur Ibunya tiba-tiba membuat Gaby bingung.
'Kenapa Ibunya tiba-tiba berbicara seperti itu?' batin Gaby menatap Ibu dengan tatapan penuh tanya.
Namun Gaby tak mau ambil pusing, dan segera meng-Iyakan pesan dari Ibunya.
"Gaby berangkat ya, Bu," kata Gaby meninggalkan halaman rumah sambil melambaikan tangannya ke arah Ibunya.
Gaby menaiki motor matik kesayamgannya, mengklik tali helm, lalu memutar kunci kontak. Raungan mesin yang halus segera memecah keheningan pagi. Saat mulai melaju membelah jalanan kompleks, dahinya berkerut samar.
Sepi. Mengapa pekarangan rumah-rumah di sekitarnya tampak begitu lengang? Biasanya, jam-jam sekian sudah ramai oleh ibu-ibu yang berbelanja sayur atau tetangga yang sekadar menyiram tanaman.
Keganjilan itu sempat mengusik benaknya, namun Gaby memilih mengedikkan bahu acuh. Enggan ambil pusing, ia memutar tuas gas lebih dalam, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya seiring motor melaju menuju rumah Talia- sahabatnya.
TIN! TIN!
Gaby memilih membunyikan klaksonnya dibanding mengeluarkan suaranya untuk memanggil Talia.
"IYAA, GUE KELUAR," pekik Talia dari dalam rumahnya sambil berlari cepat.
"Lama," ledek Gaby dengan senyuman yang membuat Talia melirik sinis-senyum yang menyebalkan.
Sepuluh menit membelah jalan raya, sepeda motor Gaby akhirnya berbelok memasuki area SMA Cipta Karsa. Sembari mematikan mesin, Gaby mengangguk sopan dan melempar senyum kepada Pak Jaenab-guru pensiunan paling tua di SMA Cipta Karsa yang berjaga di dekat gerbang.
Pak Jaenab dulunha adalah seorang guru, namun seiring berjalannya waktu ia di pindah profesikan menjadi seorang satpam sekolah karena memang pak Jaenab sudah tidak mampu untuk mengajar di umur 61 tahun.
YOU ARE READING
Lukisan di Perpustakaan
Mystery / ThrillerDi sudut perpustakaan yang sunyi, sebuah lukisan tua menyimpan rahasia kelam. Ketika teror misterius mulai mengancam hidupnya, Gaby justru terlempar kembali ke tahun 1987. Kini, ia terjebak di masa lalu, harus mengungkap identitas dan misteri arwah...
