🌌 ; 00

346 45 19
                                        

✦⟢𓂃⋆。‧˚ʚ🌕ɞ˚‧。⋆𓂃⟢✦

Setiap manusia membawa dalam dirinya impian, harapan, dan keinginan yang ingin diwujudkan menjadi nyata. Orang-orang kerap berkata bahwa kesabaran adalah kunci, bahwa usaha yang tidak henti akan membuahkan hasil, dan bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati pencapaian. Namun, bagi Zhang Weiran dan Lee Yura, sepasang mate yang telah memasuki usia tiga puluh lima tahun sebagai alpha dan omega, kalimat-kalimat itu perlahan kehilangan maknanya setelah menjadi pengharapan yang terus mereka genggam selama bertahun-tahun tanpa jawaban.

Selama dua belas tahun lamanya, mereka berjuang tanpa henti. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dari satu klinik kesuburan ke program bayi tabung yang berulang kali, hingga berbagai pengobatan yang menguras tenaga, emosi, dan harapan. Tidak hanya usaha medis, mereka juga menempuh jalan spiritual, berdoa kepada Moon Goddess di setiap malam bulan purnama, memohon agar diberi kesempatan untuk memiliki keturunan dari darah dan cinta mereka sendiri.

Namun, waktu terus berjalan, dan hasil yang mereka nantikan tak kunjung hadir.

˚ʚ♡ɞ˚

Malam itu, di tengah sunyi yang menggantung di rumah mereka, Yura berdiri dengan tatapan yang lelah. Tangannya menggenggam hasil pemeriksaan terakhir yang baru saja mereka terima. Hening terasa begitu berat sebelum akhirnya Yura menggeleng pelan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.

"Maaf..." suaranya bergetar, hampir tak terdengar. "Hasilnya... masih sama."

Weiran yang berdiri di hadapannya terdiam sejenak. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya keheningan yang dalam, seolah seluruh rasa sakit itu telah ia kenal terlalu lama. Perlahan ia melangkah maju, lalu meraih Yura ke dalam pelukannya.

"Tidak apa-apa," ucap Weiran pelan, suaranya rendah namun menenangkan. "Kita coba lagi. Kita masih punya waktu."

Yura terisak di dada suaminya, menggenggam pakaian Weiran erat seolah takut kehilangan satu-satunya tempat untuk bertahan. "Aku takut... aku takut kita tidak akan pernah berhasil," bisiknya di sela tangis.

Weiran hanya mengusap punggungnya perlahan. "Selama kita bersama, kita tidak benar-benar gagal."

˚ʚ♡ɞ˚

Namun malam demi malam berlalu, dan hasilnya tetap sama. Harapan yang dulu menyala kini berubah menjadi kelelahan yang diam-diam mengendap di antara mereka. Hingga pada titik tertentu, mereka tidak lagi tahu apakah yang tersisa adalah harapan atau sekadar kebiasaan untuk bertahan.

Malam itu, bulan purnama kembali muncul di langit. Namun berbeda dari malam-malam sebelumnya, cahaya bulan kali ini terasa lebih terang, lebih hangat, seolah seluruh dunia berhenti untuk memperhatikan.

Weiran dan Yura berdiri di balkon rumah mereka, menatap langit yang bersinar perak keemasan.

Yura menarik napas panjang, suaranya lirih. "Apakah... kami terlalu banyak meminta?"

Weiran menatap bulan itu lama sebelum menjawab pelan, "kami hanya meminta satu hal yang membuat kami merasa lengkap."

Air mata Yura kembali jatuh. Ia menggenggam kedua tangannya, menatap bulan seolah sedang berbicara langsung kepada sesuatu yang tak terlihat.

"Moon Goddess..." suaranya bergetar. "Kami mohon... berikan kami kesempatan sekali saja. Kami tidak meminta kesempurnaan, hanya sebuah kehidupan kecil yang bisa kami cintai."

Moon Bound | BINHAOStories to obsess over. Discover now