aspal jembatan mahakam

108 70 2
                                        

Jembatan Mahakam Ulu, 01:47 WITA. Gerimis + angin sungai.

Suara knalpot ngerobek sepi. Dua geng udah parkir hadap-hadapan.

Sisi kiri: MARTHA.
CBR merah dop di depan. Bryan Angga, 21 tahun. Helm belum dipake, rambut basah, tato "MARTHA" di leher. Belakang dia: Revan Z250, Kiano R25, Zidan GSX, GAthan sama Reza Ninja fi. Bendera merah MARTHA diiket di pagar jembatan.

Sisi kanan: TRAFEVA.
R25 putih list biru di depan. Arvis Bagastara, 22 tahun. Jaket biru, senyum ngeremehin. Belakang dia: Devan CBR putih, Arka GSX putih, Bara langit sama Kenzo Ninja putih. Anggota cewek satu: Kinara, 19 tahun, jaket biru TRAFEVA, anting salib. Di mobil Alphard belakang: Renata Bagastara, adek Arvis, jas dokter RS Kanujoso. Jaga-jaga kalau ada yang tumbang.

Bryan turun standar. Nunjuk Arvis pake helm.
"Udah siap miskin, Vis? Minggu lalu lo kalah di KM 38. Malam ini gue kubur nama TRAFEVA di Mahakam."

Arvis ketawa. Turun dari R25. "KM 38 lo hoki, Bry. Malam ini jembatan milik putih. Taruhan?"

"50 juta," Bryan ludah ke aspal. "Yang kalah bakar motor di sini. Live."

MARTHA sorak: "BAKAR! BAKAR! BAKAR!"
TRAFEVA balas: "PUTIH NGENCENGIN MERAH!"

Revan maju jadi starter. Kinara diem di belakang Arvis. Matanya liat Bryan, liat Arvis, ngitung sesuatu.

1v1. Bryan Angga vs Arvis Bagastara. CBR merah dop vs R25 putih.
Trek lurus. Start tugu, finish tiang lampu ke-7. 400 meter.

Renata dari dalem mobil buka kaca dikit. "Kak, jangan maksain. Lo baru demam."
Arvis nutup kaca. "Diem, Nat. Ini harga diri."

Revan angkat rokok.
"3..."
MARTHA geber. TRAFEVA geber.
"2..."
Jembatan geter.
"1..."

_STOOOOOP!_
Rokok jatuh.

WRRRRAAAAAAAAATTTTTTTT!!!

CBR merah Bryan lompat duluan. Torsi galak. R25 Arvis ketinggalan setengah ban.

50 meter. Bryan nunduk abis. CBR teriak.
100 meter. Arvis mulai nempel. VVA R25 kebuka.
200 meter. Sejajar. Knalpot ke knalpot. Panas.

Tiang lampu ke-4. Arvis coba masuk celah kiri.
Bryan geser stang. BRAKK. Fairing senggolan. Baret.

"ANJING LO!" Arvis teriak.

Tiang lampu ke-6. Bryan buka gas pol. CBR kayak kesetanan.
Arvis telat ngoper gigi. R25 limit.

Tiang lampu ke-7.

BRYAAAAAN MENANG. Satu ban.

MARTHA MELEDAK.
"MERAH! MERAH! MERAH!"
Revan sama Kiano bakar flare merah. Asap nutupin jembatan.

Arvis ngerem kasar sampe R25 sliding. Buka helm, banting.
"CURANG LO, BRY! LO PEPET GUE!"

Bryan puter balik, berhenti depan Arvis. Buka visor. Senyum.
"Di lintasan gak ada curang, Vis. Ada menang, ada nangis. Pilih."

Arka TRAFEVA udah mau maju. Zidan MARTHA langsung cabut gear. Mau rusuh.

Bryan angkat tangan. "WOY! Damai. Taruhan adalah taruhan."

Dia nunjuk R25 Arvis. "BAKAR."

Arvis napas babi. Mukanya merah padam. 50 juta melayang. Harga diri juga.

Devan bisik: "Bang, jangan. Motor lo mahal..."
Arvis dorong Devan. "DIEM!"

Dia nyalain korek. Lempar ke tangki R25 yang udah disiram bensin sama Kiano.

WOOOSHHHH!!!

R25 putih kebakar. Api mantulin muka semua orang. Logo TRAFEVA meleleh.

Renata keluar dari mobil. "KAK! LO GILA?!"
Arvis gak jawab. Matanya ke Bryan. Isinya bunuh.

Bryan naikin standar CBR. "Utang lunas, Vis. Minggu depan jangan bawa kaleng lagi. Bawa joki beneran."

WRRRAAAATTTT!!! MARTHA cabut. Konvoi. Merah nguasain jembatan.

Arvis ngeliatin R25-nya jadi rangka. Kepal tangannya berdarah karena ngeremes terlalu kenceng.

Kinara nyamperin. Bisik: "Bang... gue ada kenalan. Joki liar. Ninja 250 merah. Dari dulu gak pernah kalah."

Arvis noleh. Mata nyala. "Siapa?"
"Agara, Bang," Kinara pelan. "Temen SMA gue. Montir KM 13. Tapi..."

"Tapi apa?"

Kinara lirik Renata. "Tapi dia adek tirinya Bryan."

Jembatan hening. Cuma suara api.

Arvis senyum. Pelan. Terus jadi ketawa. Gila.
"Bagus... bagus banget, Kin. Cari dia. Berapa pun gue bayar. Gue mau Bryan nangis darah."

Di seberang Mahakam, Bryan lagi tos sama anak buahnya.

Dia gak tau. Kemenangan malam ini barusan beli tiket neraka buat dia sendiri.

Karena TRAFEVA udah ngincer darah dagingnya buat jadi peluru.

1 JAM KEMUDIAN. Warkop Tepian Mahakam. 03:15 WITA.

Agara duduk sendirian. Kopi dingin. HP isinya saldo 234 ribu sama notifikasi RS.

"Gar."

Agara nengok. Kinara. Temen SMA. Yang dia kira masih netral.

"Kin... kok tau gue di sini?"

Kinara duduk. Jaket TRAFEVA-nya dilepas, dilipat. Biar Agara gak curiga. "Gue denger Bunda masuk RS, Gar. Gimana?"

Agara nutup muka. "Kritis, Kin. 30 juta buat operasi besok. Gue... gue gak punya."

Kinara diem 3 detik. Pas. Buat efek. Terus nyodorin kertas.

"50 juta. Cash."

Agara baca: Joki TRAFEVA vs MARTHA. Jembatan Mahkota II. Minggu depan. Menang = 50jt._

"Apaan ini, Kin?" suara Agara bergetar.

"Jalan keluar, Gar," Kinara pelan. "Lo jadi joki Arvis. Lawannya Bryan."

Nama Bryan bikin Agara kaku. Kakak tirinya. Dendam lama.

"Lo... anggota TRAFEVA?" Agara baru sadar.

Kinara gak jawab. Cuma ngangguk kecil. Jujur tapi telat.

"Gue gak mau, Kin," Agara dorong kertas. "Bryan benci gue. Bunda benci balap. Gue benci TRAFEVA."

"Bunda lo bakal mati, Gar," Kinara nusuk tanpa jeda. "Dan Renata, adeknya Arvis, dia dokter di Kanujoso. Dia yang bakal operasi. Tapi cuma kalo lo deal."

Agara nahan napas. Renata = adek Arvis = dokter bunda.

"Bryan gak tau lo, Gar," Kinara bohong dikit. "Dia udah pulang. Ini cuma soal duit. Lo menang, bunda hidup. Lo kalah... ya masih dapet duit juga. Arvis bayar di depan."

Hening. Cuma suara Mahakam.

Agara inget muka Bryan. Inget gimana 5 tahun lalu, pas bokap bryan mati, Bryan dateng ke rumahnya cuma buat bilang: "Gara-gara nyokap lo bokap gue mati. Jangan pernah ngaku-ngaku saudara."

Tangannya ngepal.

"50 juta. Cash. Depan," bisiknya.

Kinara senyum. "Besok pagi. Di Kanujoso. Ketemu Renata. TTD surat operasi, ambil duitnya."

Agara ngambil kertas itu. Diremes.

"Deal. Tapi bilang ke Arvis. Gue balap bukan buat TRAFEVA. Gue balap buat kuburan Bryan."

Kinara diem. Dia anggota TRAFEVA. Tapi malem ini, dia ngerasa bikin monster.

Agara keluar. Hujan deras.

Dia gak tau Bryan benci dia karena ayahnya mati duluan. Bryan juga gak tau Kinara, anggota TRAFEVA, baru aja beli adek tirinya buat dibenturin di lintasan.

Minggu depan, Jembatan Mahkota II bukan lagi soal merah vs biru. Tapi darah vs darah.

AGARAStories to obsess over. Discover now