New School

3 2 0
                                        

" griesss " Suara keran air berbunyi.

Hari ini Feira bangun lebih pagi dari biasanya karena ingin ke kantor pos untuk mengirimkan surat kepada kakaknya di Spanyol. Setelah mandi, Feira memasak dengan porsi sedikit lebih banyak karena ia ingin membawa bekal. Hari ini Feira sangat bahagia karena ia pindah ke sekolah baru dengan hidup yang lebih mandiri.

Feira berjalan pelan menuju gerbang sekolahnya, banyak bisikan positif dan negatif dari anak-anak di sana, tetapi Feira tetap teguh tanpa goyah sedikitpun, dengan hembusan angin sepoi-sepoi, ia berjalan menuju ruang guru, di sana ia di bawa oleh kepala sekolah ke ruang kelas yang asing dan ramai. Sebelum dirinya masuk, ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan semua keberaniannya.

" 10B " gumam Feira.

Feira masuk dengan rasa campur aduk, antara senang dan takut.

" Hai Feira, saya pak Kenzo, guru kelas 10B . Silakan perkenalkan dirimu pada teman-teman! "

" Hai Semua.. saya Feira Nathalie " sapa singkat Feira dengan nada datar.

" Oh ya, kamu dud- "

" Iya " Pinta pak Kenzo terpotong oleh jawaban Feira.

Feira langsung duduk di kursi yang kosong itu, tepat di sebelah cowok tampan. Saat Feira mengeluarkan pen, tiba-tiba pen itu jatuh di bawah meja, ia pun ingin mengambil, dan saat mengangkat kepala ia melihat cowok itu memegang ujung lancip meja. Melihat itu Feira berkata,

" Terima kasih " Singkat, padat, jelas.

Cowok itu tidak menjawab, ia menatap sinis Feira, dan melirik-lirik seperti penasaran.

" Ra, aku Rega salam kenal " sapa cowok itu.

" Hai juga, maaf ya aku cuek, apa aku terlihat sombong? " Ujar Feira dengan gugup.

" Tidak kok Ra, aku tau yang kamu rasain, aku dulu juga pernah kayak kamu pas baru pindah ke sini, malahan tidak ada yang ngajak aku ngomong! " Cerita singkat Rega.

" Iya kah? Tapi kamu kuat ya, mungkin kalau kamu tidak mulai bicara duluan pasti aku juga tidak akan ngajak kamu bicara!! " Bilang Feira dengan cemberut.

" Hahaha!!! Gak kuat aku dengarnya, kamu seintrovert itu ya? Hahaha!! " Tawa keras Rega.

" Plakk " pak Kenzo memukul meja dengan keras.

" Kenapa kalian bicara saja? Kamu Feira, kerjakan soal ini!! Cepat!! " Pinta pak Kenzo dengan marah.

Tanpa berfikir lama, Feira langsung berdiri dan menuju ke papan, satu kedipan saja soal di papan sudah terjawab dan pastinya benar. Semua orang di kelas terkejut kecuali Rega. Karena Rega juga terkenal anak ber IQ tinggi di sekolah.

" Feira, kamu saya saya daftarkan olimpiade Matematika ya? " Tanya pak Kenzo secara tiba-tiba.

" Tidak lah pak, saya bosan " Jawab Feira.

Kelas tiba-tiba ricuh saat Feira mengucapkan kata bosan.

" Bosan? Apa dia sesering itu ikut olimpiade? Keren ya dia! "

" Bosan? Sombong banget sih! Gitu saja di sombongin! Semua juga bisa kali! "

Kelas penuh dengan komentar positif dan negatif dari teman-teman Feira, tetapi ia menghiraukan itu semua, matanya hanya tertuju pada Rega yang tersenyum ke arahnya. Feira membalas senyuman itu dengan senyum manisnya.

" Ya sudah Feira, saya tidak memaksa, untuk kedepannya jika kamu berkenan bisa ke ruang guru langsung ya! " Ujar pak Kenzo dengan tegas.

Feira mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Saat baru duduk, Feira dan Rega tidak sengaja berkontak mata, dan seperti itu akan bertahan lama.

" Plak!! Hei!! "

Feira dan Rega di kejutkan oleh cewek di belakang yang memukul meja dengan keras.

" Kenapa sih Vel! Kamu ganggu banget! " Bentak Rega yang marah.

" Lah kalian malah tatap-tatapan kayak gitu! Lo kira baik buat gua yang jomblo? " Tekan cewek itu.

" Udahlah jangan berantem! Kami minta maaf ya kak... Ngomong-ngomong nama kakak siapa? " Ujar Feira.

" Aku Ravella. Panggil aja Vella oke! " Jawab Vella dengan lembut.

" Iya, salam kenal. Mau istirahat sama aku? " Tanya Feira.

" Gas!! " Jawab Vella yang singkat, padat, dan jelas.

" Lah aku di tinggal nih? " Tanya Rega.

" IYA!! " Jawab kompak Feira dan Vella.

Mereka berdua pun pergi ke kantin bersama tanpa memikirkan Rega.

" Ting...Tung! Ting...Tung! "

Bel pulang berbunyi, Feira bergegas memasukkan peralatannya ke ransel dan beranjak pulang. Di perjalanan pulang, ia melihat ada penjual ice cream yang sepertinya sedang sepi pembeli. Feira yang hari itu sedang memegang uang pas-pasan tetap membeli ice cream jualan orang itu.

Di rumah Feira tidak sengaja menaruh ice creamnya di dekat buku kelompok. Tanpa ia sadari, ice cream itu mulai meleleh dan membasahi buku kelompok itu. Feira tidak sadar karena ia sedang mencuci piring di belakang. Saat kembali ke kamar, ia sangat terkejut sampai-sampai ingin menangis.

" Hah! Kok bisa sih! Kok bisa aku lupa kalau punya ice cream! Kan jadi cair! " Keluh Feira.

Feira akhirnya membersihkan bekas ice cream itu dan menulis ulang semua tulisan yang ada di buku kelompok. Karena ice cream yang cepat mencair itu membuat buku basah kuyup dan buku sobek-sobek.

Besoknya di sekolah, Feira sangat gugup karena takut di marahi teman-teman satu kelompoknya. Ia berjalan memasuki kelas dan duduk sambil melamun. Pikiran Feira kemana-mana, tapi ia tetap berusaha jujur.

" Vel! " Panggil Feira.

" Eh, iya Ra? Kenapa? Kamu ga lupa bawa bukunya kan? " Tanya Vella.

" E-Engga kok, tapi aku pindah! " Ujar Feira dengan gugup.

" Hah? Pindah? Maksudnya? " Bingung Vella.

" Ini! " Ujar Feira sambil memberikan bukunya ke Vella.

" Gapapa gini kok! Ga ada bercak, ga ada sobek! " Jelas Vella.

" Itu sudah aku salin! " Ucap Feira.

" Hah! Kamu salin semua? Padahal baru kemarin kamu tulis semua! Kamu beneran Ra? " Kejut Vella.

Feira tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan kembali ke tempat duduknya. Feira menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang.

" Kemana dia? Kok cuma ada tasnya? " Gumam Feira.

Tiba-tiba Feira terkejut karena ada yang menepuk bahunya, ia menoleh dan melihat ada Rega berdiri dengan tersenyum lebar. Tetapi Feira tidak membalas dengan senyuman, justru Feira membalas dengan wajah cemberut dan kerutan jidat.

" Kenapa Ra? Kok cemberut? " Tanya Rega.

" Ga tau " Jawab singkat Feira.

" Aku salah ya? Apa karena aku ga nyambut kamu? " Tanya Rega lagi.

" Hmm... " Marah Feira.

" Maaf ya! Mau ke taman? " Tanya Rega dengan senyum maaf.

Feira tidak menjawab, ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke taman. Rega yang tau jika Feira lagi ngambek, ia langsung mengejar dan berjalan di belakang Feira mengikuti langkahnya.

Mereka berdua duduk di taman dengan angin sepoi-sepoi dan suasana pagi yang sejuk. Feira masih cemberut dan tidak mau menoleh ke Rega. Rega terus membujuk Feira, tapi ia tetap tidak tersenyum. Rega punya jurus terakhir, ia pergi meninggalkan Feira sebentar walau itu justru membuat Feira semakin ngambek. Tapi Rega kembali membawa ice cream yang membuat Feira tersenyum lebar. Mereka pun makan ice cream bersamaan dengan menikmati pemandangan indah bersama.

Cinta Tanpa Luka Where stories live. Discover now